Wali Allah Yang Masyhur, Al-Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Al-Habsyi (Muallif Kitab Maulid Simthudduror)

0

Wali Allah Yang Masyhur, Al-Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Al-Habsyi (Muallif Kitab Maulid Simthudduror). Dalam sebuah kesempatan Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi Radhiallahu ‘anhu bercerita : Seorang Darwisy shalat sebagai makmumku, selepas shalat aku berjalan keluar. Ia mengikutiku dan berkata, “Berhentilah!”, “Kau siapa?” tanyaku. “Aku seorang Darwisy, aku sengaja menemuimu untuk mengambil bekal dengan memandangmu, setelah itu aku akan pergi.” Darwisy itu memandangku, lalu meminta izin untuk pergi. Ia pergi tanpa meminta bekal apapun. Ia hanya memandangku.”

Sumber : Habib Umar bin Muhammmad Maulakheila – Jawahir Al-Anfas Fi Ma Yurdhi Rabb An-Nas, I

-Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi Radhiallahu ‘anhu bercerita : Empat orang dari kota Harar datang menemuiku. Mereka masih keturunan Bani Hasyim. Setelah berjumpa denganku mereka mencium tanganku dan berkata, “Segala puji dan syukur bagi Allah yang telah mengantar kami kemari. Sekarang jika maut menjemput, kami telah siap. Wahai Tuanku (sayyidi), kami meninggalkan negeri kami tidak lain karena sangat rindu kepadamu.”

“Apakah kalian mengenalku? Bukankah kota Harar sangat jauh dari sini?” “Demi Allah, anak-anak kami tidak bersumpah kecuali dengan Habib Ali Al-Habsyi. Bagaimana tidak wahai Habib, namamu sangat dikenal di negeri kami.” Mereka kemudian tinggal di tempat kami dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Sumber : Habib Umar bin Muhammmad Maulakheila – Jawahir Al-Anfas Fi Ma Yurdhi Rabb An-Nas, I

– Seseorang bercerita : Tahun 1329 H aku berziarah ke Madinah bersama ayahku. Suatu hari kami duduk di masjid, di depan kubur Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam. Salah seorang penjaga kubur datang lalu duduk di hadapan ayahku. “Apakah kalian dari Sadah?” tanya dia, “Ya,” jawab ayahku. “Apakah kalian dari Hadramaut?”, “Benar.”, “Apakah kalian kenal Sayyid Ali Al-Habsyi?”, “Ya, kota kami dekat dengan kotanya.”

“Demi Allah, apakah kalian mengenalnya?” ulangnya sambil mencucurkan air mata. “Ya,” jawab ayahku. “Tolong, jika kalian berjumpa dengannya sampaikan salamku dan ciumkan tangannya untukku, katakan kepadanya bahwa pembantunya, penjaga kubur Nabi Shollallahu alaihi wa sallam, meminta doa darinya.”, “Insya Allah, kami akan menunaikan amanatmu,” kata ayahku. “Namun, ceritakanlah bagaimana kau mengenal Sayyidi Ali Al-Habsyi ini?”

“Demi Allah, wahai Tuanku, sesungguhnya setiap hari aku melihatnya di kubur kakeknya Al-Musthofa Shollallahu alaihi wa sallam, namun aku tidak mampu mendekatinya dalam keadaan itu. Bukankan ia memiliki sifat seperti ini …, seperti ini …,” ia mulai menyifatkan Habib Ali Al-Habsyi dengan tepat.

Setelah kami kembali ke Hadramaut, ayahku bertemu dengan Sayyidi Ali Al-Habsyi di kota Tarim, di majelis yang dihadiri Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas. Ayahku belum sempat bercerita, Habib Ali Al-Habsyi bertanya kepada ayahku, “Apakah kau bertemu dengan temanku, si pemjaga kubur Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa sallam?”

“Ya, ia mengucapkan salam kepadamu dan meminta doa.” Ayahku lalu menceritakan apa yang kami alami. Habib Ali Al-Habsyi tersenyum. Ketika melihat hadirin terheran-heran dan menganggap kejadian ini aneh, Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas berkata, “Kalian heran dengan peristiwa ini? Ini kecil bagi saudaraku Ali, semua ini mudah.”

Ucapan Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas : semua ini mudah, menunjukkan bahwa beliau mengetahui kebesaran maqam Habib Ali Al-Habsyi, juga karena beliau mengalami hal serupa dan kejadian lain yang lebih besar.

Sumber : Habib Husein bin Abdullah Al-Habsyi – Ta’rif Adz-Dzurriyyat Al-Habasyiah

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply