Warid Yang Terputus, Karena Engkau Berhenti Berdzikir

0

Termasuk adab thoriqoh adalah istiqomah di dalam beramal. Nabi Muhammad SAW bersabda, “amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit”.[1] Para ahlullah (kekasih Allah) berkata, “apabila wirid terputus maka warid (cahaya hati) juga akan terputus”. Warid adalah sesuatu yang membuat seseorang dapat meningkatkan maqom. Pernyataan tersebut hampir sama dengan pernyataan ‘yang menoleh tidak akan sampai’. Ia akan berhenti berjalan hingga ia tidak mungkin sampai kepada Allah SWT.

Warid terdiri atas asror (rahasia) dan anwar (cahaya). Asror dan anwar menjadikan seorang murid semakin beradab dan bersopan santun kepada Allah SWT. Dengan demikian diharapkan ia akan sampai kepada Allah SWT. Seseorang akan menjadi terputus waridnya apabila ia tidak melanggengkan dzikirnya.

Orang yang melakukan wirid ibarat orang yang mendirikan suatu bangunan. Bangunan itu akan dipersiapkan untuk menampung anwar dan asror. Bagaimana cara kita membangun?, para sufi menganjurkan untuk banyak berfikir mendalami asma’ul husna sampai kita menemukan 7 dasar. Kita telah membahas 7 dasar ini sebelumnya. 7 dasar ini adalah tujuh pondasi yang di atasnya akan kita bangun tiang-tiang, pintu, dan atap. Lalu datanglah syekh Abdul Qadir Jaelani dan berkata, “bangungan ini belum sempurna, kita masih membutuhkan dinding-dinding untuk menyempurnakannya”. Oleh karena itu, beliau menambahkan 6 asma’ul husna lagi.

Dzikir pertama yang harus kita baca adalah laa ila ha illallah. Kemudian dzikir ‘ya Allah’, lalu dzikir ‘ya hu’. Apabila kita ingin mengetahui penjelasan lebih lanjut maka bacalah kitab yang berjudul al-hidayah, karangan guru kami. Temukan kitab itu kemudian bacalah. Lakukanlah apa yang dianjurkan oleh kitab itu. Ini adalah suatu anugerah yang besar, sebab guru kami mau memberi ijazah ‘ammah (izin umum).

Ijazah ‘ammah adalah izin resmi dari seorang guru kepada siapa saja yang mau melakukan amalan dan dzikir yang beliau tulis di bukunya. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai pegangan untuk berjalan menuju Allah SWT. Ini adalah kesempatan yang jarang terjadi. Seorang syekh tidak mungkin memberikan ijazah ‘ammah melainkan adanya taufiq dan izin dari Allah SWT.

Seorang syekh tidak mungkin mendapatkan izin yang bersumber dari hawa nafsunya karena ia sudah mampu melepaskan diri dari hawa nafsu. Bersegeralah untuk membaca kitab tersebut dan mulailah. Allah SWT akan membuka hati siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Tujuan thoriqoh bukanlah untuk menjadikan seseorang merasa lebih baik dari orang lain. Semuanya harus dilakukan semata-mata beribadah dan menyembah kepada Allah SWT.

Bilangan saat berdzikir hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan kondisi kita. Kita tidak boleh terlalu cepat di dalam membaca dzikir hanya karena ingin mendapatkan jumlah yang banyak. Tindakan seperti ini malah akan mengurangi nilai ibadah. Kita juga dilarang untuk berhenti berdzikir. Jika dzikir kita berhenti, maka warid yang datang ke hati juga akan berhenti.

Terkadang kita merasa berat dan malas untuk berdzikir, tetapi terkadang kita merasa ringan dan mudah. Dzikir yang kita lakukan bukan bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi atau ketenangan jiwa. Tujuan kita semata-mata hanya untuk mendapatkan ridlo Allah SWT.

Syekh Ali Jum’ah, At-Tahariq ila Allah

 

[1]               Hadits riwayat Bukhori dan Muslim

Share.

Leave A Reply