Merenungkan Asma’ul Husna Ketika Bertafakur

0

Berfikir dan berdzikir adalah pondasi menuju jalan Allah SWT. Ketika terjadi suatu musibah, ia tidak merasa goyah. Ketika ditimpa bencana ia tidak bimbang. Ia menjadi yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang luhur.

Allah SWT juga memiliki asma’ul husna yang tidak terbatas jumlahnya. Apabila kita mau berfikir lebih dalam lagi mengenai asma’ul husna, maka kita akan mendapati bahwa asma’ul husna secara keseluruhan dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu sifat jamal, jalal, dan kamal. Sifat-sifat jamal diantaranya adalah sifat kasih sayang, lembut, pengampun, dan lain-lain.

Apabila manusia mampu berakhlak dengan sifat-sifat ini, maka akan tampak kelembutan hatinya. Adapun sifat-sifat jalal diantaranya sifat Allah yang perkasa, kuat, dan memaksa. Adapun yang ke-tiga adalah sifat kamal.

Kamal berarti sempurna. Allah SWT berbeda dengan makhluk lain. Hanya Allah yang memiliki sifat jamal dan sifat jalal. Allah memiliki sifat-sifat yang berada di atas sifat-sifat makhluk yang lain. Dialah sang pencipta makhluk dan hanya kepada-Nya semua akan kembali.

Seorang mukmin hendaknya berakhlak dengan sifat jamal, sebab Allah SWT menampakkan diri-Nya di dalam pembukaan kitab suci al-Qur’an dengan sifat jamal. Allah SWT berfirman, “bismillahir rohmanir rohim” dan tidak mengatakan “bismillahir rohmanil muntaqiim”.

Allah SWT memiliki sifat jamal dan jalal, namun Allah SWT datang kepada hamba-Nya dengan membawa sifat jamal saja.

Disamping itu kita juga mengenal istilah takholluq (berakhlak) dan istilah ta’alluq (bergantung). Manusia bertakholluq dengan sifat-sifat jamal dan berta’alluq dengan sifat-sifat jalal. Manusia tidak diperbolehkan berakhlak dengan sifat Allah yang kibr (sombong) dan sifat Allah qohr (yang memaksa). Dengan sifat-sifat ini, hendaknya manusia bergantung.

Kita akan kembali sejenak pada pembahasan takholli dan tahalli. Takholli adalah pembersihan hati dari segala hal yang buruk. Sedangkan tahalli adalah penghiasan hati dengan yang baik-baik setelah melewati proses takholli.

Takholli dan tahalli membantu seorang murid untuk berdzikir dan berfikir dengan dzikir dan pemikiran yang menyelamatkan dirinya.

Setelah melewati takholli dan tahalli dengan baik, seorang murid akan merasakan tajalli. Maqom tajalli ini berhubungan langsung dengan sifat kamal Allah SWT. Kita tidak bertakholluq dan berta’alluq dengan sifat kamal. Akan tetapi sifat kamal Allah akan muncul dengan sendirinya di dalam hati seorang mukmin.

Inilah pancaran dan sinar ilahi yang muncul dari hati yang bersih dan suci -yaitu hati yang telah kosong dari sifat-sifat buruk dan telah dihiasi dengan sifat-sifat yang baik-.

Salah satu sifat kamal Allah adalah hakim (bijaksana). Apabila Allah SWT telah menampakkan diri di dalam hati seorang murid, ia akan sampai kepada hikmah. Allah SWT berfirman, “barang siapa yang diberi hikmah, maka ia telah diberi kebaikan-kebaikan yang banyak”.[1]

Apabila Allah SWT telah memberinya, berarti ia telah mencapai maqom hikmah robbaniyah. Ia akan menjadi ahli hikmah. Akalnya akan menjadi ukuran/timbangan untuk mempertimbangkan bahwa sesuatu itu benar atau salah.

Allah SWT berfirman, “Allahlah yang menurunkan kitab-Nya dengan hak (kebenaran) dan mizan (timbangan)”.[2] Allah tidak hanya menurunkan kitab, tetapi Ia juga menurunkan mizan.

Perlu diketahui bahwa waktu wushul (sampainya seseorang kepada Allah) itu berbeda-beda. Wushul adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ada yang menempuh thoriqoh dalam waktu 30 tahun. Tetapi ada pula yang menempuhnya hanya dalam waktu 30 detik. Semuanya kembali kepada Allah SWT.

Anugerah Allah diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya. Pemberian Allah tidak bergantung kepada ilmu dan amalan seseorang, akan tetapi bergantung pada kehendak Allah SWT. Ada yang sampai kepada Allah melalui jadzab (ditarik oleh Allah), dan ada pula yang sampai kepada Allah dengan melewat jalan suluk (amalan dan dzikir).

Telah dibahas sebelumnya bahwa manusia itu terdiri atas 3 golongan yaitu awam, khusus, dan khowasul khowas. Orang khowasul khowas ini seperti layaknya orang awam secara dzohir, namun hatinya bergantung di atas ‘arsy. Berbeda dengan hati orang-orang awam yang bergantung kepada dunia. Orang khowasul khowas juga bekerja mencari nafkah. Namun hatinya bergantung dan berharap hanya kepada Allah. Sedangkan Hati orang awam lupa kepada Allah SWT, karena banyak berharap dan bersandar kepada sesuatu selain Allah SWT.

Syekh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

[1]               Surat Al-Baqarah ayat 269

[2]               Surat As-Syu’ara ayat 17

Share.

Leave A Reply