Siapa Pengarang Maulid Diba’i

0

Siapa Pengarang Maulid Diba’i. Hampir di setiap kampung di Indonesia pasti mengadakan pembacaan Kitab Maulid Ad-Diba’i pada setiap minggunya. Bahkan ada yang menyelenggarakan sampai 3 kali dalam seminggu. Hal ini tidaklah sebuah kebetulan. Ini adalah sebuah warisan yang besar dan kenikmatan yang agung yang ditinggalkan oleh para ulama.

Apa yang lebih utama dari Rasulullah SAW, sedangkan kitab itu berisi segala sesuatu tentang nabi Muhammad SAW. Dan apabila nama Muhammad disebut-sebut di suatu tempat ,maka hujan rahmat pasti akan turun deras di tempat itu dan akan membanjiri sekelilingnya.

Beliau adalah seorang ahli hadits yang bernama Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusufbin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i.

dilahirkan pada 4 Muharram tahun 866 H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944 H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat Hafidz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya.

Setiap hari beliau akan mengajar hadits dari masjid ke masjid.Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir binHusain al-Ahdal dan banyak lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang.Beliau dilahirkan di kota Zabid (Zabid (salah satu kota di Yaman Utara) pada sore hari Kamis 4 Muharram 866 H.) Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW., tepatnya pada tahun ke 8 Hijriyah.

Dimana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariah (diantaranya adalah Abu Musa Al-Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al-Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya ataskedatangan mereka NabiMuhammad SAW. berdoa memohon semoga AllahSWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al-Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi,hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan diZabid masih bisa dirasakan.

Hal ini karenagenerasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan islam.Masa Kecil Ibn Diba`IBeliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syekh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu, hal itu dikarenakan sewaktu beliau lahir, ayahnya sedang bepergian, setelah beberapa tahun kemudian baru terdengar kabar, bahwa ayahnya meninggal didaratan India. Dengan bimbingan sang kakek dan para ulama kota Zabid ad-Diba’i tumbuh dewasa serta dibekali berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Diantara ilmu yang dipelajari beliau adalah: ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari Ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih.Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.

Sepulang dari MakkahIbn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al-Muwattho` dibawah bimbingan syekh Zainuddin Ahmad bin Ahmad As-Syarjiy. Ditengah-tengah sibuknya belajar hadis, Ibn Diba’ menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT.Pelajaran penting dari ad-Diba’iIbn Diba’ mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al-fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al-fatihah.

Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara “ wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah” lalu orang –orang bertanya “kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” kemudian dijawab, karena mereka sering membaca surat Al-fatihah.Karya ad-diba’iIbn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik dibidang hadits ataupun sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i,Diantara buah karyanya yang lain : Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul,Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair.

Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab.Ibn Diba’i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat tanggal 26 Rojab 944 H.
Dan berikut adalah makam dari sayyidina abdurrahman ad diba’i tersebut di kota zabid,yaman.

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply