Murid Harus Melakukan Kholwat Untuk Mendapatkan Futuh

0

Salah satu metode yang digunakan oleh Imam al-Muhasibi dalam proses berjalan menuju Allah SWT adalah dengan berkholwat. Beliau berkata, “apabila sang murid bisa membuat malaikat Atid menahan penanya untuk tidak mencatat keburukannya selama 40 hari dengan cara berkholwat, maka akan terbuka sumber-sumber hikmah dari dalam hatinya. kemudian ia akan menjadi sangat yakin bahwa thoriqoh adalah jalan yang benar. Barang siapa yang mencobanya dan tidak merasakan apa yang saya katakan pukullah saya dengan sandal”.

Para ulama menyebutnya dengan istilah kholwah arba’iniyyah (menyepi dan menyendiri dalam waktu 40 hari). Mereka mendasarkan praktek ini pada kholwat yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW di gua Hira. Beliau pergi memisahkan diri dari manusia untuk fokus melakukan ibadah kepada Allah SWT.

Kholwat bertujuan untuk memutuskan hubungan dengan manusia, dunia, dan permasalahannya. Di sini ia berusaha agar malaikat Atid tidak menggerakkan penanya untuk mencatat keburukan-keburukannya selama 40 hari di dalam, karena ketika kholwat sang murid tidak akan melakukan dosa dan maksiat.

Pada akhirnya akan terbukalah hikmah-hikmah di dalam hatinya yang tampak dari perkataan lisannya. Pengertian hikmah amat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun para ulama sering mengatakan bahwa hikmah adalah tersingkapnya rahasia-rahasia ketika sang murid menjalankan adab yang bagus dan bersopan santun kepada Allah SWT.

Disamping itu sang murid juga akan mengetahui rahasia cara berjalan yang benar menuju Allah, rahasia alam mulk dan malakut, tersingkapnya cahaya-cahaya dan keyakinan yang besar bahwa jalan ini adalah jalan yang diridloi oleh Allah SWT yang sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.

Pada zaman dahulu sarana-sarana komunikasi dan hiburan seperti telepon, televisi, internet, belum ada. Sehingga sang murid memiliki waktu lapang yang banyak, sehingga ia memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan kegiatan berfikir dan berdzikir. Akan tetapi pada saat ini kehidupan telah dipenuhi dengan berbagai jenis hiburan dan fasilitas hidup yang membuat kita kesulitan untuk terlepas darinya.

Lalu bagaimana cara ulama mengatasi semua ini?. Mereka telah mendidik dan menganjurkan para murid untuk senantiasa melanggengkan wudlu. Maksudnya bahwa ia harus menjaga diri agar senantiasa selalu dalam keadaan suci sepanjang waktu. Oleh karena itu ketika sang murid buang angin, ia harus segera berwudlu seketika itu juga.

Ketika melakukan kholwat para ahli thoriqoh sangat menyukai pakaian yang putih, karena dengan pakaian yang putih dapat mendatangkan rahasia-rahasia. Para peneliti telah menyatakan bahwa pakaian yang putih dapat menjadikan seseorang memiliki daya fokus yang besar ketika sedang berfikir.

Ia akan lebih mudah menghayati penciptaan alam raya. Disamping itu pakaian yang putih juga termasuk salah satu dari sunnah nabi Muhammad SAW. Dalam kondisi suci dan memakai pakaian putih para murid lebih mudah untuk melakukan praktek berfikir merenungi keagungan Allah SWT dan berdzikir.

Allah SWT berfirman, “Allah SWT mempunyai asma’ul husna (nama-nama yang bagus), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari jalan kebenaran. Pada waktunya nanti, mereka akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka kerjakan”.[1]

Nabi Muhammad SAW bersabda, “sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, 100 kurang satu. Barang siapa menghafalnya, ia akan masuk surga”.[2]

Para sufi memiliki 3 cara untuk melakukan dzikir ketika berkholwat, yaitu dengan mengucapkan lafadz ‘Allah, Allah, Allah’, atau dengan lafadz ‘ar-rohman, ar-rohman, ar-rohman’, atau dengan ‘ya Allah, ya Allah, ya Allah’. Mereka gemar berdzikir dengan nama-nama itu karena itu semua lebih merasuk pada akal dan penghayatan kalbu dari pada nama-nama yang lain.

Akan tetapi sebagian dari mereka mempunyai cara lain. Ada 7 dzikir yang mereka namakan dengan sab’atul ushul (tujuh pondasi). Caranya dimulai dengan dzikir ‘laa ila ha illallah, kemudian dzikir ‘Allah’, lalu ‘ya Hu’, ‘ya Hayyu’, ‘ya Qoyyum’, ‘Allah Hayyul Qoyyum’, ‘al-Haqqu’, dan ‘al-Qohhar’.

Dan yang harus kita ketahui adalah setiap mursyid memiliki cara yang berbeda-beda di dalam memilih nama-nama yang termasuk kedalam 7 pondasi tersebut. Dan yakinlah, bahwa semuanya mengandung makna keseluruhan asma’ul husna yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Asma’ul husna yang terdapat di dalam hadits sebanyak 164 dan yang terdapat di dalam al-Qur’an sebanyak 158. Apabila semuanya digabungkan maka jumlahnya menjadi 220 setelah dikurangi jumlah nama-nama yang sama. Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai riwayat-riwayat hadits yang mengatakan bahwa jumlah asmaul husna ada 99.

Sebenarnya jumlah asma’ul husna tidak hanya terbatas pada bilangan-bilangan yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupuin al-Hadits. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika nabi Muhammad SAW berdoa, “ya Allah! aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-nama-Mu, yang dengan nama itu Engkau menyebut diri-Mu, atau dengan nama yang Engkau katakan dalam kitab-Mu (al-Qur’an dan al-Hadits), atau dengan nama yang Engkau ajarkan pada salah seorang makhluk-Mu, atau dengan nama yang hanya Engkau yang mengetahuinya”.[3]

Dari hadits di atas, kita dapat memahami bahwa diantara asma’ul husna itu ada yang hanya diajarkan pada sebagian makhluknya. Bahkan ada nama-nama yang disembunyikan di alam ghaib dan hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Dengan berdzikir seorang murid mengalami peningkatan maqom. Dengan dzikir latho’if al-khomsah (5 hal yang lembut) hati dan jiwa menjadi berreaksi. 5 hal lembut ini adalah kalbu, ruh, sir, khofi, dan akhfa. Dan 5 hal ini juga dapat dikatakan sebagai 5 tangga, yang mana seseorang tidak mungkin mencapai tangga yang kedua sebelum melewati tangga pertama dan seterusnya.

Semua tangga ini berada di alam mulk. Jumlah tangga keseluruhan ada 10 apabila kita gabungkan dengan 5 tangga yang sama yang berada di alam malakut. Dan setelah sang murid terus mengalami peningkatan maqom dan melewati kelima tangga malakut itu, seorang murid akan menaiki tangga-tangga yang mengantarkannya menuju ‘arsy Allah yang maha agung. Dan di atas ‘arsy masih ada beberapa alam lagi.

Alam adalah segala sesuatu selain Allah. Ada beberapa alam yang harus diketahui oleh seorang murid diantaranya alam rohimut, alam laahut, alam jabarut, dan alam ‘adzomuut -yang merupakan alam tajalliyat (penampakan) Allah SWT-. Alam-alam ini adalah akhir dari sesuatu yang bisa dilihat oleh manusia dengan mata hati. Sesungguhnya Allah tidak terbatas dan memiliki akhir.

Tidak ada satu makhlukpun yang mampu membatasi lingkup dan kuasa Allah SWT. Baik itu mala’ikatul muqorrobin (malaikat yang mengelilingi ‘arsy Allah) maupun para nabi dan rasul. Dialah Allah yang maha besar, maha bijaksana, dan mengetahui segala hal. ‘Arsy tidak bisa meliputi-Nya.

Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui hakekat Allah ‘azza wajalla. Bahkan nabi Muhammad SAW tidak bisa mengetahui hakekat Allah ‘azza wajalla. Tuhan adalah Tuhan dan hamba adalah hamba. Amatlah berbeda antara yang diciptkan dan yang menciptakan.

