Seorang Ayah Menyuruh Anaknya Untuk Menthalaq (Menceraikan) Istrinya, Boleh Atau Tidak?

0

Dengan adanya pernikahan, si laki-laki akan dipanggil ‘suami’ dan si perempuan dinamakan ‘istri’. Adanya anak dan keturunan pada nantinya akan menyebabkan adanya istilah ayah dan ibu.

Salah satu problematika yang terkadang terjadi dalam sebuah keluarga adalah adanya pertentangan antara perintah Allah untuk melanggengkan hubungan pernikahan dan perintah orang tua kepada anaknya untuk menceraikan istrinya.

Pada masa nabi Muhammad SAW hal ini pernah terjadi. Sahabat Umar bin Khottob pernah memeritahkan putranya agar ia menceraikan istrinya. Dan para ulama ahli fiqih yang hidup di zaman setelahnya meneliti hukum permasalahan ini guna menjawab pertanyaan umat apabila terjadi kejadian serupa. Sebenarnya sejauh manakah batasan ketaatan seorang anak kepada kedua orang tuanya?.

Di dalam kitab-kitab fiqih kita akan menemukan pendapat para ulama yang menyatakan agar si anak tidak boleh mentaati ayahnya untuk menceraikan istrinya, kecuali apabila si ayah termasuk orang yang soleh dan bertaqwa -dengan tanpa menjelaskan apakah hukumnya sunnah atau tidak-.

Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataaan imam Ahmad yang mengatakan bolehnya menceraikan istri karena perintah si ayah harus dengan syarat bahwa ia adalah orang yang soleh dan bertaqwa. (diambil dari kitab al-fatawa al-kubro).

Ibnu Taimiyyah juga mengatakan bahwa haram hukumnya bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya atas perintah dari orang tuanya, apalagi ia memiliki banyak anak. Dalam hal ini si anak tidak boleh mentaati orang tuanya, akan tetapi ia wajib berbuat baik dan berbakti kepada mereka. Sesungguhnya mentaati orang tua untuk melaksanakan perceraian tidak termasuk bagian dari ketaatan kepada orang tua (diambil dari kitab almajmu’ fatawa).

Di dalam kitab al-furu’, Ibnu Muflih berpendapat bahwa seorang anak tidak wajib mengikuti saran dan perintah orang tuanya agar ia menceraikan istrinya, dan guru-guru kami juga melarangnya. Di dalam kitab al-adab as-syar’iyyah, Ibnu Muflih berkata, “Syekh Taqiyudin rohimahulloh berkata, ‘orang tua tidak boleh memaksa anaknya untuk menikah dengan perempuan yang tidak ia inginkah.

Dan apabila si anak menolak perintah oang tuanya, maka tindakan itu tidak termasuk kedurhakaan anak kepada orang tua. Setiap orang tidak bisa memaksa orang lain untuk menyantap makanan yang tidak ia suka, begitu pula dengan menikah.

Setiap orang memiliki hak untuk menikah dengan orang yang ia suka. Pahitnya menyantap makanan yang tidak disukai itu sebentar. Tetapi pahitnya menikah dengan orang yang tidak disukai itu bertahun-tahun.

Imam al-Buhaiti berpendapat bahwa tidak wajib bagi seorang anak untuk mentaati kedua orang tuanya dalam hal menceraikan istrinya. Di dalam kitab daqooiq ulinnuha beliau mengatakan bahwa seorang anak tidak wajib mentaati orang tuanya meskipun kedua orang tuanya adalah seorang yang adil, karena hal itu bukan termasuk bagian dari ketaatan seorang anak kepada orang tuanya.

Di dalam kitab ghodzazul albab di sebutkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Imam Safarini, ia berkata ‘ayahku memerintahkanku agar aku menceraikan istriku’, beliau berkata, “jangan engkau ceraikan istrimu!”, orang itu berkata, “bukankah Umar juga memerintahkan putranya untuk menceraikan istrinya?”, lalu beliau menjawab, “meskipun ayahmu itu memiliki derajat ketaqwaan seperti Umar”.

Ibnu Atfayyis al-Ibadhi dalam kitab syarkhun naikli wa syifa’ul ‘alil mengatakan bahwa apabila seseorang bernadzar untuk menceraikan istrinya atau diminta oleh ayahnya untuk menceraikan istrinya, maka ia tidak wajib mentaatinya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang anak tidak boleh mentaati perintah kedua orang tuanya untuk menceraikan istrinya. Dan ketidaktaatan seorang anak kepadanya dalam hal ini bukanlah termasuk bentuk kedurhakaan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

Baca Juga : Allah Adalah Satu-Satunya Tujuan Hidup

Share.

Leave A Reply