Tinggalkan Sikap Melaknat Di Bulan Ramadhan

0

Tinggalkan Sikap Melaknat Di Bulan Ramadhan. Tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dan kemaksiatan. Setiap manusia pasti pernah mengelami tergelincir dalam lembah hitam. Oleh karena itu, ketika kita menyaksikan saudara kita yang sedang berada dalam kenistaan, janganlah kita menambah panjangnya masa nistanya dengan terus menistakannya. Apakah engkau pernah melihat orang yang menjadi sadar jika ia terus dinistakan oleh orang-orang?, Justru ia akan akan semakin tenggelam dalam kemaksiatan yang tiada akhir.

Setiap muslim dibebani oleh Allah untuk menjadi duru dakwah bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setelah ia mendakwahi dirinya dalam waktu yang lama dan telah menjadi baik, maka ia harus menularkan kebaikan-kebaikannya kepada teman-teman sekitarnya. Dan untuk menularkan kebaikan ini tidaklah mudah. Ia harus memiliki metode-metode dan cara-cara yang lembut untuk menyedarkan mereka. Ia juga harus tahu bahwa tindakan ini memerlukan proses yang tidak sebentar. Oleh karena itu ia harus mengisi dirinya dengan energi kesabaran yang besar.

Orang yang bersabar untuk terus-menerus menasehati teman-temannya yang belum bertaubat dengan kelembutan, pada akhirnya akan membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit mereka menjadi sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan ia telah berada di jalan yang sesat. Dan apabila ia masih berada di jalan yang sesat sementara umurnya telah habis, maka ia akan mati dalam keadaan Su’ul Khatimah (akhir yang buruk). Dan jika ia mati dalam keadaan Su’ul Khaimah maka ia harus berhadapan dengan sakitnya siksa di dalam kubur dan panasnya api neraka. Ia pun akan tersadar lalu bertaubat dan mengisi hari-harinya dengan kebaikan dan amal-amal ibadah.

Seharusnya umat muslim mencontoh cara-cara Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Dialah suri tauladan yang agung. Jika kita benar-benar mencintainya maka kita akan tertarik untuk mempelajari riwayat hidupnya. Dan jika kita telah mengetahui perjalanan hidupnya dan perjuangannya maka kita telah mengerti. Dan setelah kita mengerti maka kita telah memiliki pijakan dalam melangkah, sehingga insyaAllah kita akan berhasil.

Orang yang belum mempelajari tentang kehidupan nabi Muhammad dengan baik, lalu tergesa-gesa untuk menjadi juru dakwah dengan ilmu seadanya tidak akan mendapatkan keberhasilan. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Yang seharusnya ia menjadi sebab seseorang untuk mendapatkan hidayah, malah menjadi sebab tersesatnya seseorang dari jalan yang lurus. Terhadap orang yang banyak melakukan maksiat, tiada henti-hentinya mulutnya mengumpat dan melaknat. Sehingga hal ini tidak akan menarik hati para ahli maksiat, sehingga mereka akan terus tenggelam dalam kemaksiatannya.

Ia juga kurang memiliki jiwa toleran yang luas. Sehingga ketika ia berhadapan dengan orang lain yang memiliki paham yang berbeda dengannya, ia kerap menuduhkan dengan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Oleh karena itu ia tidak bisa bekerja sama dengan juru dakwah yang lain. Jika ia tidak bisa bekerja sama, maka ia akan sulit mencapai kesuksesan. Justru yang dilakukannya tidak membuat hati para pendengar menjadi nyaman dan tentram, tetapi ia akan semakin membuat bingung masyarakat dengan pemikiran-pemikirannya. Inilah pemikiran yang di dalamnya terdapat fanatik, kebencian, merasa paling benar, merasa paling suci, dan merasa paling menjadi pengikut sunnah nabi.

Mari sama-sama merenungkan kalam hikmah di bawah ini,

 

[Jangan seperti orang-orang yang ketika keburukan menimpa seseorang, mereka akan mengingat-ingat kesalahan dan dosa-dosanya. Tapi diamlah lalu bantulah, maka engkau jadi malaikatnya]

 

Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada badai ada tenang, ada manis ada pahit, ada senang ada sedih, ada nikmat ada bencana, dst. Siapa pun yang tinggal di dunia ini pasti pernah mengalami kedua hal tersebut. Jika setiap kita telah mengetahui hal tersebut, hendaknya kita tidak berkeluh kesah dan marah-marah jika kesusahan sedang menghampiri kita.

Apabila kita mengalami kesusahan, maka orang lain pun juga mengalaminya. Seringkali Allah mentakdirkan bencana pada seseorang, tetapi Allah mentakdirkan nikmat bagi tetangga dan saudaranya. Hal itu agar orang yang sedang mendapatkan kelapangan hidup bisa menolong dan membantu orang yang sedang ditimpa kesempitan. Barangsiapa yang mau menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk menolong sesamanya, maka Allah akan semakin menambah nikmatnya. Barangsiapa yang membantu saudaranya semasa di dunia, maka Allah pasti akan membantunya ketika menghadapi dahsyatnya kesusahan di hari pengadilan.

Dan sebaliknya, ketika musibah yang dialaminya telah berganti dengan rezeki, dan orang yang dahulu mendapatkan nikmat telah berganti mendapat musibah, maka ia juga harus bergantian untuk menolongnya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mau membalas budi baik saudaranya. Dan jika Allah telah menyukai orang itu, maka Allah akan meridhainya. Dan jika Ia telah meridhainya, maka ia akan mengampuni dosa-dosanya. Betapa banyak orang yang kurang sempurna shalat dan puasanya, tetapi karena ia memiliki jiwa yang baik dan suka menolong kepada saudaranya yang kesusahan, Allah pun menyempurnakan ibadahnya, dan akhirnya ia dimasukkan ke dalam surga-Nya. Subhanallah.

Jika sesama manusia saja kita dianjurkan untuk saling membantu, maka kepada sesama muslim kita lebih diharuskan untuk saling bekerja sama. Sesama muslim harus bersatu. Mereka tidak boleh bercerai berai dan saling bermusuhan. Apabila mereka terus bertengkar, maka kekuatannya akan melemah meskipun jumlahnya sangat banyak, dan musuh akan dengan mudah mengalahkannya. Itulah yang dialami oleh umat muslim saat ini.

Karena kecintaan kepada Allah telah berpindah kepada harta, karena kecintaan kepada Rasulullah telah berpindah pada kekuasaan, karena cinta kepada Al-Qur’an telah berpindah pada dunia, orang Islam tega menzalimi saudaranya sendiri. Hatinya telah keruh dengan bebagai macam kotoran, sehingga ia tidak lagi menatap dengan jernih atas segala persoalan. Syetan dan nafsu telah menutupi mata batinnya, sehingga ia tidak bisa melihat kebenaran. Api dendam dan perselisihan yang ada di hati orang-orang Islam semakin besar dan berkobar-kobar, hingga kehormatan dan nyawa seperti tiada harganya.

Telah hilang rasa cinta kepada sesama manusia, karena telah hilang cintanya kepada Allah. Telah hilang rasa hormatnya pada umat Islam, karena telah hilang rasa hormatnya kepada Rasulllah Saw. Telah hilang rasa rindunya pada perdamaiaan, karena telah hilang rasa rindunya pada akherat. Telah hilang rasa sayangnya pada persatuan, karena telah hilang rasa sayangnya pada Al-Qur’an. Telah hilang rasa membutuhkan pada cahaya, karena telah hilang rasa butuhnya pada ulama dan orang-orang sheleh. Jika Allah tidak memberikan hidayah-Nya, maka selamanya mereka akan terus tenggelam dalam permusuhan yang mereka anggap sebagai jihad, yang sebenarnya adalah jihad palsu.

Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran: [3]: 103)

 

Allah berfirman,

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. (QS. At-Taubah [9]: 71)

 

Wallahu A’lam

 

 

Share.

Leave A Reply