Ramadhan Bulan Infak dan Sedekah

0

Ramadhan Bulan Infak dan Sedekah. Allah adalah Tuhan yang Maha Kaya dan Mengkayakan. Dia berkehendak untuk melakukan apa saja. Dia berhak untuk memberikan kekayaan yang melimpah kepada orang tertu, dan tidak peduli apakah orang itu termasuk orang yang beriman atau orang kafir. Akan tetapi, ada hak-hak orang miskin yang ada di dalam harta orang-orang kaya. Oleh karena itu orang kaya harus mengerti akan hal itu. Ketika ia telah mengerti, maka ia akan rela memberikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Bagi orang-orang beriman yang memiliki harta yang banyak lalu memberikan sedekah dan infaknya, maka Allah akan memberikan pahala yang berlipat-lipat. Adapun orang yang kafir yang mau membantu orang lain dengan hartanya, maka apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia. Dan di akherat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, jika Allah tidak memberikan Rahmat-Nya, Na’udlubillahi min dzalik.

Tidak ada kekayaan jika Allah tidak berkehendak untuk memberinya kekayaan. Bagi orang mukmin yang menyadarinya maka ia tidak akan merasa memiliki apa-apa. Oleh karena itu, ia tidak akan merasa sombong dan berbangga diri. Kekayaan itu mungkin karena kepandaiannya, tetapi kepandaian itu hakekatnya datang dari Allah Swt. Kekayaan itu mungkin karena pekerjaan dan usahanya, tetapi Allahlah yang memberinya kekuatan. Kekayaan itu mungkin karena keuletan dan semangatnya, tetapi Allah yang mendorong rasa agar terus semangat. Oleh karena itu kekayaan itu hakekatnya dari Allah Swt.

Setelah ia menjadi kaya dan dia mengerti bahwa Allah memerintahkan untuk mengeluarkan zakat, maka ia mematuhi-Nya. Setelah ia mengetahui bahwa Allah melipatgandakan sedekah menjadi 700 kali lipat, maka ia pun melakukannya. Setelah ia mengetahui bahwa Allah akan membangunkan rumah di surga bagi orang yang mau membangun masjid, maka dia tidak merasa berat untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk membangun masjid. Ketika dia mengetahui bahwa Allah akan menolong orang yang mau menolong orang lain, maka ia rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk membangun panti asuhan atau rumah sakit untuk menolong orang-orang sakit yang tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli obat. Ketika ia mengetahui keutamaan yang di dapatkan oleh orang-orang yang menyantuni yatim piatu, maka ia tidak mau ketinggalan untuk ikut membantu orang-orang yatim piatu dengan hartanya. Ketika ia mengetahui bahwa barangsiapa yang ikut membantu kehidupan para ulama dan orang-orang shaleh maka ia akan mendapatkan syafa’at mereka, maka ia pun bergegas untuk berkunjung kepada orang-orang shaleh itu. Ia ikhlas membantu para ulama dengan niat untuk membantu mereka dalam menyebarkan ilmu, sehingga ia akan mendapatkan berkahnya.

Agar kita lebih sadar bahwa kita adalah orang kaya, maka bacalah hikmah berikut ini,

[Orang kaya adalah orang yang orang-orang di sekelilingnya merasa terbantu dengannya. Jika tidak, jangan menyebut dirimu kaya meski kau punya segalanya]

Kekayaan adalah salah satu kenikmatan yang diberikan Allah kepada manusia yang dikehendaki-Nya. Kebanyakan orang menginginkan dirinya menjadi orang kaya, tetapi hanya sebagian yang dikabulkan Allah Swt. Kekayaan tidak menunjukan bahwa seseorang dicintai oleh Allah Swt. Dan kemiskinan bukanlah tanda bahwa Allah membencinya. Keadaan masing-masing orang yang berbeda adalah kehendak Allah, dan setiap kehendak Allah pasti baik.

Oleh karena itu, setiap manusia dituntut untuk menerima apa yang menjadi keputusan Allah Swt. Meskipun menurut pemikiran manusia sesuatu itu buruk, tetapi pada hakekatnya adalah baik. Dan sebaliknya, sesuatu yang dianggap baik oleh manusia, terkadang itu adalah sesuatu yang buruk. Menerima, baik dengan perasaan senang maupun sedikit kecewa, adalah pilihan terbaik yang diambil oleh manusia. Dan menolak, adalah pilihan yang terburuk. Apabila manusia menolak kehendak Allah, maka penolakannya tidak akan merubah ketetapan Allah meskipun dengan usaha sekeras apapun. Sehingga ia akan terus hidup dalam penderitaan, dan di akherat nanti ia masih harus meneruskan penderitaannya, Na’udlubillahi min zalik.

Apabila seseorang ditakdirkan menjadi orang kaya, maka cara menerima keputusan Allah itu adalah dengan menjalankan amanah kekayaan. Bahwa ada hak-hak orang-orang fakir dan miskin di dalam harta mereka. Oleh karena itu, ia tidak berat hati untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk menyantuni kaum fakir, membantu orang-orang tua yang sudah tidak kuat bekerja, menolong mereka yang sedang sakit, menyenangkan hati orang-orang yang sedang tertimpa bencana, menggembirakan hati anak-anak yatim piatu, membangun rumah sakit gratis, dst. Barangsiapa yang menjalankan amanah atas harta yang dititipkan Allah kepadanya, maka ia termasuk orang-orang yang kelak dimuliakan Allah di tempat termulia.

Dan apabila seseorang ditakdikan menjadi orang miskin, maka cara menerima keputusan Allah itu adalah dengan bersabar dan menerima rezeki yang diberikan Allah dengan senang hati. Sekecil apapun rumahnya, sesederhana apapun pakaiannya, sesedikit apapun makanannya, ia tetap bersyukur dan ikhlas. Ia tidak pernah memaksa Allah untuk merubah keadaannya. Ia tetap meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Baik, yang kebaikan-kebaikan-Nya terus mengalir tiada henti. Ia tetap berada di jalan orang-orang yang senantiasa menyembah kepada-Nya siang dan malam. Ia terus berdoa dan memohon kepada Allah agar ia dimasukkan ke dalam hamba-hamba yang bertakwa. Karena kepasrahannya yang total kepada Allah, ia tidak pernah bergantung dan meminta bantuan kepada sesama manusia. Sebab ia tahu bahwa semua manusia juga sama sepertinya, yang pada hakekatnya tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sesungguhnya Allahlah Pemilik segalanya. Milik-Nyalah segala daya dan kekuatan.

Terhadap orang-orang miskin yang memasrahkan dirinya kepada Allahlah, orang-orang kaya diharapkan untuk memberikan sebagian hartanya. Terhadap orang-orang fakir yang menjaga kehormatannyalah, seharusnya orang-orang yang memiliki kelebihan uang memberikan uangnya. Terhadap orang-orang yang tidak punya tetapi ikhlas menerima kondisinyalah, seharunya orang-orang yang punya menghadiahkan sebagian kepunyaannya. Terhadap orang-orang yang kekurangan tetapi tetap beribadahlah, seharusnya orang-orang yang memiliki kelebihan itu mendermakan sebagian kelebihannya. Terhadap orang-orang yang mau membantu saudaranya yang kesusahan, sungguh Allah tidak akan melupakan jasa mereka. Allah akan melipatgandakan kenikmatan-kenikmatan dunianya, dan di akherat nanti Allah akan menyempurnakannya dengan kenikmatan-kenikmatan surga.

Allah berfirman,

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka, ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Az-Dzariyat [51]: 19)

Allah berfirman,

وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ

Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta. (QS. Al-Baqarah [2]: 177)

Allah berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah [2]: 274)

Wallahu A’lam.

Share.

Leave A Reply