Mewaspadai Nafsu Amarah

0

Mewaspadai Nafsu Amarah. Jiwa manusia terdiri atas 7 tingkatan. Tingkatan pertama kita namakan dengan annafsul ammarotu bissu (nafsu yang mengajak berbuat maksiat). Nafsu pada tingkatan ini terbagi kedalam beberapa tingkatan. Terkadang ia berada pada tingkatan yang paling buruk, yaitu nafsu dalam keadaan kafir.

Nafsu ini senang menyekutukan Allah dan mengingkari keberadaan-Nya. Tingkatan selanjutnya, ia beriman kepada Allah, akan tetapi masih senang menuruti hawa nafsu untuk bermaksiat. Ia lupa akan perintah dan larangan Allah SWT. Meski demikian ia masih meyakini bahwa Allah itu ada, mempercayai bahwa Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka.

Ia juga mengetahui bahwa pada hari akhir semua manusia akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan. Ia masih disebut sebagai orang Islam, namun ia durhaka. Kemaksiatan ini menghijabnya dari melihat Allah SWT.

Ketika ia akan melepas diri dari maksiat, nafsunya akan dengan mudah menariknya kembali untuk berbuat maksiat. Ia tidak peduli dengan adanya pahala dan siksaan Allah, ia juga tidak peduli pada marah dan ridlonya Allah. Tingkatan ini dinamakan dengan tingkatan nafsu amarah.

Nafsu amarah senantiasa mengajak pemiliknya untuk berbuat maksiat. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat keburukan”.[1] Setelah selesai dengan suatu maksiat, ia akan beralih untuk melakukan maksiat yang lain. Ia juga gemar mengulang maksiat yang sama. Umurnya habis dalam kehidupan yang penuh dengan kegelapan.

Syekh Ali Jum’ah, At-Tariq ila Allah

 

[1]               Surat Yusuf ayat 53

Share.

Leave A Reply