Apakah QS. An-Nisa’: 64 Tetap Berlaku Sampai Hari Kiamat Nanti?

0

Ayat yang terdapat di dalam surat an-Nisa’ ini bersifat mutlak. Tidak ada dalil lain yang mengatakan bahwa ayat ini hanya berlaku ketika nabi masih hidup. Oleh karena itu ayat ini masih tetap berlaku sampai hari kiamat nanti. Al‘ibrotu bi’umumillafdzi, laa bi khususis sabab (pelajaran yang dapat dipetik dari al-Qur’an adalah dengan cara melihat kepada umumnya lafadz, dan tidak melihat pada sebab khusus yang melatar belakangi kemunculan ayat itu).

Barang siapa yang berpendapat bahwa ayat itu hanya khusus berlaku pada saat nabi masih hidup, maka ia harus mendatangkan sebuah dalil yang menunjukkannya. Dan ayat yang bersifat mutlak tidak membutuhkan dalil lainnya.

Inilah yang dipahami oleh banyak ulama ahli tafsir. Ibnu Katsir rohimahulloh ketika menyebutkan ayat ini beliau mengatakan, “para ulama, diantaranya Syekh Abu Nashor as-Shobagh menuturkan di dalam kitabnya sebuah kisah yang sangat terkenal. Kisah itu adalah kisah ‘Atabi. ‘Atabi berkata, “aku duduk di depan roudloh (makam) Rasulullah SAW. Lalu datanglah seorang Arab badui seraya berkata, “assalaamu ‘alaika ya Rasuulallah!, aku mendengar Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’: 64)

Dan aku datang kepadamu bermaksud untuk memohon ampun kepada Allah”. Lalu ia membaca sebuah syair yang berisi pujian-pujian untuk nabi Muhammad.

Setelah itu ia pergi. ‘Atabi berkata, “kemudian aku tertidur dan aku melihat Rasulullah di dalam tidurku, dan ia berkata kepadaku, “wahai ‘Atabi! orang tadi itu benar, beritahukan kepadanya bahwa Allah telah mengampuninya”. (diambil dari kitab tafsir ibnu katsir). Imam al-Bahaqi juga meriwayatkan kisah yang sama di dalam kitab sya’bul iman.

Hal ini bukan berarti kita memakai dalil dengan mimpi, akan tetapi kita menggunakan dalil dalam hal tidak menolaknya imam Ibnu Katsir atas kisah ini. Karena Ibnu Katsir juga menggunakan dalil kisah ini untuk menjelaskan tafsir dari ayat di atas.

Begitu pula dengan apa yang beliau tulis dalam kitabnya mengenai persetujuan ‘Atabi atas tindakan orang Arab badui itu, karena ‘Atabi tidak mencegahnya dalam hal perbuatannya memohon ampunan kepada Allah melalui nabi setelah ia meninggal dunia.

Para ulama ahli fiqih banyak yang menggunakan ayat ini untuk menunjukkan kebolehan hukum ziarah kubur. Sebagaimana disunatkan untuk membaca ayat ini pada saat berziarah di makam nabi Muhammad SAW.

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa disunahkan untuk membaca ayat ini ketika berada di makam nabi Muhammad SAW. Sementara ulama madzhab Maliki, Ibnu al-Hajj al ‘Abdari mengatakan bahwa tawasul dengan nabi Muhammad SW dapat menghapus dosa-dosa dan berbagai kesalahan. Seberapapun besarnya dosa tidak ada nilainya jika disandingkan dengan syafa’at nabi Muhammad SAW.

Maka bergembiralah orang yang pernah berziarah ke makam nabi Muhammad SAW. Mari berdo’a kepada Allah SWT agar kita mendapatkan syafa’atnya. Amiin.

Barang siapa yang memiliki keyakinan sebaliknya, maka ia akan tertolak. Apakah ia belum pernah mendengar firman Allah, wa lau annahum idz dzolamuu anfusahum jaa uuka fastaghfarullaha was gtaghfaro lahumur rasuulu lawajadulloha tawwaban rohiimaa.

Barang siapa yang berdiri di depan pintu rumah nabi Muhammad SAW dan bertawassul dengannya, maka ia akan menemukan bahwa Allah itu maha menerima taubat dan maha pengasih. Allah tidak mungkin mengingkari janji. Karena Allah telah berjanji untuk menerima taubat orang-orang yang mau bertaubat kepada-Nya.

Sedangkan orang yang berpendapat bahwa tawasul dan berziarah ke makam nabi itu tidak boleh adalah orang yang menentang agama. Orang itu telah melawan Allah dan Rasulullah. Mari kita berlindung kepada Allah dari penolakan-Nya (al-madkhol Ibnul hajj).

Ketika menjelaskan bab adab ziarah kubur di makam nabi, Imam Nawawi berkata, “yaitu dengan cara duduk di depan wajah nabi Muhammad, lalu bertawasul dengannya, lalu memohon syafa’at kepada Allah”. Sementara para ulama seperti al-Mawardi dan al-Qodli Abu Thoyyib juga menceritakan tentang kisah dari ‘Atabi ini.

Adapun di dalam madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah mengatakan, “hukumnya sunah membaca ayat di atas, lalu mengajak berbicara kepada nabi dengan ayat itu, kemudian memohon ampun kepada Allah SWT. Imam ar-Rohibani juga menguatkan kesunahan membaca ayat itu ketika berada di makam nabi Muhammd SAW.

Beliau juga menuturkan cara beradab ketika berziarah ke makam nabi, yaitu dengan mengucapkan do’a, “ya Allah berikanlah balasan kepada nabi kita dengan balasan yang terbaik, sebagaimana engkau memberikan balasan yang utama kepada para nabi dan rasul-Mu.

Berikanlah kepada nabi Muhammad kedudukan yang mulia. Ya Allah! berikanlah rahmat kepada Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau memberikan rahmat-Mu kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Dzat yang maha terpuji. Ya Allah! berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarganya, sebagaimana engkau memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarganya.

Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha terpuji. Ya Allah! Engkau telah berfirman di dalam al-Qur’an, dan firman-Mu adalah benar, wa lau annahum idz dzolamuu anfusahum, jaa uu ka fastaghfarullaha was taghfaro lahumur rasuulu, lawajadulloha tawwabar rohiima. Sesungguhnya aku datang kepada-Mu bermaksud untuk memohon ampunan atas dosa-dosa.

Ya Allah! aku memohon kepada-Mu agar Engkau menerima taubatku sebagaimana Engkau menerima taubat orang-orang yang mendatangi nabi di masa hidupnya. Ya Allah! jadikanlah nabi Muhammad sebagai orang yang pertama yang memberikan syafa’at dan orang yang paling mulia dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang maha pengasih”. Lalu membaca doa untuk kedua orang tuanya, saudara-saudaranya, dan kaum muslimin semuanya.

Dari penjelasan di atas, kita telah mengetahui bahwa semua madzhab mengatakan kesunahan membaca ayat itu ketika berada di makam nabi Muhammad SAW. Semua madzhab yang ada juga meyakini bahwa ayat ini tetap berlaku sampai hari kiamat nanti. Itulah pendapat yang dipakai dan diyakini oleh ulama zaman dahulu dan sekarang.

Janganlah kita terlalu memperdulikan pendapat yang bertentangan dengan pendapat para ulama. Sesungguhnya memohon ampunan kepada Allah melalui nabi Muhammad setelah wafatnya bisa diterima -baik dari segi akal maupun dari segi nash al-Qur’an maupun al-Hadits.

Nabi bersabda, hayaati khoirun lakum, tukhaditsuuna wa yuhaddits lakum. Wa wafaati khoirun lakum, tu’rodlu ‘alaiyya a’maalukum. Famaa ro’aytu min khoirin hamiddulloha, wa maa ro’aiytu min syarrin as taghfirtu lakum (hidupku adalah kebaikan bagi kalian semua. Kalian dapat berbicara kepadaku dan aku dapat berbicara kepadamu.

Dan matiku adalah kebaikan bagi kalian. Semua amal kalian akan dibentangkan kepadaku. Jika aku melihat amalan yang baik, maka aku akan memuji kepada Allah. Dan jika aku melihat amalan yang buruk, maka aku akan memohon ampunan kepada Allah) (diambil dari kitab kasyful asraar, dan majma’uz zawaaid). Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply