Peziarah Mengucapkan Salam, Apa Yang Ada Di Dalam Kubur Mendengar ?

0

Kematian tidak lantas menjadikan manusia hancur secara total, atau menjadi tidak ada sama sekali. Sesungguhnya kematian adalah keadaan yang paling sulit yang dilewati oleh setiap manusia. Kematian adalah keluarnya ruh seseorang untuk berpindah dan hidup di alam yang lain.

Imam al-Ghozali mengatakan bahwa mati adalah pisahnya ruh dari jasad, dan terlepasnya jasad dari perintah ruh. (ihya’ ulumuddin).

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh rodliyallahu ‘anh, nabi Muhammad SAW bersabda, ma min ‘abdin yamurru biqobri rojulin kana ya’rifuhu fid dunya, fayusalllimu ‘alaihi ilaa ‘arofahu wa rodda ‘alaihis salaam. (dimana ada seseorang yang melewati kuburan seseorang yang diketahuinya semasa hidup, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, maka mayat itu akan mejawab salamnya) (HR. Bukhari).

Imam al-Manawi berkata, Imam al-Hafidz al-Iroqi mengatakan, “menjawab salam, dan dikembalikannya ruh bagi si mayat itu bisa terjadi”. (faidlul qodir).

Diriwayatkan bahwasanya nabi Muhammad SAW berdiri di depan orang-orang kafir yang mati pada saat perang badar. Lalu beliau memanggil namanya satu persatu, “wahai fulan bin fulan!, wahai fulan bin fulan! apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu?!.

Sesunggunya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah kepadaku”. Umar berkata kepada nabi, “wahai Rasulullah! mengapa engkau berbicara kepada orang yang telah menjadi bangkai?”, nabi menjawab, “demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran!, sesungguhnya engkau tidak lebih tajam pendengarannya dari pada mereka, tetapi mereka tidak bisa menjawab”. (HR Ahmad, Ibnu Habban, dan al-Hakim).

Seorang mayit akan merasakan dan mengetahui siapa yang datang berziarah kepadanya. Ia akan merasa senang jika ada orang yang datang dan mengucapkan salam. Oleh karena itu nabi memerintahkan kepada kita untuk mengucapkan salam kepada orang yang sudah mati.

Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada para sahabatnya bagaimana ungkapan salam yang harus diucapkan untuk orang yang sudah meninggal, assalamualaikum yaa ahlad diyaar, minal mukminiina wal muslimiin, wa yarhamullohul mustaqdimiina minna wal musta’khirin, wa inna insya Allah bikum laahiiquun (HR Ahmad, Bukhori, dan Muslim).

Ibnu Taimiyah pernah ditanya mengenai apakah si mayit bisa mendengar. Beliau menjawab bahwa seorang mayit bisa mendengar, lalu beliau menyebutkan banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini. Setelah beliau mengatakan hadits yang berbicara mengenai salam kepada ahli qubur beliau berkata, “ketika seorang peziarah mengucapkan salam, sesungguhnya ia sedang memberikan ucapan salam kepada orang yang bisa mendengar”.

Di dalam hadits nabi dikatakan, aktsiruu minas sholaati ‘alaiyya yaumal jum’ati, wa lailatil jum’ati, fainna sholawatakum ma’ruudlotun’alaiyya (perbanyaklah membaca sholawat kepadaku di malam dan di hari jum’at. Karena sholawat kalian akan dihadapkan padaku), lalu sahabat bertanya, “bagaimana hal itu bisa terjadi wahai nabi!, padahal engkau sudah wafat?” , nabi berkata, innallaha harroma ‘alal ardli an ya’kula luhuumal anbiyaa’ (sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi).

Nabi juga bersabda, innallaha wakkala biqobrii malaaikatan yuballighuuni ‘an ummati assalaam (Allah telah mengutus para malaikat untuk berada di sekitar kuburanku, dan mereka akan menyampaikan salam dari orang-orang yang mengucapkan salam kepadaku. Sesungguhnya hadits-hadits di atas menerangkan bahwa si mayit bisa mendengar perkataan orang yang masih hidup. Namun bukan berarti ia akan terus mendengar. Ia akan mendengar dalam keadaan dan kondisi tertentu saja. (al-fatawa al-kubro).

Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa nabi telah mengajarkan kepada umatnya apabila hendak berziarah kemakam seorang muslim, maka ia dianjurkan untuk mengucapkan salam kepadanya. Lafadz salam itu berbunyi assalaamu’alaikum daaroo qoumin mukminiin. Sesungguhnya salam ini adalah salam yang diperuntukkan bagi yang mendengar dan berakal. Apabila si mayit tidak mendengar, maka salam ini sama saja tidak ada fungsinya.

Dan para ulama salaf telah bersepakat bahwa seorang mayit bisa mengetahui orang yang datang berziarah kepadanya, dan ia akan merasa senang atas kunjungannya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang mayit akan merasa senang jika diziarahi dan ia akan menjawab salam darinya. Sesungguhnya orang yang mati itu bukan berarti tidak ada. Ruh orang yang telah mati akan tetap berhubungan dengan jasadnya. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar kita bisa berbuat baik dan mendoakan saudara dan sanak famili kita yang sudah meningal dunia, amiin. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply