Tanda Matinya Hati (Hikmah Ke-Empatpuluh Delapan)

0

Tanda matinya hati seseorang adalah ia tidak merasa bersedih atas suatu ketaatan yang ditinggalkannya, dan tidak menyesal atas kemaksiatan yang telah dilakukannya

مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ وَتَرْكُ النَّدْمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلاَتِ

Apabila engkau tidak merasa bersedih atas suatu amal ibadah yang tidak engkau kerjakan, dan engkau tidak merasa menyesal atas kemaksiatan yang telah engkau lakukan, itu adalah pertanda matinya hatimu.

Dengan kata lain, jika engkau tidak merasa senang dengan ketaatanmu dan tidak bersedih dengan kemaksiatanmu, maka engkau adalah orang berkhianat. Di dalam hadits dikatakan, “barangsiapa yang kebaikannya membuatnya senang dan keburukannya membuatnya bersedih, maka ia termasuk orang mukmin”.

Sesungguhnya adanya amal baik adalah tanda ridlonya Allah dan ridlonya orang yang menghendaki kebahagiaan dan ketenangan. Sedangkan amal yang buruk adalah tanda marah-Nya, dan marah-Nya menghendaki rasa sedih. Barangsiapa yang telah diridloi Allah, maka ia akan melakukan amal perbuatan yang baik. Sedangkan orang yang dimurkai-Nya, akan dibiarkan dalam ketiadagunaan. Kami memohon agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kaum pengikut tarekat. Amiin.

Syekh Abdul Majid, Syarhu Kitabil Hikam

Share.

Leave A Reply