Naiklah Ke Maqam Yang Tinggi, Robek Hawa Nafsu

0

Ada tujuh tingkatan nafsu manusia, yaitu:

  1. Nafsu amarah
  2. Nafsu lawamah
  3. Nafsu mulhimah
  4. Nafsu roodliyah
  5. Nafsu mardliyyah
  6. Nafsu muthmainnah
  7. Nafsu kaamilah

Para ulama mengatakan bahwa 7 nafsu ini adalah manifestasi dari sebuah jalan yang berada diantara manusia dengan Allah SWT. Terdapat 70 ribu hijab (penutup) yang menjadi penghalang untuk mencapai wushul ila-Allah (sampai kepada Allah), oleh karena itu ada 10 ribu hijab yang menutupi masing-masing nafsu.

Seorang murid akan terus mengalami peningkatan maqom ketika ia berdzikir mengingat Allah. Dzikir berfungsi untuk merobek hijab-hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. Setiap nafsu memiliki sifat dan tanda-tandanya masing-masing. Melalui sifat itu seorang murid dapat mengetahui peningkatan yang terjadi pada dirinya selama berjalan menuju Allah.

Seorang murid dapat dikatakan telah wushul ila-Allah ketika ia telah mencapai tahapan nafsu yang terakhir. Dampak dari wushul ila-Allah ini adalah ia akan istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT, dan ia akan terus melakukan ketaatan dan menyembah Allah setiap saat tanpa henti.

Hampir setiap bidang ilmu kita akan menemukan sebagian orang yang memahaminya dengan kurang sempurna. Di sini para ulama mengingatkan kepada kita akan adanya akidah-akidah sesat yang harus dihindari. Akidah sesat itu diantaranya kepercayaan bahwa kewajiban ibadah bisa gugur setelah mendapatkan wushul ila Allah, Allah bisa menyatu dengan hamba-Nya seperti menyatunya dua jasad, atau seseorang melihat malaikat sebagaimana bentuk aslinya.

Disamping itu, mereka juga memberitahukan akan adanya kepercayaan mengenai seseorang yang mengaku pernah masuk kedalam surga dan memakan buahnya, atau kepercayaan bahwa alam adalah Allah itu sendiri. Ketahuilah bahwa kepercayaan-kepercayaan itu adalah sesat dan menyesatkan.

Syari’at yang disampaikan nabi Muhammad SAW kepada umatnya berasal dari Allah SWT. Syari’at adalah dasar ajaran agama Islam yang tidak akan mungkin dihapus atau hilang. Seseorang yang berusaha meningkatkan kualitas jiwanya, akan mengalami peningkatan dari satu maqam ke maqam selanjutnya. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kualitas ibadahnya.

Semakin ia naik ke maqom yang lebih tinggi, maka semakin rajin ibadahnya. Nabi Muhammad SAW selalu bangun malam hingga kakinya bengkak. Melihat hal itu Sayyidah Aisyah berkata kepada Nabi, “bukankah dosa-dosamu telah diampuni oleh Allah wahai nabi?”, nabi bersabda, “aku ingin menjadi hamba yang bersyukur”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal yang harus dilakukan oleh seseorang sebelum memulai berjalan menuju Allah adalah menyempurnakan imannya. Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada seorang syekh untuk masuk thariqoh. Tetapi sang syekh justru tersenyum seraya berkata kepadanya, “sempurnakan Islammu dulu”.

Islam akan sempurna ketika kita melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala yang haram. Setelah Islam kita sempurna, kita baru diperbolehkan untuk memulai menyempurnakan iman. Ketika iman telah sempurna, kita akan memulai berjalan menuju Allah SWT.

Orang yang tidak membawa bekal tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam thoriqoh. Bekal yang dibawa harus mencukupi. Perjalanan menuju Allah sangatlah jauh. Jarak tempuhnya adalah sepanjang umur kita hidup di dunia, mulai dari buaian sampai ke liang lahat. Apabila bekal dan peralatan kita lengkap, perjalanan akan cepat dan mudah untuk mencapai tujuan.

Bekal ini berguna untuk mengosongkan diri dari segala macam penyakit-penyakit hati seperti hasad, bodoh, iri, bersandar kepada dunia, dan syirik kepada Allah SWT walaupun itu hanya syirik kecil.

Riya’ adalah bagian dari syirik kecil. Apabila seseorang melakukan shalat agar dilihat oleh manusia, berarti ia telah merusak ibadahnya. Hal inilah yang menjadi sebab bahwa riya’ dikatakan sebagai syirik kecil. Nifaq dan takut kepada sesuatu selain Allah juga termasuk bagian dari perbuatan syirik.

Seorang muslim yang shalat, puasa, dan zakat, tetapi hatinya masih bergantung kepada dunia, maka ia tidak akan bisa melihat asraar dan anwaar. Ia tidak mungkin merasakan lezatnya ibadah. Ia tidak akan mengalami peningkatan dalam perjalanannya menuju Allah SWT. Oleh karena itu, seorang murid diharuskan untuk bisa mengosongkan hatinya dari segala sesuatu selain Allah SWT.

Seorang murid harus tahu bahwa ada taubat dari maksiat, juga ada taubat dari segala sesuatu selain Allah (taubat dari dunia dan alam raya). Seseorang yang hatinya mampu terlepas dari segala sesuatu selain Allah, berarti hatinya telah terlepas dari dunia dan segala isinya. Ia tidak menyukai sesuatu yang ada dan tidak merasa bersedih atau kecewa dengan yang tidak ada.

Ia telah sampai pada suatu kondisi yang sempurna di dalam bertawakal. Orang ini telah sampai pada tingkatan ridha dan pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT. Orang yang berada pada tingkat ini akan merasakan kenikmatan berdzikir dan kelezatan iman yang luar biasa.

Ketika kelezatan iman telah merasuk ke dalam kalbu, ia tidak akan pernah keluar untuk selamanya.

Allah SWT berfirman,

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “kami telah beriman”, katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujarat: 14).

Maksud dari firman Allah, ‘Iman belum masuk ke hatimu’ adalah imannya masih lemah. Iman mereka masih berhenti pada akal mereka. Hati mereka belum merasakan lezatnya iman. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiga hal yang apabila ia berada dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman yaitu; hendaklah Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain, ia mencintai seseorang karena Allah, dan ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka untuk dilempar ke dalam neraka”.

Orang yang sampai pada keadaan ini, hatinya akan bergantung hanya kepada Allah SWT. Ia akan mengalami peningkatan ibadah dari maqom satu kepada maqom selanjutnya dalam perjalanannya menuju Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW suatu ketika ditanya oleh malaikat Jibril mengenai apa itu ihsan, dan beliau menjawab bahwa ihsan adalah engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Perhatikanlah dengan teliti kalimat ‘seakan-akan engkau melihat-Nya’. Nabi Muhammad SAW mengibaratkan penglihatan kepada Allah dengan penglihatan pada umumnya, padahal Allah tidak dapat dilihat secara langsung dengan mata kepala di dunia ini. Keberadaan Allah hanya dapat disaksikan dengan penglihatan mata hati.

Kalbu orang-orang ‘arif (orang makrifat) memiliki mata yang mampu menyaksikan sesuatu yang tidak dilihat dengan mata kepala. Mata hati ini disebut dengan istilah bashiroh. Bashiroh memiliki kedudukan yang tinggi, jauh di atas bashor (mata kepala). Mata hati para ‘arif, melihat dengan cahaya Allah. Dengan cahaya Allah, mata hati dapat melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata kepala.

Allah berfirman,

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.

tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’raf: 143).

Maqom ihsan yang dijelaskan di dalam hadits Rasulullah yang berbunyi, “sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya”, mengandung perintah untuk senantiasa melihat dan merenungi diri kita masing-masing. Maqom ihsan adalah maqom sahabat Umar bin Khattab rodliallahu ‘anh. Beliau selalu melihat dirinya dengan cara memperhatikan hembusan nafasnya.

Tidak ada satu pun hembusan nafas yang dihirup melainkan ada kebesaran dan keagungan Allah bersamanya. Hatinya selalu dalam keadaan hudhur (bersama Allah) dan merasa haus untuk terus-menerus berada dalam pengawasan Allah SWT.

Seseorang yang setiap saat bisa menghadirkan Allah dalam hatinya, ia tidak akan berani melakukan maksiat. Ia tidak mungkin berbuat dzolim. Ia selalu ada bersama dengan Allah ta’ala. Ketika sedang menyembah dan beribadah kepada Allah seolah-olah ia bisa melihat Allah. Ini adalah maqom muroqobah (kedekatan dengan Allah).

Kita merasa sangat sulit untuk selalu dalam keadaan berdzikir kepada Allah, apalagi meraih maqom yang ditempati oleh sayyidina Umar bin Khattab, para wali, dan orang-orang saleh. Untuk mencapai tingkatan mereka, kita harus melatih diri dengan mempertebal keyakinan bahwa Allah selalu melihat kita. Dia Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu -yang tampak maupun yang tersembunyi-. Mari kita menjadi hamba yang bertakwa dan takut hanya kepada Allah SWT, sang penguasa alam raya.

Ungkapan, “beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya”, juga mengandung perintah agar kita selalu dalam keadaan berdzikir dan mengingat Allah SWT. Kita tidak akan mencapai maqom ini kecuali apabila kita telah mencapai maqom fana’ (lenyap).

Maqom fana’ adalah suatu kondisi dimana kita merasa diri ini sudah lenyap. Kita ada karena Allah menjadikan kita ada. Kekuatan dan kemampuan kita berasal dari kekuatan Allah SWT. Setiap saat kita membutuhkan Allah, kita hanya bergantung kepada Allah, sementara Allah tidak membutuhkan kita. Dan pada akhirnya kita akan menyadari bahwa wujud (keberadaan) yang hakiki adalah keberadaan Allah SWT.

Keberadaan kita dan makhluk lain bukanlah wujud hakiki. Wujud manusia adalah wujud majazi (khayalan) yang akan hancur. Wujud yang memiliki akhir dan batas waktu tertentu. Apabila kita telah merasakan hal ini, maka kita telah berada pada maqom ru’yah (melihat Allah).

Para kekasih Allah telah sampai pada tingkatan ru’yah. Dengan hati mereka yang suci mereka merasakan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh-Nya. Sifat-sifat seperti; Allah maha hidup, berdiri sendiri, yang awal, yang akhir, dzahir, batin, dan berkuasa atas segala sesuatu. Sifat-sifat Allah yang terwujud dalam asma’ul husna tidak terbatas pada jumlah dan bilangan tertentu. Akan tetapi, jumlah asma’ul husna yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebanyak 158. Adapun di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh sebanyak 99. (HR. Bukhari Muslim)

An-nafsu al-basyariyyah (jiwa kemanusiaan) memiliki ahwal (kondisi-kondisi). Jiwa / ruh pada mulanya berada di sisi Allah. Kemudian Allah memasukkannnya ke dalam jasad manusia. Namun karena berada di dalam jasad, ruh merasa seperti dipenjara. Ruh ingin selalu keluar untuk terbang menuju singgasana Allah SWT, tetapi ia terhalangi oleh hijab yang sangat banyak. Dengan kebeningan hati, para ‘arif dapat melihat bahwa hijab yang menutupi ruh sebanyak 70.000.

Para ulama membagi ruh / jiwa / nafsu ke dalam 3 tingkatan, dan sebagian ada yang membaginya menjadi 7 tingkat. Para ulama mengatakan bahwa seseorang akan berhadapan dengan hijab-hijab yang menghalanginya dari Allah SWT pada saat berjalan dari satu maqom ke maqom berikutnya. Tahapan awal nafsu / jiwa manusia dinamakan dengan an-nafsul ammarotu bissu’ (jiwa yang selalu memerintahkan manusia untuk berbuat maksiat).

Para ulama menjelaskan ada 4 penghalang manusia untuk menuju Allah yaitu; nafsu, syetan, hawa, dan dunia. Keempat hal ini harus dijadikan sebagai musuh. Mereka senantiasa berusaha menghalangi manusia yang sedang berjalan menuju Allah SWT. Mereka selalu berusaha memasukkan manusia ke dalam kesenangan duniawi.

Mereka juga membelokkannya dari jalan lurus karena mereka tahu bahwa jalan lurus adalah jalan yang paling dekat untuk mencapai Allah SWT. Kebeningan hati selalu dikeruhkan oleh 4 hal tersebut.

Nafsu merupakan penghalang yang paling kuat. Nafsu selalu melekat dalam diri manusia. Hal ini berbeda dengan dunia yang terkadang ada dan terkadang tidak, begitu pula dengan syetan yang datang dan pergi.

Kita dapat membedakan antara godaan nafsu dengan godaan-godaan yang lain dengan cara melihat kebiasaannya yang selalu datang berulang-ulang dan terus-menerus. Para ulama mengatakan, ‘Nafsu adalah musuh bebuyutan manusia’.

Kita dapat membedakan dengan jelas antara godaan nafsu dengan godaan syetan. Para sufi mengatakan bahwa godaan setan tidak berlangsung lama, tidak kembali, dan tidak berulang-ulang. Ia datang dan menggoda manusia melalui dadanya.

Apabila manusia mampu bertahan dan tidak terbujuk dengan godaannya, setan tidak akan kembali untuk yang kedua kalinya. Tetapi suatu saat syetan akan kembali menggoda manusia agar melakukan maksiat yang lain.

Ketika manusia malas melakukan shalat, berdzikir, atau berkeinginan melakukan keburukan tetapi kemudian tiba-tiba malasnya menghilang, maka ini adalah godaan syetan.

Allah berfirman,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (QS. An-Naas: 4-5)

Godaan syetan itu lemah sehingga ia tidak mampu menguasai kita. Kita dapat mengusir setan dengan mudah. Jika adzan berkumandang, syetan pergi. Kita berdzikir, syetan menghindar. Kita membaca akhir surat Al-Baqarah, syetan menghilang. Kita membaca ayat kursi, setan kepayahan.

Dengan membaca dzikir pagi dan sore kita telah menjaga diri kita dari godaan setan. Setan dapat diusir dengan cara yang mudah jika kita mau menghiasi kehidupan kita dengan dzikir, Al-Qur’an, ibadah, wudlu, adzan, shalat, dan puasa.

Akan tetapi kita memiliki masalah besar, yaitu nafsu. Untuk memerangi hawa nafsu kita memerlukan tarbiyyah (pendidikan). Ia datang berulang-ulang dan terus menerus. Jika kita mampu melawannya di awal kedatangannya, ia akan datang lagi untuk yang kedua kalinya, dan seterusnya. Nafsu tidak mudah menyerah, ia selalu mengajak manusia untuk terus berbuat maksiat.

Ketika kita ingin berbuat dosa atau ingin meninggalkan kewajiban, sementara keinginan itu terasa lama dan terus-menerus, maka ketahuilah bahwa demikianlah godaan nafsu. Marilah kita selalu berusaha mendidik nafsu kita.

Tingkatan nafsu manusia yang pertama adalah an-nafsul ammarotu bissu’ (nafsu yang memerintahkan manusia untuk berbuat jahat). Apabila kita terus-menerus memerangi nafsu, kita akan naik ke tingkatan berikutnya yang dinamakan dengan an-nafsul lawwamah. Pada tingkatan ini, manusia terus-menerus berperang melawan nafsunya. Suatu saat ia mampu mengalahkan nafsunya, tetapi terkadang gagal dan mengikuti ajakan nafsu.

Akan tetapi, kemudian ia bertaubat dan kembali masuk ke arena peperangan melawan hawa nafsu. Jika ia banyak memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu, ia akan naik lagi menuju an-nafsul mulhimah. Inilah tingkatan nafsu yang ketiga.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa tingkatan ini adalah permulaan fana’. Oleh karena itu, mereka hanya membagi nafsu ke dalam 3 tingkatan saja yaitu; ammarah, lawamah, dan mulhimah. Tetapi sebagian ulama yang lain mengatakan, “kita tidak akan berhenti hanya di permulaan kamal (kesempurnaan). Kita harus terus naik menuju tingkatan selanjutnya, yaitu rodliyyah, mardliyyah, muthmainah, dan kamilah”.

Syekh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

 

 

 

Share.

Leave A Reply