Perkara Ghaib, Apakah Manusia Bisa Melihatnya?

0

Perkara Ghaib, Apakah Manusia Bisa Melihatnya?

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ أُصَلِّى وَ أُسَلِّمُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِكَ وَ أَنْبِيَائِكَ، وَ خَيْرِ رُسُلِكَ وَ رَحْمَتِكَ لِلْعَالَمِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً

أَمَّا بَعْد:

Dewasa ini banyak orang yang mengatakan bahwa orang itu, dia, mereka adalah awliya’ Allah (wali-wali Allah), hanya karena mereka dapat mengetahui hal yang gaib. Sehingga hal ini menimbulkan pemahaman yanng kurang benar di lingkungan masyarakat. Sebenarnya siapa mereka wali-wali Allah dan bagaimana sifat-sifatnya?,

Al-Qur’an menjawabnya melalui firman-Nya,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٦٢)الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (٦٣)لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Atas mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan atas kalimat-kalimat Allah. Dan yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS.Yunus: 62-64)

Ayat ini disebutkan didalam Al-Qur’an setelah firman Allah yang menyebutkan tentang diri-Nya, bahwa Ia Maha Mengetahui alam gaib. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah Swt.

Allah berfirman,

وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَلا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus: 61).

Dengan ayat di atas Allah ingin menerangkan keada kita bahwa terkadang Allah berkehendak untuk memberikan imdaad (cahaya ilahi) kepada sebagian hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kadar usaha dan riyadhah (kerja kerasnya). Namun ketika engkau termasuk hamba Allah yang mendapatkan anugerah cahaya ilahi itu, jangan sekali-kali engkau mengatakan bahwa itu karena dirimu, tetapi katakanlah bahwa cahaya itu berasal dari Zat yang Maha Mengetahui segala hal yang gaib, yang tidak ada yang samar suatu apapun dari pandangan-Nya.

Oleh karena itu, janganlah engkau mengatakan bahwa orang itu mengetahui hal yang gaib karena ia adalah seorang wali Allah, tetapi katakanlah bahwa ia telah diberitahu oleh Allah tentang hal-hal yang gaib. Karena yang dinamakan gaib adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Terkadang hal tertentu itu gaib menurut anda, tetapi tidak gaib menurut orang lain, sehingga hal yang gaib itu sifatnya tidak mutlak. Misalnya, orang yang sebagian kecil hartanya dicuri oleh pencuri, ia tidak tahu bahwa ada barangnya yang dicuri, tetapi pencurinya tahu. Orang yang membantu seorang pencuri, tetapi ia menyembunyikan sebagian harta yang dicurinya, ia tahu tetapi temannya tidak tahu. Begitu juga dengan jin yang pada saat terjadi pencurian itu ia berada di tempat itu, ia tahu. Oleh karena itu, gaib itu bukan hal yang bersifat mutlak. Terkadang makhluk yang satu melihat dan mengetahui, tetapi makhluk lainnya tidak melihat dan tidak mengetahui.

Begitupula dengan rahasia alam semesta yang pada masa lampau tersembunyi, seperti hukum gravitasi bumi, unsur positif dan negatif di dalam aliran listrik, atau hembusan angin yang mendorong awan sehingga menurunkan hujan. Semua itu tersembunyi pada masa lampau, tetapi seiring dengan berjalannya waktu semuanya terkuak oleh seseorang lalu tersebar kepada banyak orang, yang pada akhirnya setiap orang tidak mengatakan bahwa hal itu merupakan hal yang gaib.

Allah berkehendak menampakkan rahasia-rahasia alam semesta melalui penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan, meskipun yang ditemukan itu bukanlah tujuan dari penelitiannya semula. Di sini dapat kita ambil pelajaran bahwa Allah ingin agar manusia selalu berfikir,bekerja, dan meneliti, sampai mereka menemukan rahasia-rahasia Allah yang tersembunyi. Dan semua itu adalah petunjuk dan bukti akan keberadaan dan keagungan Allah Swt.

Perlu kita ketahui, bahwa kebanyakan hasil temuan itu didapatkan dengan kebetulan dan ketidaksengajaan. Hal itu memberikan pelajaran kepada kita bahwa karunia Allah yang langsung bersumber dari Allah itu lebih banyak dari pada karunia Allah yang didahului oleh penelitian manusia.

Di dalam Al-Qur’an kita menemukan banyak ayat yang membicarakan hal-hal gaib secara detail, agar kita menjadi paham bahwa ada hal-hal gaib tertentu yang tetap tidak bisa diketahui oleh semua manusia sampai kapanpun. Hanya Allah yang mengetehui rahasia-rahasi itu.

Allah berfirman,

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah: 255).

Inilah ayat yang menunjukkan bahwa Allah membuka hal-hal gaib kepada manusia, baik itu dengan penelitian terlebih dahulu maupun tidak.

Adapun hal gaib lainnya, yang tidak ada satupun yang mengetahuinya kecuali Allah dan rasul ditunjukkan dengan ayat Al-Al-Qur’an,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. (QS. Al-Jin: 26-27).

Jadi, Allah Swt menganugerahkan cahaya-Nya yang bersifat gaib kepada sebagian hamba-hama pilihan-Nya. Dan di dalam Al-Qur’an sendiri banyak hal-hal yang bersifat gaib, tetapi zamanpun berjalan dan semuanya terkuak, dan akhirnya seluruh umat manusia menjadi paham bahwa yang dikatakan oleh Al-Qur’an tidak ada yang dusta sedikitpun.

Adapun kata رَسُول di dalam ayat di atas tidak hanya bermakna Muhammad atau para nabi dan rasul sebagaimana yang kita imani di dalam rukun Iman, tetapi ia juga mengandung makna أُسْوَةٌ (teladan), dan Rasul semuanya adalah أُسْوَةٌ.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).

Oleh karena itu barangsiapa yang berlaku dengan prilaku Rasulullah Saw, dan mengikuti jejak hidupnya maka ia akan mendapatkan suatu hadiah dari Allah yang dapat dilihat oleh banyak orang, yang dengan orang itu pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa barangsiapa yang menjadikan Rasulullah Saw. sebagai panutan maka Allah akan memberikan hadiah cahaya ilahi kepadanya. Hadiah ini bukanlah alat untuk mengetahui hal-hal yang gaib, tetapi ini adalah anugeah dan karunia Allah yang sangat besar nilainya.

Dan pahamilah Firman Allah,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59).

Maksudnya bahwa kunci-kunci itu hanya Allah yang memegangnya, sementara para wali-wali Allah itu hanya mengambil setetes dari lautan rahasia ilmu Allah Swt.

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi, Al-Khutbah Al-Minbariyah

 

Share.

Leave A Reply