Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah Terhadap Paham Mu’tazilah Dan Mujassimah

0

Sikap Ahlussunnah Wal Jama’ah Terhadap Paham Mu’tazilah Dan Mujassimah. Ulama kholaf (pada masa akhir) dari golongan ahlussunnah wal jama’ah terpaksa menjelaskan permasalahan tauhid untuk menghilangkan kerancuan-kerancuan yang dimunculkan oleh beberapa kelompok Islam yang salah dalam menjelaskan maknanya.

Golonngan mu’tazilah berpendapat bahwa menetapkan sifat-sifat bagi Allah menyebabkan banyaknya Dzat Allah, padahal Allah itu satu. Oleh karena itu mereka berpendapat untuk meniadakan sifat-sifat bagi Allah SWT dan mengatakan bahwa sifat Allah itu sama dengan Dzat Allah itu sendiri.

Adapun kelompok khasyawiyyah dan karomiyyah memunculkan kerancuan di dalam pendapat mereka yang menetapkan sifat-sifat makhluk bagi Dzat Allah SWT. Mereka menetapkan beberapa sifat yang diidhofahkan (disematkan) pada Allah SWT di dalam nash al-Qur’an maupun al-Hadits dengan metode pemahaman al-haqiqoh al-lughowiyyah (hakekat makna asli secara bahasa) yang menghendaki kebendaan Dzat Allah. Bahkan mereka mengatakan dengan gamblang bahwa Allah itu berbadan seperti makhluk.

Sementara kelompok ahlussunnah wal jama’ah berada pada posisi tengah-tengah diantara kelompok mu’tazilah yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah, dengan kelompok khasyawiyyah yang berpendapat bahwa Allah itu memiliki sifat-sifat seperti makhluk.

Syekh Abu Ja’far at-Thohawi mengatakan, “Allah SWT memiliki sifat-sifat yang esa/tunggal. Sifat-sifat-Nya berbeda dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Maha suci Allah dari sifat keterbatasan yang memiliki arah, bagian-bagian, dan sifat-sifat rendah lainnya”.

Imam al-Ghozali memiliki pendapat yang sangat bagus ketika menjelaskan mengenai manhaj (metode) yang dipakai oleh para ulama ahlussunnah wal jama’ah di dalam menjelaskan permasalahan aqidah.

Beliau mengatakan, “lihatlah cara dan metode yang menggabungkan antara agama dan akal. Sesungguhnya tidak ada pertentangan antara agama dan akal yang sehat. Orang-orang yang membiarkan dirinya melakukan taqlid buta dan mengikuti dzohir syareat agama adalah orang-orang yang memiliki akal yang lemah dan mata hati yang sakit.

Sebaliknya, orang yang terlalu mendalami filsafat lalu mengikuti pemikiran mu’tazilah dalam mendewakan akalnya, bahkan sampai menabrak batasan-batasan syareat, adalah orang-orang yang tertutup hatinya. Sesungguhnya kedua kelompok ini jauh dari kehati-hatian”.

Yang harus diperhatikan oleh setiap muslim adalah ia harus berpegang pada pondasi aqidah, yaitu berada di tengah-tengah dan berpegang teguh pada jalan yang lurus. Orang yang hanya berpegang kepada syareat tanpa akal, atau yang hanya berpegang pada akal dan meninggalkan syareat akan mengalami penyimpangan dari jalan lurus.

Bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan petunjuk jika ia hanya menggunakan akalnya saja dan tidak mencari petunjuk lain di dalam cahaya syareat. Apakah ia tidak mengetahui bahwa kemampuan akal untuk mencari kebenaran amatlah terbatas.

Orang yang tidak bisa menggabungkan antara syareat dan akal akan mengalami penyimbangan di dalam pemikiran dan prilaku mereka.

Perumpamaan syareat/al-Qur’an adalah matahari, dan perumpamaan akal adalah mata yang sehat. Seseorang yang hanya menggunakan al-Qur’an dan tidak menggunakan akalnya sama seperti orang yang menutup matanya.

Meskipun matahari terang bersinar ia tidak akan melihat sesuatu. Sebaliknya, seorang muslim yang hanya menggunakan akalnya sama dengan orang yang membuka matanya di malam hari. Daya penglihatannya tidak akan menangkap sesuatu. Dan kelompok yang dapat menggabungkan antara dua metode al-Qur’an dan akal adalah kelompok ahlussunnah wal jama’ah.

Beruntunglah mereka yang mengikuti pemikiran dan jalan hidup mereka. Semoga Allah SWT senantiasa mengumpulkanmu bersama mereka di hari kiamat kelak. (al-iqtishod fil i’tiqood, Imam al-Ghozali).

Imam al-Juwaini rohimahullah mengatakan, “setiap sifat yang mensifati makhluk membutuhkan sesuatu (baca: pengkhusus) yang menghendaki adanya sifat itu di dalam makhluk. Dan adanya pengkhusus mustahil bagi Dzat Allah SWT.

Karena apabila Allah membutuhkan pengkhusus, berarti Allah memiliki sifat yang serupa dengan makhluk. Maha suci Allah atas semua itu. Allah SWT tidak membutuhkan makhluk untuk menetapkan sifat-sifat-Nya”. (al-’aqidah an-nidlomiyah fil arkanil islam).

Beliau juga mengatakan bahwa barangsiapa yang ingin mencari Dzat Allah dan ia menemukan Allah di dalam pikirannya maka ia termasuk orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Dan barangsiapa yang mencari Dzat Allah tetapi tidak menemukan-Nya, maka ia telah meniadakan Allah dan sifat-sifat-Nya.

Dan barangsiapa yang menemukan Allah lalu mengatakan bahwa Allah itu ada dan mengakui akan kelemahan kemampuan akal untuk mengetahui hakekat Allah, maka ia adalah orang yang benar dalam mengesakan Allah. (al-aqidah an-nidlomiyah fil arkan al-islamiah).

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply