Pengertian Dan Hukum Taqlid Menurut Bahasa Dan Istilah

0

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wasalaamu ‘ala sayyidina Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man walaah, wa ba’d. Taqlid secara bahasa diambil dari kata qiladah (kalung). Binatang ternak yang memakai kalung dilehernya pada musim haji berarti hewan itu telah diberikan untuk masjidil haram yang akan dijadikan sebagai kurban. Sehingga orang-orang tidak berani untuk menyentuh dan mengambilnya karena menghormati masjidil haram. (taajul ‘aruus, bahrul mukhiit, Zarkasyi).

Adapun taqlid secara istilah memiliki dua makna, yaitu:

1. Melakukan suatu amalan atau perbuatan yang berlandasakan pada pendapat seseorang tanpa mengetahui dalil-dalil yang digunakan untuk menguatkan pendapatnya.

2. Melakukan suatu amalan dengan berlandaskan pada pendapat mujtahid (ulama ahli ijtihad) tanpa mengetahu dalil yang menjadi dasar pendapatnya. (bulughus suul fii madkhol ‘ilmil ushul).

Yang dimaksud dengan kalimat ‘tidak mengetahui dalilnya’ di atas adalah tidak mengetahui dalil yang dipakai secara sempurna dalam menyimpulkan suatu hukum yang diambil dari al-Qur’an dan al-Hadits. Dan orang yang mampu untuk mengambil dan menyimpulkan hukum hanyalah sorang mujtahid -yang harus memenuhi syarat-syarat ijtihad (pengambilan hukum)-.

Bagaimana Hukum Taqlid ?

Dan taqlid yang kami maksudkan pada pembahasan kali ini adalah pemakaian pendapat seorang mujtahid yang dilakukan oleh seorang awam -yang tidak mengetahui dalil yang dipakai oleh mujtahid tersebut secara sempurna-, baik ia mendengarkan pendapat dari mujtahid itu secara langsung, dari ulama yang lain, atau dari kitab-kitab fiqih. (buluughus suuli).

Manusia yang mukallaf (mendapatkan tugas dari Allah yang berkaitan dengan hukum syareat) terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mampu mengambil hukum dari dalil-dalil syareat (al-Qur’an dan al-Hadits) dengan cara berijtihad. Sedangkan kelompok yang kedua adalah orang-orang yang tidak diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukan ijtihad. Mereka ini dinamakan muqollidun (orang-orang yang bertaqlid). Kedua kelompok ini diharuskan oleh Allah untuk mencari dan mengetahui hukum syareat sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Kelompok yang pertama diwajibkan untuk melakukan ijtihad. Tetapi kelompok yang kedua diperintahkan untuk mengikuti hukum syareat yang disimpulkan oleh para mujtahid. (bulughus suul fii madkhol ilmil ushul).

Para ulama ahli ushul fiqih mengatakan bahwa muqollidun (orang-orang yang bertaklid) terdiri dari 2 jenis. Yang pertama adalah orang yang sama sekali awam. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akal yang sangat lemah untuk melakukan penelitian dan ijtihad. Sedangkan yang kedua adalah orang-orang alim yang bisa membaca dan memahami beberapa cabang ilmu, tetapi ia belum sampai pada derajat para mujtahid. Dan mereka berdua diwajibkan untuk bertaqlid.

Imam al-‘allamah Syekh Muhammad Makhluf mengatakan di dalam kitabnya buluughus suul, “pendapat para ulama mujtahid itu bagaikan dalil syar’i bagi orang-orang awam, tetapi bukan berarti pendapat para ulama itu adalah hujjah (dalil) yang dapat menetapkan suatu hukum syareat sebagaimana perkataan para nabi dan rasul ‘alaihimussholatu wassalam -karena tidak ada seorang ulamapun yang mengatakan hal itu-.

Para mujtahid telah melakukan penelitian yang mendalam dan mencurahkan seluruh waktu, tenaga dan pikiran untuk menyimpulkan suatu hukum dari al-Qur’an, al-hadits, dan sumber-sumber hukum lainnya. Sehingga wajar apabila dikatakan bahwa pendapat para mujtahid itu seperti dalil bagi orang-orang awam -karena sesungguhnya pendapat mereka bersumber dari dalil-dalil syar’i (al-Qur’an dan as-Sunnah)”.

Syekh Makhluf juga mengatakan, “sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kemampuan berijtihad untuk melakukan ijtihad, maka Allah juga memerintahkan orang-orang alim untuk berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kedudukan para mujtahid dengan cara mengikuti metode-metode yang mereka pakai. Dan bagi orang-orang awam yang bukan ahli ilmu diharuskan untuk pergi kepada para ulama untuk mengambil pendapat dan perkataan mereka. Firman Allah: “bertanyalah kepada ahli dzikir (ulama) jika kalian tidak mengetahui”. (an-Nahl: 43).

Dan menyebutkan dalil-dalil yang dipakai oleh mujtahid tidak perlu dilakukan oleh orang-orang awam jika mereka tidak mengerti bagaimana cara menggunakan dalil-dalil itu dengan benar. (bulughus suul fi madkhol ilmil ushul).

Imam as-Syathibi mengatakan bahwa fatwa para mujtahid bagi orang-orang awam bagaikan dalil-dalil syar’i, karena ada atau tidaknya dalil syar’i (al-Qur’an dan al-Hadits) bagi orang awam itu sama saja -karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengambil hukum dari dalil-dalil tersebut-. Firman Allah: “bertanyalah kepada ahli dzikir (ulama) jika kalian tidak mengetahui”. (an-Nahl: 43).

Seorang muqollid tidak boleh menetapkan suatu hukum kecuali setelah bertanya kepada para ulama, karena para ulama bagi mereka bagaikan sumber hukum. Oleh karena itu apabila mereka mengikuti pendapat dan petuah ulama, sama saja mereka mengikuti nasehat Allah dan Rasul-Nya. (al-muwafaqoot, as-Syathibi).

Orang-orang awam di zaman sahabat dan tabi’in ketika terjadi suatu peristiwa, mereka akan cepat-cepat mendatangi para sahabat dan tabi’in yang alim -yang telah mencapai derajat mujtahid- untuk bertanya mengenai hukum Allah dalam peristiwa dan kejadian itu. Dan dengan lapang dada mereka mendengar dan menerima jawaban-jawaban yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada satu riwayatpun yang menceritakan bahwa para sahabat memerintahkan oang-orang awam untuk melakukan ijtihad agar mengetahui hukumnya sendiri. Sesungguhnya keharusan bertanya bagi orang awam kepada orang yang mampu berijtihad telah menjadi ijma’ (kesepakatan) dikalangan sahabat dan tabi’in. Karena membebani orang awam untuk melakukan ijtihad bertentangan dengan prinsip agama Islam.

Perkataan sebagian orang yang melarang untuk bertaqlid bagi orang-oarng awam sama dengan membebani mereka dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Dan hal ini dilarang di dalam Islam. Firman Allah:  “Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya” (al-Baqarah: 286).

Dan pemaksaan kepada orang-orang awam untuk melakukan ijtihad dapat menyebabkan ketimpangan hidup. Mereka akan meninggalakan kewajiban memenuhi kebutuhan dan mencari nafkah. Mereka akan meninggalkan pekerjaan mereka karena ingin mencari sutu hukum. Dan hal ini adalah bentuk ketimpangan yang tidak benar (ushul fiqih, Muhammad Abin Nur Zahir).

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply