Tata Cara Melaksanakan Sholat Jum’at

0

Shalat jum’at diwajibkan pada malam Isra’ sewaktu Rasulullah SAW masih berada di Mekah. Namun ibadah ini belum bisa dilaksanakan, karena jumlah umat Islam waktu itu masih sedikit dan dakwah Islamiyah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Syarat-syarat pelaksanaan shalat Jum’at

Dalam shalat jum’at, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan melaksanakan shalat jum’at, dan ada juga persyaratan yang terkait dengan keabsahan shalat jum’at.

Syarat-syarat bagi pelaku shalat Jum’at:

  1. Syarat wajib

Yaitu ketentuan yang harus terpenuhi oleh orang yang akan melaksanakan shalat jum’at. Jumlahnya ada enam:

  • Islam
  • Mukalaf (baligh, berakal)
  • Laki-laki
  • Merdeka
  • Muqim
  • Tidak memiliki uzur jama’ah
  1. Syarat sah

Yaitu ketentuan yag harus dipenuhi agar shalat jum’at yang dilaksanakan oleh orang tersebut sah. Dalam hal ini, syarat tersebut adalah islam dan mukalaf. Jadi, perempuan maupun musafir tetap sah shalat jum’atnya.

  1. Syarat In’iqaad (legalitas)

Yaitu ketentuan yang harus dipenuhi oleh seseorang agar shalat jum’at didaerahnya dinyatakan sah dan legal. Jumlahnya ada enam:

  • Islam
  • Mukalaf
  • Laki-laki
  • Merdeka
  • Mustauthin (berdomisili di daerah pelaksanan shalat jum’at). Yang dimaksud adalah orang yang tidak berpindah ke tempat lain dalam masa tertentu. Sehingga, mengecualikan orang yang menetap di suatu daerah untuk keperluan tertentu, yang suatu saat ia akan kembali ke daerah aslinya seperti pedagang, pegawai, dll.

Syarat-syarat sah penyelenggaran shalat jum’at

Agar penyelenggaraan shalat jum’at dihukumi sah, harus memenuhi enam syarat berikut:

  1. Waktu Dzuhur

Shalat jum’at harus dilaksanakan pada waktu dzuhur, oleh karena itu apabila waktu dzuhur telah habis dan telah masuk waktu ashar maka harus menqadhanya dengan shalat dzuhur empat rekaat.

  1. Daarul Iqaamah (daerah domisili)

Shalat jum’at harus dilaksanakan di tempat yang sudah berstatus sebagai daerah tempat domisili / pemukiman para pelaksana shalat jum’at seperti desa, kota, dll, meskipun penyelenggaraannya tidak di masjid.

  1. Tidak didahului atau bersamaan dengan jum’atan lain di daerahnya.

Dalam aturan yang semestinya, jum’atan harus diselenggrakan pada satu tempat dalam satu daerah, baik daerah yang kecil maupun daerah yang besar. Hal ini karena bertujuan untuk mensyiarkan jum’atan di daerah tersebut, disamping itu juga untuk mempererat persatuan dan persaudaraan antar umat Islam

Namun apabila dirasa sulit mengumpulkan penduduk dalam satu tempat, maka boleh menyelenggarakan jum’atan lebih dari satu tempat, meskipun masih dalam batas wilayah satu daerah, karena hal itu tergolong uzur

Faktor yang menjadikan uzur dalam hal ini, dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:

  • Daerah itu terlalu luas
  • Terlalu banyak jumlah penduduknya
  • Terjadi permusuhan antar beberapa golongan di daerah tersebut

Apabila terdapat uzur di atas, maka shalat jum’at yang diselenggrakan di beberapa tempat hukumnya sah. Sebaliknya, apabila tidak terdapat uzur di atas maka yang dihukumi sah adalah shalat jum’at yang diselenggrakan terlebih dahulu. Sedangkan shalat jum’at yang didahului oleh jum’atan lainnya dihukumi tidak sah dan wajib mengulanginya dengan shalat dzuhur.

Terdapat 40 orang ahli jumatan

40 orang tersebut harus terdiri dari orang yang sudah memenuhi syarat in’iqad jum’at (laki-laki, mukalaf, merdeka, mustauthiin). Mulai dari dimulainya khutbah sampai berakhirnya shalat jum’at.

  1. Berjamaah

Syarat berjama’ah di sini minimal satu rekaat sempurna. Dalam arti, makmum yang tertinggal rekaat pertama dan bisa menyelesaikan rekaat kedua secara sempurna dengan berjamaah, masih dihukumi sah. Setelah imam salam, dia hanya menambah satu rekaat karena masih dianggap shalat jum’at.

Berbeda apabila makmum menjumpai imam setelah selesai ruku’ pada rekaat yang kedua, maka dia harus mengikuti gerakan imam, dan setelah imam salam ia harus menambah empat rekaat. Hal ini karena ia dianggap telah fawt (kehilangan) shalat jum’atnya, sehingga yang dilaksanakan pada dasarnya adalah shalat dzuhur dengan empat rekaat.

  1. Sebelum shalat jum’at diselenggarakan khutbah terlebih dahulu.

Lajnah Ta’lif wan nashr PP Al-Falah, Ploso Kediri, fiqih ibadah

Share.

Leave A Reply