Mutiara Nasehat Tokoh Sufi ABDULLAH AL-ABHARI

0

Namanya adalah Abu Bakar Abdullah bin Thahir Al-Abhari, wafatnya sekitar tahun 330 H / 942 M. Hidup semasa dengan Dalf As-Syibli. Termasuk guru besar (Syeikh) yang sangat alim dan wara’. Bersahabat dengan Yusuf bin Al-Husin dan lainnya.

Diantara Nasehatnya:

1. Barangsiapa yang memberi seorang fakir, janganlah ia memberi karena kefakirannya. Jika karena begitu berikanlah sebatas keperluannya.

2. Jika kamu memenuhi undangan tetanggamu, kurangilah berbicara tentang dunia.

RUWAIM BIN AHMAD

Namanya Abu Muhammad Ruwaim bin Ahmad. Wafat pada tahun 303 H / 915 M. Termasuk guru besar (Syekh) yang paling dihormati, berkebangsaan Baghdad, seorang Muqri’ (Ahli bacaan Al-Qur’an) dan ahli fikih madzhab Dawud.

Diantara Mutiara Nasehatnya:

1. Hakim yang bijak adalah yang memberikan kelonggaran hukum pada orang lain tetapi mempersulit hukum pada diri sendiri.

2. Abu Abdullah Al-Khafif pernah berkata kepada Ruwaim, “berilah saya wasiat”, ia menjawab, “masalah (tasawuf) tidak bisa dicapai kecuali dengan mencurahkan jiwa. Memasuki tasawuf harus dengan pencurahan jiwa. Jika tidak, janganlah menyelam dalam tasawufmu yang tiada guna”.

3. Bergaul dengan semua lapisan masyarakat membuatmu lebih aman dari pada bergaul hanya dengan orang-orang sufi saja. Karena kebanyakan orang berperilaku sesuai dengan garis hukum, sedangkan kelompok sufi berperilaku di atas prinsip hakekat. Kebanyakan orang hanya menuntut dzahir syariat, sedangkan para sufi menuntut diri mereka pada hakikat wara’ dan menetapi ketulusan.

Barangsiapa yang memasuki dunia sufi dan mengingkari apa yang mereka hakikatkan, maka Allah akan mencabut cahaya iman dan hakikatnya.

4. Saya pernah melewati Baghdad pada siang hari yang panas. Ketika itu saya berjalan di beberapa jalan dalam keadaan sangat haus. Saya mencoba meminta minum kepada salah satu penghuni rumah. Kemudian muncullah anak perempuan kecil membuka pintu rumah dengan membawa sebuah tempat air minum.

Ketika melihatku, ia berkata, “seorang sufi minum air di siang hari”. Maka sejak saat itu aku tidak pernah membatalkan puasaku.

5. Jika Allah memberimu kemampuan untuk memberi nasehat dan mengamalkannya, lalu saya mengambil nasehat itu hal itu adalah sebuah nikmat.

Jika saya melaksanakannya, tetapi engkau tidak melaksanakannya maka itu adalah musibah bagimu.  Jika kamu tidak punya nasehat dan engkau tidak berbuat baik maka itu adalah siksaan.

 

Abul Qasim Hawazin Al-Qushairi, Risalah Qushairiyah

 

Share.

Leave A Reply