Orang Tua Nabi Muhammad SAW Muslim Atau Kafir?

0
Showing 1 of 1

Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa mencintai nabi Muhammad adalah amalan yang paling utama dan derajat yang tinggi. Nabi bersabda, walladzi nafsii biyadihi, la yuminu ahadukum khatta akuuna ahabba ilaihi min waalidihi wawaladihii wannasi ajma’iin (demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya!, tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia) (HR. Ahamad, Bukhari).

Tidak diragukan lagi bahwa cinta berlawanan dengan sikap menyakiti orang yang dicintainya. Perkataan yang ditujukan untuk menjelekkan kedua orang tua nabi adalah perkataan yang menyakiti hati nabi Muhammad SAW.

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Barang siapa yang menyakiti Rasulallah, maka baginya adzab yang pedih. (QS. At-Taubah: 61).

Allah juga berfirman, innalladziina yu’dzuunallaha wa rasuulahu la’anahumullahu fid dunya wal aakhiroh, wa a’adda lahum ‘adzaaban aliima (sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akherat. Dan Dia telah meyiapkan baginya adzab yan menghinakan).

Allah SWT telah melarang kita dengan tegas untuk tidak menyakiti nabi Muhammad. Dan Allah menyerupakan perbuatan menyakiti nabi itu dengan perbuatan yahudi yang menyakiti nabi Musa.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah engkau menyerupai orang-orang Yahudi yang menyakiti nabi Musa. sesungguhnya Allah berlepas diri dari apa yang mereka katakan. Sesunggunya Musa itu di sisi Allah memiliki kedudukan yang tinggi. (QS. Al-Ahzab: 69).

Al-Qodli mengatakan, “kita tidak boleh mengeluarkan suatu perkataan melainkan perkataan yang diridloi oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai kita berani untuk menyakiti nabi Muhammad -yang memiliki kedudukan yang mulia dan tinggi di sisi-Nya-.

Bapak dan kakek-kakek nabi Muhammad SAW bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik, karena Allah SWT belum mengutus seorang nabi sebelum Muhammad kepada mereka. Madzhab ahlussunnah wal jama’ah meyakini bahwa orang yang berbuat syirik pada masa pergantian antara nabi satu dengan nabi yang lain tidak terkena adzab.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal itu sangat banyak. Allah berfirman, wa maa kunna mu’adzzibiina hatta nab’atsa rasuula (Kami tidak akan menyiksa kepada seorangpun sampai kami mengutus seorang rasul).

Allah juga berfirman,

وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلا لَهَا مُنْذِرُونَ

Kami tidak mengadzab suatu negeri melainkan sudah Kami kirim para nabi dan rasul yang memberi peringatan kepada mereka. (QS. As-Syu’aro: 208).

Ayat-ayat di atas menunjukkan suatu hal yang diyakini oleh madzhab ahlussunah wal Jama’ah. Sesungguhnya Allah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya tidak mungkin menyiksa seseorang sampai Ia mengutus seorang rasul kepada mereka.

Ada sebagian orang mengatakan, “mungkin ketika orang tua nabi Muhammad masih hidup, Allah telah mengutus seorang rasul kepada mereka”. Perkataan ini bertentangan dengan dalil al-Qur’an yang berbunyi,

وَمَا آتَيْنَاهُمْ مِنْ كُتُبٍ يَدْرُسُونَهَا وَمَا أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَذِيرٍ

Kami tidak memberikan kepada mereka suatu kitab yang bisa mereka baca, dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu. (saba’: 44).

Firman Allah,

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Supaya engkau (Muhammad) menjadi orang yang memberi peringatan kepada kaum yang sebelumnya belum ada yang memberi peringatan, dan agar mereka semua menjadi oarng-orang yang ingat kepada Allah. (QS. Al-Qashas: 46).

Ayat-ayat al-Qur’an di atas sangat jelas menunjukkan bahwa orang tua nabi Muhammad tidak disiksa. Dan mereka tidak disiksa bukan karena menjadi orang tua nabi muhammad SAW. Namun mereka berdua adalah bagian dari generasi yang tidak ada nabi dan rasul diantara mereka.

