Sembahlah Allah, Jangan Menyembah Ibadah

0

Salah satu pondasi pokok yang sering dikatakan oleh para sufi dalam Thariiqah adalah multafitun fi thoriqillah laa yashil (orang menyimpang dari jalan Allah tidak akan sampai). Multafitun berasal dari kata iltifaat yang berarti; sibuk dengan segala sesuatu selain Allah.

Jika tersingkap beberapa asraar dan anwaar di tengah perjalanan, kita harus tetap meneruskan jalan kita menuju Allah SWT. Para wali Allah sering mengatakan, ‘apabila tersingkap bagiku rahasia atau cahaya, aku memohon kepada Allah agar menghilangkannya, karena aku tidak menginginkannya’.

Kasyf (ketersingkapan rahasia) banyak terjadi pada murid yang baru berjalan menuju Allah. Apabila ia sudah sampai di tengah atau di akhir, tidak akan ada lagi kasyf. Hal ini berarti, ketika ia telah meningkat ke derajat dan maqam-maqam yang tinggi, Allah akan menutup kasyf baginya, dan ia akan kembali lagi seperti manusia pada umumnya. Ia tidak lagi memiliki kekhususan dan keistimewaan.

Maksud dari semuanya adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Beribadahlah hanya semata-mata karena Allah SWT. Nabi bersabda, “sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan bagi manusia apa yang diniatkannya”. (HR. Bukhari).

Adapun orang-orang yang tenggelam ke dalam dunia dan mencari kenikmatan melalui thariiqah adalah sebenar-benar bid’ah. Inilah syahwat syaithaaniyyah, jangan sampai kita termasuk golongan mereka. Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Syekh Abu Yazid al-Bustomi, “Wahai Abu Yazid, aku sudah lama beribadah tetapi mengapa aku tidak merasakan lezatnya ibadah?”, Abu Yazid menjawab, “karena engkau menyembah ibadah, sembahlah Allah maka engkau akan mendapatkan manisnya ibadah”.

Banyak orang yang bangun malam, tetapi ia berniat buruk yaitu agar pada waktu paginya dia bisa berkata bahwa dirinya melaksanakan shalat tahajud. Itu pertanda dirinya tidak ikhlas dalam ibadah. Berbeda dengan wali Allah yang beribadah karena ia rindu kepada Allah SWT. Dua kondisi yang jauh berbeda.

Orang pertama berkata pada dirinya bahwa ia bangun malam, ia sembunyikan ibadahnya, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ketahuilah, sesungguhnya orang tersebut sedang berkata kepada nafsunya dengan bangga bahwa dirinya adalah orang saleh.

Adapun orang yang kedua bangun malam karena rindu kepada Allah SWT. Ia tidak peduli apakah ibadahnya akan dilihat orang lain atau tidak. Ia sama sekali tidak memperdulikan apakah ada orang yang akan memujinya atau tidak.

Di benaknya tidak pernah terlintas tentang perasaan tersebut. Di hatinya hanya ada satu ruang, yaitu untuk Allah SWT. Dua orang yang jauh berbeda. Oleh karena itu Abu Yazid berkata, “engkau menyembah ibadah, maka engkau tidak merasakan lezatnya ibadah. Sembahlah Allah, maka engkau akan merasakan lezatnya ibadah”.

Kisah lainnya dari Syekh Abdul Qadir Jaelani. Suatu ketika sang syekh berkhalwat di sutau tempat yang gelap. Tiba-tiba muncul cahaya yang bersinar sangat terang. Kemudian ia mendengar suara yang membuatnya merasakan kenikmatan, suara itu berkata, “wahai Abdul Qadir, Allah ingin mengatakan sesuatu padamu”, “ya” sahut Syekh, suara itu melanjutkan, “sesungguhnya aku mencintaimu”.

Mendengar suara itu, sang syekh merasa seolah-olah hatinya meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Suara itu berkata lagi, “aku akan mendekatkanmu kepada-ku”. Rasa nikmat dan senang yang luar biasa membuat sang syekh meneteskan air mata, suara itu melanjutkan, “aku halalkan bagimu segala sesuatu yang haram”. Sang syekh merasa kaget dan langsung berteriak keras, “enyahlah hai syetan laknat!!”.

Syekh Abdul Qadir langsung berkata seperti itu tanpa harus berfikir panjang. Hatinya yang jernih tidak memerlukan banyak waktu untuk berfikir apakah sesuatu yang haram itu bisa menjadi halal atau tidak. Ia sudah mengetahui ‘hakikat’ sejak awal mula berjalan menuju Allah SWT. Akhirnya sinar terang itu menjadi padam dan suara bagus yang enak didengar itu berubah menjadi suara yang sangat buruk dan memekakkan telinga.

Suara itu kemudian pergi sambil berkata, “aku mengeluarkan 70 ahli ibadah dari lingkaran ‘ubudiyyah (penghambaan kepada Allah SWT) dengan cara ini wahai Abdul Qadir, tetapi ilmumu telah menyelamatkanmu”. Maksudnya, dengan cara ini setan mengeluarkan 70 ahli ibadah dari jalan Allah menuju jalan syetan.

Orang-orang yang telah mendapatkan ma’rifat kepada Allah yang hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu Allah, adalah para ahlullah (kekasih Allah). Mereka telah melakukan praktek-praktek ibadah yang harus kita ketahui dan kita ikuti. Apabila kita meninggalkan ajaran para sufi dengan mencoba melangkah sendiri berjalan menuju Allah, lalu terjadi seperti apa yang terjadi pada syekh Abdul Qadir Jaelani, kemungkinan kita akan tertipu.

Kita akan tertipu dengan cahaya dan suara yang sebenarnya itu adalah jelmaan iblis la’natullah. Kita akan mengira bahwa Allah benar-benar sudah menghalalkan sesuatu yang haram. Ini sangat berbahaya.

            Oleh karena itu kita harus mendengarkan keterangan dan penjelasan para wali Allah mengenai praktek ibadah. Kita perlu menyimak setiap kalimat yang keluar dari lisannya, memperhatikan nasehat-nasehatnya, dan memohon petunjuk-petunjuknya. Dengan demikian kita akan mengerti tentang apa itu jalan, iltifaat, kasyf, tahliyyah, tajalli, taubat, ridha, tawakal, dzikir, dan lain-lain.

Disamping itu, kita juga akan belajar dari para sufi mengenai apa yang akan terjadi jika kita mengamalkan sesuatu. Sehingga pada akhirnya kita menjadi paham bagaimana cara menghidupkan makna-makna dan mempraktekkan agama Islam secara benar, yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

Share.

Leave A Reply