Ridho Terhadap Takdir Allah

0

Ridho Terhadap Takdir Allah. Ujian dan cobaan Allah terhadap manusia tidak akan lama. Ketika ia telah ridho dan bersabar dengan sakit dan ujian-ujian itu, Allah akan segera mencabutnya. Hal itu karena ujian dan cobaan Allah bersifat sementara. Namun apabila seseorang menerima ujian Allah dengan hati yang marah dan ia tidak ridha dengan ketentuan Allah, maka Allah tidak akan meridhainya dan berarti ia telah mencegah dirinya dari terangkatnya penyakit. Ketahuilah, barangsiapa yang menghadapi qadha dan takdir Allah dengan hati lapang maka musibah tidak akan lama. Oleh karena itu jika engkau melihat seseorang yang berada dalam ujian dan cobaan Allah dalam waktu yang lama maka ketahuilah bahwa orang itu tidak ridha dengan qadha dan qadar Allah Swt.

Allah Swt. telah memberikan contoh di dalam masalah ini. Nabi Ibrahim As. menerima perintah dari Allah agar ia menyembelih putra satu-satunya, Isma’il. Ketahuilah apabila perintah Allah ini diterima oleh orang yang tidak beriman maka hatinya akan susah dan bersedih. Namun lihatlah nabi Ibrahim, ia tidak meminta suatu alasan kepada Allah agar ia bisa lari dari perintah ini. Ia juga tidak mengatakan bahwa itu hanya mimpi yang tidak harus dikerjakan karena itu bukan wahyu Allah. Sementara putranya, nabi Isma’il diilhamkan rasa ridha untuk menerima perintah dan ketentuan Allah ini.

Allah berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. As-Shaaffaat [37]: 102).

Isma’il telah mencapai umur dewasa ketika perintah Allah itu datang kepada Ibrahim. Dan ketika ayahnya memberitahukan hal ini kepada Isma’il maka ia ridha dengan takdir Allah Swt. dan hatinya tidak diliputi rasa dendam kepada ayahnya. Ia juga tidak menentangnya apalagi mengajaknya berkelahi. Namun Isma’il berkata, ‘lakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu wahai ayah’. Dan keduanya sama-sama ridha dengan perintah dan takdir Allah itu.

Allah berfirman tentang keduanya,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (١٠٦)وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Shaaffaat [37]: 103-107).

Keduanya telah ridha kepada perintah Allah dan memasrahkan segala urusan hanya kepada-Nya dan Allah mengetahui kemantapan hati keduanya. Oleh karena itu Allah berkata kepada nabi Ibrahim As., ‘engkau dan Isma’il telah ridha dengan qadha dan perintah-Ku, oleh karena itu akan datang kepadamu dan kepada putramu kelembutan-Ku’. Kelembutan Allah kemudian terbukti dengan selamatnya Isma’il karena Allah menggantinya dengan domba yang gemuk yang langsung datang dari Allah Swt. Kelembutan Allah tidak hanya sampai di sini.

Allah berfirman,

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (١١٢)

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.(QS. As-Shaaffaat [37]: 112).

Allah Swt. telah mengangkat derajat nabi Ibrahim dan melimpahkan kebaikan kepadanya yaitu seorang anak yang saleh yang bernama Ishaq. Itu adalah tambahan nikmat Allah yang diberikan kepada Ibrahim karena kerelaannya menerima perintah untuk menyembelih putranya, Isma’il. Saksikanlah bahwa Allah tidak hanya menganugerahkan kepada Ibrahim putra yang ke dua saja, tetapi anak itu juga seorang calon nabi yang akan menyampaikan risalah Allah. Subhanallah.

Allah berfirman,

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلا جَعَلْنَا صَالِحِينَ (٧٢)

Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari pada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 72).

Inilah anugerah Allah yang agung kepada nabi Ibrahim As. Allah tidak hanya memberikan anak yang akan menjaga nama baik ayahnya saja, tetapi ia juga anak yang akan memikul amanah dakwah. Dan tentu karunia besar Allah juga terlimpah untuk semua hamba-Nya yang ridhadengan qadha dan qadar Allah Swt.

Ridha dengan takdir Allah akan menjadikan seseorang berada di dekat Allah Swt., sehingga ia akan selalu mendapatkan perlindungan-Nya. Dan diantara takdir Allah itu adalah takdir sakit. Apakah orang yang sakit akan merasa sedih ketika Allah memberitahukan bahwa orang yang ridha dengan sakitnya itu bersama dengan Allah Swt?!. Oleh karena itu orang yang sadar bahwa ketika sakit ia berada di dekat Allah, ia akan merasakan rasa sakitnya berangsur-angsur berkurang lalu hilang. Namun kebanyakan orang tidak menyadari hal ini sehingga mereka akan merasa susah dan terus mengeluh ketika diberi ujian sakit.

Kesehatan adalah salah satu kenikmatan yang telah banyak Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Namun ketika Allah menguji mereka dengan mencabut sebentar nikmat itu, mereka merasa sangat sedih dan susah, bahkan mereka berputus asa dari rahmat Allah. Padahal seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.

Allah berfirman,

إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (٨٧)

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. Yuusuf [12]: 87).

Orang yang berputus asa menunjukkan bahwa ia tidak memiliki tuhan yang ia jadikan sebagai sandaran. Padahal Allah adalah tuhan yang seharusnya menjadi tempat bersandar, bergantung, dan dimintai pertolongan. Orang mukmin ketika kehilangan sesuatu ia akan berkata, ‘Allah akan menganti dengan yang lebih baik’. Sedangkan orang yang tidak memiliki tuhan akan berkata, ‘semoga musibah ini tidak terulang lagi’.

Manusia tidak akan berputus asa selama ia memiliki keyakinan bahwa ada Zat yang akan mengkabulkan doa dan mewujudkan keinginannya. Namun jika ia mengatakan bahwa Zat yang mengembalikan nikmat tidak ada, Zat yang membantu mewujudkan keinginannya telah hilang maka ia akan terus berputus asa. Orang mukmin mengetahui bahwa setiap nikmat itu datang dari Zat yang maha memberi. Apabila nikmat telah datang ia segera bersyukur kepada Allah, dan apabila nikmat itu dicabut ia memahami bahwa dibalik dicabutnya nikmat itu ada hikmah -yang terkadang ditampakkan dan terkadang disembunyikan-. Inilah cara pandang orang yang beriman.

Rasulullah Saw. bersabda,

عَجَبًا لِأمْرِ الْمُؤمِنِ، إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَليْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إلَّا لِلمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابتْهُ سَرَّاءٌ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءٌ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ

Sungguh mengagumkan semua urusan orang mukmin!, (karena) semua uruusannya baik, dan itu tidak terjadi kecuali pada orang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat ia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Dan ketika menerima ujian ia bersabar, dan itu juga kebaikan baginya. (HR. Muslim).

Syekh Mutawalli As-Sya’rawi

Share.

Leave A Reply