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Al-Qur’an dan al-Hadits telah menerangkan bahwa Allah tidak menyiksa seseorang kecuali setelah adanya seorang utusan dari-Nya. Barang siapa yang belum mendengar peringatan Allah melalui lisan para rasul-Nya, maka ia tidak akan menerima siksaan dan adzab Allah.

Dan siapa yang telah mendengarkan risalah secara umum namun belum mendengarnya secara rinci, maka ia juga tidak disiksa, kecuali jika ia mengingkari dan menolak semua risalah yang disampaikan oleh Allah melalui utusan-Nya”. (al-majmu’ al-fatawa).

Adapun dalil yang menunjukkan selamatnya kedua orang tua nabi adalah firman Allah,

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Dan pergerakan nurmu (Muhammad) diantara orang-orang yang bersujud. (QS. As-Syu’ara: 219).

Mengenai ayat ini Ibnu Abbas rodliyallahu ‘anh berkata, “pergerakan Muhammad di dalam tulang sulbi Adam, Nuh, Ibrahim, hingga Allah mengeluarkannya menjadi seorang nabi”. (tafsiir thobari).

Dari Watsilah bin al-Asqo’, nabi bersabda, “sesunggunya Allah telah memilih Isma’il diantara anak-anak Ibrahim, lalu memilih Kinanah dari anak-anak Ismail, memilih Quraisy dari anak-anak Kinanah, memilih Hayim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim (HR Ahmad dan Muslim).

Sayyidina Abbas rodliyallahu ‘anh berkata, nabi bersabda, “sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan makhluk, menjadikanku sebagai sebaik-baik makhluk, dan menjadikan abadku sebagai abad yang terbaik, menjadikanku di dalam kabilah yang terbaik, dan menjadikanku berada dalam rumah dan keluarga yang terbaik. Aku adalah jiwa yang terbaik dan kelurgaku adalah keluarga yang terbaik (HR Ahmad dan at-Tirmidzi). Allah SWT mensifati keluarga nabi dengan sifat yang suci dan bagus yang tentu saja berlawanan dengan sifat kufur dan syirik.

Allah SWT berfirman ketika mensifati orang kafir,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis. (QS. At-Taubah: 28).

Namun dalam masalah ini ada sebagian orang yang memiliki pendapat berbeda. Mereka berpegang pada dua hadits yaitu:

  1. Rasulullah SAW bersabda, astadzantu rabbi an astaaghfiro li ummi, fa lam yadzan lii, was tadzantuhu an azuuro qobroha fa adzina lii (aku meminta izin kepada tuhanku agar aku berdo’a memohonkan ampunan untuk ibuku, namun Ia tidak memberi izin. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibu, dan Ia mengizinkan) (HR. Muslim)
  1. Ada seorang laki-laki yang berkata kepada nabi, “wahai Rasulallah! dimana tempat bapakku yang telah meninggal?, nabi menjawab, “dia di neraka”. Ia pun beranjak pergi dengan hati kecewa. Kemudian nabi memanggilnya dan berkata padanya, “sesunggunya bapakku dan bapakmu masuk neraka”. (HR Muslim).

Pendapat ini dapat ditentang dengan beberapa alasan yaitu:

  1. Di dalam hadits yang pertama tidak ada keterangan yang jelas yang mengatakan bahwa ibu nabi Muhammad berada di neraka. Adapun ketidakbolehan memintakan ampunan tidak menunjukkan bahwa dia seorang musyrik. Jika benar ia seorang musyrik, maka Allah tidak mungkin membolehkan nabi untuk menziarahi makamnya -karena tidak boleh hukumnya menziarahi makam orang musyrik-.
  1. Maksud nabi pada hadits yang kedua adalah pamannya. Paman nabi yang bernama Abu Tholib meninggal dunia setelah diutusnya Muhammad menjadi seorang rasul, sementara ia belum menyatakan diri masuk Islam. Sedangkan budaya orang Arab ketika mengucapkan kata ab (bapak), sesungguhnya yang dimaksud adalah paman. Sebagaimana firman Allah SWT mengenai Ibrahim,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً

Dan ketika Ibrahim berkata kepada pamannya, yang bernama Azar, “bagaimana mungkin engkau menjadikan patung-patung itu sebagai tuhan?!. (QS. Al-An’am: 74).

Ayat ini menyebutkan lafadz abihi (bapaknya), namun yang dimaksud bukan bapak tetapi paman. Sesungguhnya bapak kandung Ibrahim bernama Tarih -sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dan para ahli tafsir lainnya-.

Apabila mereka menolak alasan dan tawil di atas dan berpendapat dengan berlandaskan dzohir hadits yang kedua, maka pendapatnya tertolak karena ini bertentangan dengan al-Qur’an yang secara jelas mengatakan hal sebaliknya.

Kedua alasan di atas merupakan pendapat para imam dan ulama-ulama sepanjang zaman. Al-Hafidz al-Khothib al-Baghdadi mengatakan, “jika ada seseorang yang dapat dipercaya dan kuat hafalannya menyampaikan suatu hadits yang memiliki sanad yang bersambung, tetapi bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh banyak perowi dari beberapa sanad), maka ketahuilah! bahwa hadits tersebut tidak berdasar atau sudah dihapus”.

Terkait dengan masalah ini para ahli hadits seperti Imam Bukhori menolak hadis yang berbunyi, “Allah menciptakan tanah pada hari sabtu, menciptakan gunung pada hari ahad, menciptakan pohon pada hari senin, menciptakan yang dibenci pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menciptakan hewan untuk kendaraan pada hari kamis, dan menciptakan Adam diantara waktu sholat asar dan waktu malam di akhir hari Jum’at (HR Muslim).

Para ulama menolak hadits ini karena makna dzohir hadits ini bertentangan dengan al-Qur’an pada ayat inna robbakumuladzi kholaqos samawaati wal ardhi fii sittati ayyaam (al-A’rof: 45), artinya: “sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari”.

Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Imam Nawawi yang menentang dzohir hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Ia menolak hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah rodliyallhu ‘anha yang berbunyai, furidzot assholatu rok’ataini fil hadzor was safar.Wa uqshirot sholaatussafari waziida fi sholaatil khadzor (shalat itu diwajibkan sebanyak dua rekaat, yaitu dua rekaat pada saat tidak bepergian dan dua rekaat saat bepergian. Pada saat bepergian rekaat shalat diringkas, dan saat di rumah rekaat shalat ditambah) (HR. Bukhari, Muslim).

Alasan yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam menolak hadits ini adalah bahwa dzohir hadits ini mengatakan bahwa shalat pada saat bepergian itu maqsuroh (diringkas). Penamaannya dengan istilah maqshuroh bertentangan dengan nash al-Qur’an dan ijma’ kaum muslimin. Dimana ada hadits yang bertentangan dengan nash al-Qur’an atau ijma’ maka wajib hukumnya untuk meninggalkan makna dzohir hadits.

Para ulama mengatakan, “orang-orang yang mengatakan bahwa orang tua nabi Muhammad itu musyrik dianjurkan untuk memilih diantara dua metode yang benar. Yang pertama adalah metode tawil sebagaimana penjelasan di atas, karena metode tawil sama sekali tidak bertentangan dengan nash al-Qur’an.

Metode yang kedua adalah menolak hadits itu, karena makna dzohirnya bertentangan dengan nash al-Qur’an. Dan metode yang teakhir ini adalah metode yang banyak dipakai oleh para imam dan ulama-ulama besar sepanjang zaman”.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kedua orang tua nabi Muhammad itu selamat dan mereka tidak menerima adzab dari Allah. Bahkan kakek-kakek nabi semuanya selamat. Semoga Allah memberikan karunia kepada kita untuk mencintai nabi Muhammad dan memberikan anugerah pengertian mengenai betapa agung dan tingginya martabat dan derajat kedudukan nabi Muhamad SAW. Walhamdulillahi robbil alamiin.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

 

Share.

Leave A Reply