Semangat Yang Kuat Dari Seorang Murid Akan Mendahului Teman-Temannya

0

Ada murid tertentu yang hatinya dibuka oleh Allah lebih cepat dari pada murid-murid yang lain, padahal ia belum lama berjalan menuju Allah. Para ulama ahli hakikat mengatakan, “innal ‘ibrata biman saddaqa, wa laysatil ‘ibrotu biman sabaq” (yang diterima adalah yang berjalan dengan benar dan penuh keyakinan, dan bukan yang berjalan duluan). Para guru mengatakan bahwa terkadang kambing yang pincang bisa mendahului kambing yang sehat. Situasi dan kondisi tertentu dapat memungkinkan hal itu bisa terjadi.

Murid yang baru berjalan terkadang bisa mendahului teman-temannya yang telah lama berjalan menuju Allah. Hal ini disebabkan oleh tekad dan kesungguhannya yang berbeda dari yang lain. Semangatnya yang membara membuatnya bisa menyamai dan bahkan mendahului teman-temannya. Tetapi bukan berarti orang yang terlambat itu buruk.

Terkadang Allah berkehendak untuk memperlambat seorang murid dari pencapaian akhir perjalanannya karena suatu hikmah. Mungkin Allah ingin menjadikannya seorang imam yang matang di dalam ilmunya, atau mungkin ada hikmah yang lain. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, namun beliau menjadi imamnya para nabi. Nabi Muhammad harus kita jadikan sebagai teladan dalam hal memperbarui semangat, memperbesar tekad, mengeluarkan ahli maksiat dari kubang keputusasaan, dan menghilangkan perasaan rendah diri karena dosa yang menumpuk, yang semua itu menyebabkan terputusnya hubungan antara seorang hamba dengan Allah SWT.

Apabila seorang hamba telah menyadari bahwa keyakinan dan ketekunan dapat melipat jarak yang ditempuh, maka akan timbul semangat dan tekad baru untuk berjalan menghadap Allah dengan rasa percaya diri.

Tujuan dari perjalanan ini tiada lain hanyalah Allah semata. Allah adalah tujuan dari segalanya. Adapun yang hendak dicapai adalah kemampuan beradab dan bersikap sopan santun kepada Allah.

Wujud nyata beradab kepada Allah adalah dengan melakukan taubat dan tawakkal, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, melaksanakan ibadah karena Allah, meminta tolong hanya kepada Allah, dan merasa yakin dengan Allah. Berikut akan dijabarkan satu persatu mengenai bagaimana beradab dan bersopan santun kepada Allah SWT.

Seorang mursyid yang membimbing para murid memiliki sifat-sifat dan akhlak-akhlak tertentu. Akhlak mursyid adalah warisan dari nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu akhlak dan sifat para mursyid sangat mirip dengan akhlaq dan sifat nabi Muhammad SAW. Hal ini karena seorang mursyid senantiasa berusaha untuk menjadikan nabi Muhammad sebagai uswah hasanah (panutan yang baik).

Pada pembahasan lalu telah dibahas tentang sifat-sifat mursyid, selanjutnya akan dipaparkan mengenai sifat-sifat jalan. Namun sebelumnya perlu diperhatikan bahwa kita harus menjaga ketiga rukun at-Thoriq ila-Allah. Hal ini karena rukun at-Thoriq ila-Allah menjadi landasan para ulama untuk merumuskan hakikat dari segala sesuatu.

Ilmu hakikat yang dirumuskan para sufi merupakan ringkasan dan inti dari ajaran Islam yang mulia. Dengan ketajaman mata hati dan kebeningan jiwa, para ulama mampu mengambil buah dari ajaran ini. Disamping itu, mereka senantiasa menyesuaikan praktek kehidupan dengan ajaran Allah SWT dengan selalu berada di bawah naungan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Para ulama mengibaratkan perjalanan menuju Allah dengan jalan yang biasa kita lihat dengan mata kepala. Di sisi-sisi jalan itu banyak sekali hal-hal yang menarik nafsu manusia. Hal-hal yang menarik itu dinamakan dengan syahwat, kesenangan duniawi, dan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah kepada murid sebagai ujian selama proses perjalanannya menuju Allah SWT.

Orang yang baru mengenal thariqoh akan bertanya-tanya, ‘sebenarnya tujuan dari at-Thoriq ila-Allah ini untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan ini, atau hanya menyembah kepada Allah semata?’. Ketika seorang murid melihat hal yang menyenangkan atau merasakan sesuatu yang enak, hendaknya ia tidak menoleh padanya. Ia harus terus fokus melanjutkan perjalanannya.

Sesuatu yang dirasa enak dan menyenangkan disini bukan hanya terbatas pada urusan duniawi yang bisa dilihat dan dirasakan dengan panca indra, tetapi kita juga tidak boleh terlena dengan futuh (terbukanya hati) dan kasyf (tersingkapnya rahasia-rahasia yang tidak diketahui sebelumnya).

Syekh Ali Jum’ah, At-Thariq ilaa Allah

 

 

Share.

Leave A Reply