Nabi Ibrahim dan Ismail Membangun Ka’bah

0

Nabi Ibrahim dan Ismail Membangun Ka’bah. Ketika sudah memasuki usia senja, Nabi Ibrahim belum juga dikaruniai keturunan. Sang istri (Sarah) sangat sedih melihat keadaan ini dan meminta Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar. Dari Hajar inilah Allah mengkaruniai Ibrahim seorang anak bernama Ismail. Dan Sarah tidak mampu memendam rasa pilunya karena tidak mendapatkan keturunan sepanjang perkawinannya dengan Nabi Ibrahim As.

Nabi Ibrahim As. kemudian mengadukan permasalahannya kepada Allah. Lalu Allah perintahkan Nabi Ibrahim membawa Ismail bersama Hajar untuk menjauh dari Sarah. Nabi Ibrahim pun bertanya, “Ya Allah, kemana aku harus membawa keluargaku?” Allah berfirman, “Bawalah ke tanah Haram-Ku dan pengawasan-Ku, yang merupakan daratan pertama Aku ciptakan di permukaan bumi yaitu Mekkah.”

Lalu Malaikat Jibril As. turun kebumi membawa kendaraan cepat. Kemudian Jibril membawa Hajar, Ismail dan Nabi Ibrahim As. Setiap kali Nabi Ibrahim AS melewati suatu tempat yang memiliki ladang kurma yang subur, ia selalu meminta Jibril untuk berhenti sejenak. Tetapi Jibril selalu menjawab, “teruskan lagi” dan “teruskan lagi”. Sehingga akhirnya sampailah di Mekkah, dibawah sebuah pohon yang cukup melindungi Hajar dan anaknya Ismail dari terik matahari.

Selanjutnya Nabi Ibrahim As. bermaksud pulang kembali ke negeri Syam menemui Sarah, istri pertamanya. Hajar merasa sedih karena akan ditinggalkan oleh suami tercintanya. Mengapa menempatkan kami disini. Tempat yang sunyi dari manusia, hanya gurun pasir, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan?” tanya Hajar sambil memeluk erat bayinya, Ismail. Ibrahim menjawab: “Sesungguhnya Allah yang memerintahkanku menempatkan kalian di sini”.

Lalu Ibrahim beranjak pergi meninggalkan mereka. Sehingga sampai di bukit Kuday yang mempunyai lembah, Ibrahim berhenti sejenak dan melihat kepada keluarga yang ditinggalkannya. Dia lalu berdoa, seperti yang diabadikan dalam Al Qur’an. Allah berfirman mengulangi doa Nabi Ibrahim As, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Setelah Nabi Ibrahim As. pergi, tinggallah Hajar bersama bayinya Ismail. Ketika sinar matahari mulai menyengat, bayi Ismail menangis kahausan. Hajar pun panik mencari air. naluri keibuannya berusaha gigih mencari air. Awalnya hajar naik ke bukit Shafa, tetapi tidak menemukan air. Lalu ia pergi lagi ke bukit Marwa dan disanapun tidak menemukan air. Hajar mulai panik dan putus asa sehingga tidak menyadari bahwa telah tujuh kali berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwa. Namun ia tetap tidak menemukan air diantara dua tempat tersebut.

Akhirnya dari bukit Marwa, Hajar melihat ke arah Ismail. Dia heran, bayinya tiba-tiba berhenti menangis. Hajar pun melihat air mengalir dari bawah kaki Ismail. Hajar berlari dengan girang ke arah tempat bayinya. Dia berusaha menggali pasir, membendung air yang mengalir tersebut sambil melafazkan kalimat ‘Zam Zam’ (menampung). Sejak saat itu hingga sekarang, mata air tersebut dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai sumur Zam Zam.

Berselang beberapa waktu kemudian, lewatlah kabilah Jurhum di sekitar tempat itu. Ketika berada di bukit Arafah, mereka melihat kerumunan burung-burung beterbangan di atas udara. Mereka yakin disana pasti ada sumber air. Mereka segera mendekati tempat tersebut. Setelah sampai, mereka terkesima melihat seorang wanita bersama bayinya duduk di bawah pohon dekat sumber air tersebut. Kepala suku Jurhum bertanya kepada Hajar,Siapakah anda dan siapakah bayi mungil yang ada dalam gendongan anda itu?” Hajar menjawab, “Saya adalah ibu dari bayi ini. Ia anak kandung dari Ibrahin As. yang diperintahkan oleh Tuhannya menempatkan kami di lembah ini.

Lalu kepala suku Jurhum meminta izin tinggal berseberangan dengannya. Hajar menjawab, “Tunggulah sampai Ibrahim datang. Saya akan meminta izin kepadanya”. Tiga hari kemudian, Nabi Ibrahim As. datang melihat kondisi anak dan istrinya. Hajar meminta izin kepada Ibrahim agar Kabilah Jurhum bisa menjadi tetangganya. Nabi Ibrahim pun memberi izin dan Kabilah Jurhum menjadi tetangga Hajar dan Ismail di tempat itu. Pada kesempatan berziarah selanjutnya, Ibrahim menyaksikan tempat itu sudah ramai oleh keturunan bangsa Jurhum dan Nabi Ibrahim merasa senang melihat perkembangan itu.

Hajar hidup rukun dengan bangsa Jurhum hingga Ismail mencapai usia remaja. Selanjutnya Allah Swt. memerintahkan kepada Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam As. Tetapi Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu, karena Qubah tersebut telah diangkat lagi oleh Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh As. Kemudian Allah mengutus Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim posisi Ka’bah. Kemudian Jibril datang membawa beberapa bagian Ka’bah dari surga. Dan Ismail membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dari bukit.

Kemudian Nabi Ibrahin dan Ismail bekerja membangun Ka’bah sampai ketinggian 7 hasta. Jibril lalu menunjukkan kepada mereka posisi Hajar aswad. Kemudian Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad pada posisinya semula. lalu Ibrahim membuatkan dua pintu Ka’bah. Pintu pertama terbuka ke timur dan pintu kedua terbuka ke barat.

Ketika selesai pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail melakukan ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah Jibril turun menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim.  Jibril meminta Nabi Ibrahim mendistribusikan air Zam Zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari ‘Tarwiyyah’ (pendistribusian air). Setelah selesai pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an :

“Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa, “Yaa Tuhanku. jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian”. Allah berfirman, “Dan kepada orang yang kafir pun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah : 126)

Sejak itu, kaum Muslimin melaksanakan ritual haji untuk berziarah ke Ka’bah setiap tahun. Ini mengikuti risalah Nabi Ibrahim As. dan Nabi Ismail As., serta risalah para Nabi dan Rasul setelah keduanya. Ritual suci ini berlangsung terus seperti pelaksanaan yang pernah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail.

 

Share.

Leave A Reply