Orang Yang Telah Wushul Tidak Melihat Amal Ibadahnya (Hikmah Limapuluh Sembilan)

0

Sa’irin masih melihat a’mal (amal ibadah dzohirnya) karena mereka belum mencapai kesempurnaan dalam menghambakan diri kepada Allah. Sedangkan washilin sama sekali tidak melihat ahwal (perbuatan hati)nya karena mereka telah tenggelam dalam pandangan kepada Allah swt)

قَطَعَ السَّائِرِيْنَ لَهُ وَ الْوَاصِلِيْنَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُوْدِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُوْنَ فَلأِنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوْا الصِّدْقَ مَعَ الله فِيْهَا، أَمَّا الْوَاصِلُوْنَ فَلأِنَّهُ غَيْبَهُمْ بِشُهُوْدِهِ عَنْهَا

Sesungguhnya Allah melarang para sa’irin (orang-orang yang baru berjalan menuju Allah) untuk memandang amalan mereka, Dan melarang para washilin (orang-orang yag telah sampai ke hadirat Allah) untuk melihat amalan hati mereka. Pengarang mengkhususkan ahwal (perbuatan hati) untuk washilin -meskipun mereka juga memiliki amal perbuatan dzohir-, karena ahwal lebih utama bagi mereka dari pada amalan dzohir. Dan pengarang mengkhususkan sa’irin dengan amalan dzohir meskipun mereka juga memiliki ahwal.

Sesungguhnya para sa’irin tidak melihat amal ibadah dzohirnya karena mereka merasa bahwa amalannya belum sempurna. Sedangkan washilin telah tenggelam dalam memandang keindahan Allah ta’ala, bahkan ia tidak melihat dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah itu tidak dapat dilihat, selama seorang murid masih melihat sesuatu selain Allah. Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan nikmat yang banyak kepada kedua kelompok ini, akan tetapi washilin tentu lebih baik di sisi Allah dari pada sa’irin.

Syekh Abdul Majid, Syarhu Kitabil Hikam

Share.

Leave A Reply