Meniru Tawakalnya Nabi Muhammad SAW

0

Meniru Tawakalnya Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Diantara sifat-sifat mulianya ia memiliki sifat tawakal yang kuat kepada Tuhannya. Ketika agama Islam masih berumur jagung, para pemeluknya yang masih sedikit banyak mendapatkan tekanan dan hinaan dari kaum kafir quraisy. Hal ini juga terjadi pada diri nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari nabi hendak masuk ke dalam Ka’bah, namun sayang keinginan nabi tidak dipenuhi oleh penjaga Ka’bah yang bernama Usman bin Thalhah, justru nabi dihina dan dimaki-maki dengan kata-kata yang menusuk hati. Meski begitu nabi tetap tegar lalu berkata kepada Thalhah, “Hai Thalhah, suatu saat nanti kunci Ka’bah itu akan berada di tanganku dan aku bebas meletakkannya dimana saja”, Thalhah menimpali, “jika itu benar maka quraisy akan hancur dan hina”, “tidak, justru quraisy akan jaya dan mulia”. Benar apa yang dikatakan nabi, kunci itu akhirnya berpindah ke tangan mulia Rasulullah setelah peristiwa Fathul Makkah.

Ancaman, hinaan, dan tekanan yang terus-menerus dilakukan oleh kafir quraisy menyebabkan nabi harus memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Mengetahui kabar bahwa nabi telah meninggalkan Mekah, mereka menyiapkan 100 ekor bagi siapa yang dapat menangkap atau membunuh Muhammad. Suraqah bin Malik adalah orang yang paling bernyali karena tergiur dengan hadiah itu. Suraqah pun mengejar nabi muhammad yang hijrah berdua bersama dengan sahabatnya Abu Bakar As-Siddiq. Ketika sahabat Abu Bakar melihat Suraqah, ia merasa khawatir akan keselamatan nabi, namun hal itu tidak dihiraukan oleh nabi, nabi tetap berjalan kedepan tidak menoleh sambil terus berdoa kepada Allah, hingga Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada kekasihnya-Nya dan terjadilah apa yang terjadi pada Suraqah.

Pada saat nabi bersembunyi di dalam gua hira’, orang-orang kafir quraisy mengejar mereka hingga sampailah mereka di mulut gua. Namun, mereka ragu akan keberadaan Muhammad dan Abu Bakar di dalam gua itu, karena di pintu gua ada sarang laba-laba yang masih sempurna menutupi gua. Pikir mereka, jika Muhammad dan Abu Bakar berada di gua ini pasti rumah laba-laba itu telah rusak. Sambil memperhatikan orang-orang kafir yang berada sangat dekat dengan gua itu Abu Bakar sangat khawatir dan berkata kepada nabi, “wahai nabi, jika mereka melihat kaki mereka pasti mereka melihat kita”, nabi menenangkan Abu Bakar, “tenang wahai Abu Bakar, sungguh Allah bersama kita”. Allah tidak akan lupa kepada hamba-hamba yang bertawakal kepada-Nya, dan benar saja orang-orang itu pergi dan kembali kerumah masing-masing dengan tangan kosong.

Ketika perang badar berlangsung, nabi yang pada saat itu berada di dalam kemah -yang didirikan oleh para sahabat- berdoa, “ya Allah, penuhilah janji kemenangan itu, penuhilah janji kemenangan itu, ya Allah jika umat muslim kalah dan mereka semua mati, maka siapa yang akan menyembah-Mu”. Tidak lama kemudian datang berita gembira dari Allah, lantas memberitahukannya kepada Abu Bakar, “kabar gembira, kabar gembira wahai Abu Bakar”, dan ketika mendengar ini semangat para sahabat bergelora, hingga kemenangan perang badar pun benar-benar terwujud.

Ketika Madinah akan diserang oleh segenap jazirah Arab, nabi memutuskan untuk membuat parit yang mengelilingi kota madinah. Hal ini bertujuan agar para musuh tidak bisa masuk ke Madinah. Karena perang ini mengunakan siasat parit, perang ini kemudian dinamakan dengan perang khandaq (parit). Ketika para sahabat sedang menggali parit, mereka menemukan sebuah batu yang sangat sulit untuk dipecahkan, sehingga salah satu dari mereka melaporkan hal ini kepada nabi.

Nabi yang pada saat itu juga bersama-sama mereka menggali parit mendekat pada batu itu, beliau mulai berdoa, menengadahkan tangannya kelangit, lalu dengan tanganya nabi memukul batu itu dengan membaca takbir lalu berkata, “telah diberikan kepadaku kunci-kunci Syiria dan aku dapat melihat menara-menaranya dari sini”, nabi memukul untuk kedua kalinya sambil berucap, “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci Persia dan aku bisa melihat kota-kotanya dari sini”, dan pada pukulan yang ketiga nabi berkata, “Allahu Akbar, telah diberikan kepadaku kunci-kunci Yaman, dan aku bisa melihat pintu-pintu Shan’a dari sini”, kemudian batu itu pecah, para sahabat ikut meneriakkan takbir seraya berkata, “ini adalah janji Allah yang pasti terjadi, ini adalah janji Allah yang pasti terjadi”.

Dr. Nizar Abazhah, Syakhshiyatur Rasul, Damaskus 2012

Share.

Leave A Reply