Orang yang melakukan kholwat akan senantiasa berdzikir sampai Allah membuka hatinya. Biasanya hati akan terbuka setelah melewati hari ke-20. Namun sang murid akan menyempurnakannya sampai hari ke-40 dengan tujuan ingin mendapatan barokah dan mengucapkan pujian dan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia yang besar ini.

Futuh (terbukanya hati) membuat seseorang menjadi sangat yakin, sehingga keraguan di dalam ibadahnya dan kelemahan imannya akan risalah kenabian Muhammad SAW menghilang. Ia semakin yakin atas jalan yang sekarang telah mulai ditempuh, dan percaya akan praktek yang diikutinya. Disamping itu ia juga akan merasa lebih sabar dan ridlo atas segala masalah dan musibah yang menimpanya.

Ada 2 hal yang harus dilakukan murid ketika melakukan kholwat, yaitu berdzikir dan berfikir. Ia harus berfikir mengenai ciptaan Allah SWT. Dengan terus-menerus menghayati kekuasaaan Allah, ia akan merasakan kewibawaan dan kebesaran Allah SWT. Ia juga akan merasakan kelemahan dan ketiadaberdayaan dirinya. Ia menjadi sadar akan kebutuhan dirinya untuk selalu bergantung dan bersandar kepada Allah SWT.

Kita tidak dapat terlepas dari nikmat imdad (karunia) Allah SWT. Apabila Allah menghentikan nikmat imdad itu sekejap saja, maka kita akan hancur. Segala sesuatu menjadi ada karena Allah SWT. Pada hakekatnya segala sesuatu tidak ada karena hanya Allahlah yang ada.

Hubungan antara Allah dengan alam hanya berada diantara huruf kaf dan nun. Hanya dengan mengatakan kun (jadilah), dengan seketika yang tidak ada menjadi ada. Seseorang yang mampu merasakan hal ini, maka ia akan tahu. Barang siapa yang tahu, maka ia akan menggayung (red:mengambil manfaat).

Banyak ulama sufi yang ketika berkholwat dengan melakukan puasa. Puasa sangat membantu seorang murid dalam meningkatkan ruh ke maqom yang lebih tinggi. Selama 40 hari, ia berusaha untuk menyucikan dirinya dengan berbagai cara. Banyak murid yang menghindari makanan-makanan bernyawa atau yang memiliki ruh.

Mereka hanya memakan tumbuh-tumbuhan. Makanan yang dikonsumsi ulama zaman dahulu hanyalah zabib, kurma, dan jenis kacang-kacangan. Bahkan ada sebagian dari mereka yang menambah riyadloh (tirakat) dengan menghindari segala makanan yang disentuh api. Jadi mereka tidak mengonsumsi daging, roti, dan tumbuh-tumbuhan yang dimasak. Selama 40 hari, mereka hanya mencukupkan diri dengan tumbuh-tumbuhan yang mentah.

Hal positif dari praktek ini adalah hilangnya penyakit-penyakit di dalam tubuh. Buang air hanya dilakukan sekali dalam seminggu, atau sekali dalam sebulan, bahkan ada yang hanya sekali dalam empat puluh hari itu. Mereka tenggelam di dalam lautan berfikir dan berdzikir hingga Allah membuka mata hatinya. Imam Sya’roni berkata, “ketika aku sedang berkholwat, Allah membuka hatiku hingga tersingkap bagiku 124.000 ilmu setiap harinya”.

Futuh tersebut tidak memiliki makna kecuali apabila menjadikan sang murid semakin beradab dan bersopan santun kepada Allah SWT. Di dalam kholwat ini, seorang murid akan merasakan sujudnya hati. Bagi yang tidak mencobanya, ia tidak akan pernah merasakannya.

Syekh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

 

[1]               Surat Al-A’raf ayat 180

[2]               Hadits riwayat Bukhori dan Muslim

[3]               Hadits riwayat Ibnu Habban, Hakim, dan Thabrani

Share.

Leave A Reply