Ramadhan Bulan Meningkatkan Semangat Untuk Belajar

0

Ramadhan Bulan Meningkatkan Semangat Untuk Belajar. Belajar adalah kewajiban setiap muslim laki-laki dan perempuan. Perintah Rasulullah kepada umatnya untuk belajar tidak mengenal batas usia tertentu. Tetapi semua manusia, mulai dari yang masih balita sampai yang akan meninggal dunia, diperintahkan untuk belajar. Bukankah kita sama-sama tahu jika seorang balita tidak ada yang mengajarinya berbicara, maka ia tidak akan bisa bicara. Dan kita juga tahu bahwa orang yang telah berada di dalam liang lahat masih membutuhkan ajaran talqin dari seorang kyai agar ia tidak lupa bagaimana harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Malaikat Mungkar dan Nakir.

Belajar adalah cara untuk mendapatkan ilmu. Dan ilmu adalah cahaya yang akan menerangi jalan hidup manusia. Barangsiapa yang memilki cahaya, maka ia tidak akan salah jalan. Dan jika ia tidak salah jalan maka ia akan sampai pada tujuan dari ilmu, yaitu merasakan keberadaan Allah Swt. Dan setelah ia mengerti akan Tuhannya maka ia akan mengetahui kapasitasnya sebagai hamba yang mendapatkan tugas-tugas dari-Nya. Ada perintah-perintah yag harus dikerjakan dan ada larangan-larangan yang harus dijauhi. Barangsiapa yang melaksanakannya dengan tulus ikhlas, maka Allah akan memasukkan ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Dan barangsiapa yang dimasukkan ke dalam golongan orang yang bertakwa, maka ia akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya.

Akan tetapi kebanyakan manusia tidak menyadari akan pentingnya ilmu, sebab barang-barang dunia tampak lebih berkilau. Mereka mengira bahwa uang dan perhiasan duniawi adalah cahaya, karena tampak gemerlapan. Padahal sesungguhnya itu adalah cahaya palsu yang diciptakan syetan untuk memperdayakan umat manusia, sehingga mereka akan menjauhi cahaya yang sebenarnya, ilmu.

Mari kita membaca hikmah di bawah ini,

 

[Ada yang selesai dengan NAFSUnya, lalu BELAJAR tiada henti. Tapi ada pula yang merasa selesai BELAJARnya, lalu mengejar NAFSUnya]

 

Selamanya nafsu tidak akan pernah merasa puas. Setelah keinginanya dituruti, ia akan terus meminta dan meminta lagi. Ketika keinginan yang satu telah diberikan, maka akan muncul keinginan lainnya. Ketika ia menginginkan satu hal, maka akan ada banyak cabang-cabangnya, dan begitu seterusnya. Oleh karena itu, orang yang tidak bisa mengendalikan keinginan nafsunya akan dibuat capek olehnya. Pikirannya dibuat penat, badannya capek, dan hatinya lelah. Kesenangan yang dirasakan karena menuruti hawa nafsu tidak sebanding dengan akibat buruk yang ditimbulkannya. Kenikmatan hanya sebentar, tetapi kesengsaraan akan lama.

Ketika seseorang telah menjadi budak nafsu, ia mengira bahwa dalam menuruti keinginan nafsu itulah kebahagiaan. Oleh karenanya ia terus menuruti ajakan hawa nafsu karena ia ingin hidup bahagia. Karena mengejar kebahagiaan yang semu, ia menjadi lupa akan tujuan utama ‘mengapa ia diciptakan di dunia’. Ia lupa akan tanggung jawab yang diberikan padanya selaku hamba. Hamba yang harus patuh kepada aturan-aturan Tuhan, yang apabila dilanggar akan menjadikannya celaka. Dan untuk mengetahui aturan-aturan itu ia harus belajar. Karena ilmu tidaklah mudah dan yang diketahui tidaklah sedikit, maka Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk terus belajar sampai ajal menjemput. Sungguh, karena nafsu yang terlalu asyik, ia menjadi tidak tertarik dengan belajar dan mengaji yang terasa berat dan membosankan.

Ketika seseorang telah memiliki angan-angan yang panjang dan ingin menggapai apa yang diinginkannya, maka ia akan semakin jauh dari belajar tentang ilmu-ilmu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tidak ada ilmu yang masuk ke dalam hatinya, maka lama-kelamaan hatinya akan mati. Dan hati yang mati tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai petunjuk jalan hidup manusia. Hati yang seharusnya menampung cahaya ilahi tidak bekerja dengan semestinya. Pada akhirnya ia akan hidup dalam kegelapan, meskipun ia nampak berada dalam gemerlap nafsu yang bersinar. Ketahuilah, sesungguhnya sinar yang dikeluarkan oleh nafsu adalah sinar yang menipu. Sinarnya tdak bisa mengantarkan seorang hamba menuju pintu surga, tetapi ia akan menyeretnya ke dalam jurang neraka.

Adapun orang yang mengetahui bahwa nafsu adalah bagian dari ujian Allah kepada manusia yang keinginanya harus dikendalikan, ia akan benar-benar meredam keinginanya lalu mengontrolnya menjadi kebaikan. Sehingga, keinginan yang timbul karena dorongan hawa nafsu akan berubah menjadi keinginan untuk beribadah dan menjalankan perintah Allah Swt. Ketika seseorang telah bisa membatasi keinginan hawa nafsu dan ia mencukupkan diri dengan apa yang telah diterima tangannya dengan hati yang ikhlas, maka ia akan tenang. Pikirannya tidak bingung dan badannya tidak capek. Meskipun hawa nafsunya selalu menawarkan sesuatu yang menggoda, enak, dan indah setiap waktu, ia tidak akan tertarik. Sebab ia meyakini bahwa keindahan dan kelezatan nafsu itu hanya sementara. Dan ia tidak ingin menggapai keindahan yang sementara. Keindahan yang abadi telah menungguhnya di surga.

Orang yang beriman mengetahui bahwa keindahan abadi tidak berada di dalam menuruti keinginan hawa nafsu, tetapi ada dalam mengikuti ajaran-ajaran nabi. Nabi memerintahkan manusia untuk terus belajar tiada henti, karena dengan ilmu seseorang akan mengetahui hakekat hidup. Dengan ilmu, seseorang akan menemukan kesempurnaan ibadah. Dengan ilmu, seseorang bisa menghayati makna ibadah. Dengan ilmu, seseorang bisa meninggikan derajatnya. Dengan ilmu, seseorang bisa mencapai ma’rifat ilahi. Dan dengan ilmu, ia akan mendapatkan ridha Allah ketika berada di hadapan-Nya nanti.

 

Allah befirman,

وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (QS. Shad [38]: 26)

 

Allah berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Naazi’at [79]: 40-41)

Allah berfirman,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلا

Terangkanlah kepadaku, tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?. (QS. Al-Furqaan [25]: 43)

Wallahu A’lam.

 

Share.

Leave A Reply