Pendahuluan Untuk Menuju Ilmu Hakekat

0

Pendahuluan Untuk Menuju Ilmu Hakekat. Pada zaman nabi Muhammad SAW belum ada upaya pembukuan ilmu-ilmu agama Islam. Pembukuan ilmu-ilmu baru muncul pada zaman tabi’in dan setelahnya. Ilmu-ilmu yang telah dibukukan itu berguna untuk membantu kita dalam beribadah kepada Allah SWT.

Ilmu tafsir berfungsi untuk membantu kita memahami firman Allah SWT. Ilmu hadits untuk memahami hadits nabi. Ilmu fiqih berfungsi membantu kita dalam melakukan ibadah dengan baik dan benar, dan seterusnya.

Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ia bisa menafsirkan seluruh isi al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW telah memberikan penjelasan mengenai hal itu melalui sabdanya yang berbunyi ‘keajaiban al-Qur’an itu tidak akan habis’. Dan tidak ada pula seseorang yang mengaku bisa memahami al-Hadits secara keseluruhan.

Tidak ada pula seseorang yang mengatakan bisa menguasai bahasa arab dengan semua dalalah, susunan, kata, dan kalimat-kalimatnya. Imam Syafi’i rodliyallahu ‘anh berkata, “tidak ada yang menguasai bahasa arab secara sempurna kecuali nabi Muhammad SAW”.

Setiap orang tidak ada yang mengaku dapat mengumpulkan dan menceritakan secara persis keadaaan dan kondisi nabi beserta sahabat-sahabatnya. Tidak ada pula seseorang yang mengaku mewarisi semua ilmu yang ada pada diri nabi Muhammad SAW. Bahkan para pewaris nabi yang sesungguhnya tidak mengaku-aku bahwa merekalah pewaris nabi.

Mereka tidak mewarisi semua ilmu nabi Muhammad SAW, akan tetapi mereka hanya mengambil dari Rasulullah satu ranting dari pohon yang besar. Mereka hanya mengambil satu gayung dari lautan ilmu Rasulullah SAW.

Di dalam Islam kita mengenal 3 jenis ulama. Ulama yang pertama ingin menjaga unsur Islam. Kelompok ini dinamakan dengan ulama ahli fiqih. Kelompok yang kedua ingin menjaga unsur iman. Mereka disebut dengan ulama ahli tauhid. Adapun kelompok ketiga ingin menjaga unsur ihsan. Mereka itulah yang dinamakan dengan istilah sufiyah (orang sufi).

Orang sufi adalah para ahlullah yang berusaha mencari hakekat. Mereka berbicara mengenai taubat, muraqobah, cinta karena Allah, benci karena Allah, membersihkan hati dari segala kotoran dan penyakit-penyakitnya, tawakal, ridlo, dzikir, dan tafakur.

Adapun kitab-kitab yang membahas masalah ini diantaranya adalah kitab risalah qusyairiyyah karangan Imam Qusyairi, kitab qutul qulub karangan syekh Abu Tholib al-Makki, kitab ihya ulumuddin karangan Imam al-Ghozali, dan masih banyak kitab lainnya. Mereka adalah kekasih pilihan Allah SWT.

Sufiyah berasal dari bahasa arab shofa yang memiliki makna suci. Maksudnya bahwa hati mereka telah suci dan bersih dari segala sesuatu selain Allah SWT. Hati mereka telah dipenuhi rasa rindu dan cinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka Allah melihat engkau”.

Mengenai hadits ini para sufi mengatakan bahwa tingkatan yang pertama lebih tinggi dari pada tingkatan yang kedua. Maksudnya, beribadahlah kepada Allah hingga engkau bisa mencapai maqom kedekatan seolah-olah engkau bisa melihat Allah. Jika engkau tidak bisa mencapai maqom ini, maka turunlah ke maqom yang lebih rendah, yaitu keyakinanmu yang kuat bahwa Allah melihatmu.

Beribadah kepada Allah adalah satu hal yang sudah disepakati oleh semua orang. Ibadah adalah keharusan. Ibadah itu dilakukan terus-menerus sampai hari kiamat datang. Ibadah menjadikan seseorang mampu merasakan sesuatu dibaliknya. Kita harus memiliki keinginan dan tekad yang kuat untuk merasakan sesuatu di dalam ibadah. Jika kita terus-menerus menutupi akal dan hati kita untuk bisa merasakannya, kita akan kehilangan lautan kebaikan dan kita akan terus berada di posisi luar yang tidak akan tahu apa-apa yang ada di dalamnya. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar segera membuka mata hati kita. Amiin.

 

 

 

 

 

 

Share.

Leave A Reply