Menyibukkan Diri Dengan Ibadah Di Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah

0

Menyibukkan Diri Dengan Ibadah Di Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah. Selama sebelas bulan kita telah menyibukkan diri kita dengan urusan-urusan duniawi dan menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu. Oleh karena itu, kita banyak melewatkan banyak sekali ibadah dan kesunahan-keusanahan nabi Muhamad Saw. Namun, Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya, sehingga Dia menyiapkan satu bulan yang memiliki nilai pahala dan keutamaan yang berlipat-lipat. InsyaAllah, jika bulan Ramadhan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya maka ia akan menutupi kekurangan-kekuranan kita dalam sebelas bulan itu. Apalagi di dalamnya ada satu malam yang disitimewakan Allah daripada malam-malam yang lain. Itulah malam Lailatul Qadar, yang nilai pahalanya lebih baik dari pada 1000 bulan. Barangsiapa yang beribadah di malam itu dan Allah menerimanya, maka Allah akan melipatkan pahalanya hingga sampai pahala 1000 bulan. Alhamdulillah.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan ini dengan menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang diperintahkan. Apabila kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik maka kecenderungan kita untuk berbuat maksiat akan hilang. Jika keinginan untuk bermaksiat dan melakukan dosa-dosa telah hilang, maka kita akan merasakan manisnya ketaatan. Jika kita telah merasakan manisnya ketaatan, maka kita tidak akan pernah berhenti untuk terus berbuat kebaikan. Kita akan membaca Al-Qur’an hingga khatam beberapa kali. Kita akan bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud lalu bermunajat hingga waktu shubuh. Kita akan memberikan sedekeh kepada orang-orang yang membutuhkan.

Kita juga akan memaafkan setiap kesalahan yang diperbuat oleh saudara kita, betapa pun besarnya. Kita akan menyambung hubungan silaturrahim setelah sekian lama terputus. Kita akan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti. Kita akan menebarkan kasih sayang dan cinta kepada orang-orang yang membenci kita, dst. Sehingga Ramadhan ini benar-benar menjadikannya berubah menjadi lebih baik, dan kebaikannya akan terus berlangsung setelah ia keluar dari Ramadhan nanti.

Mari kita membaca hikmah di bawah ini,

 

[Jika pikiran tidak disibukkan dengan yang diperintahkan, maka ia akan cenderung dengan yang dilarang]

 

Akal adalah salah satu nikmat Allah yang dianugerahakan oleh Allah kepada manusia. Oleh karena itu, hendaknya manusia mensyukuri akal dengan cara memeliharanya dari hal-hal yang merusaknya dan menggunakannya dengan sebak-baiknya. Akal harus dipakai untuk berfikir mengenai hal-hal yang baik. Akal harus dipakai untuk berfikir tentang masa depan yang baik. Akal harus dipakai untuk berfikir tentang kemajuan dan semangat hidup. Akal harus dipakai untuk befikir tentang bagaimana memberikan kemanfaatan bagi banyak orang. Akal harus dilapakai untuk mempelajari ilmu-ilmu tentang cara beribadah kepada Tuhan. Akal harus dipakai untuk mencari petunjuk jalan tercepat dan termudah untuk bisa mengenal Allah Swt. Akal harus dipakai untuk berfkir tentang alam akherat yang menjadi tempat bagi manusia. Akal harus dipakai untuk befikir tentang neraka, sebagai tempat orang-orang yang berbuat jahat, dan surga sebagai tempat orang-orang yang bebuat jahat. Akal harus dipakai untuk merenungkan keindahan dan kedahsyatan ciptaan-ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta. Dst.

Akan tetapi, kita melihat ada sebagian manusia yang tidak bisa mensyukuri nikmatnya akal. Mereka merusak akal dengan membiarkannya tumpul karena tidak pernah digunakan untuk berfikir. Mereka merusak akal dengan membiarkannya dalam kemalasan. Mereka merusak akal dengan memasukkan ke dalamnya, ilmu-ilmu yang menjauhkannya dari ibadah. Mereka merusaknya dengan berfikir bagaimana cara memuaskan hawa nafsu. Mereka merusak akal dengan berfikir bagaimana cara mendapatkan keinginannya meski harus melanggar aturan yang berlaku. Mereka merusak akal dengan terus-menerus tengelam dalam urusan dunia yang melalaikan. Mereka merusaknya dengan meminum zat-zat yang dapat menghilangkan akal, seperti minuman keras dan pil ekstasi. Mereka merusakan akal dengan melihat sesuatu yang haram untuk dlihat. Mereka merusak akal dengan lamunan dan khayalan-khayalan yang semakin menjauhkannya dari Allah Swt.

Setelah akal mereka rusak, maka ia akan sulit untuk diperbaiki. Bagaimana ia akan mau diajak untuk beribadah jika tidak terlintas sedikitpun di akalnya, gambaran tentang surga?. Bagaimana ia akan mau diajak untuk meninggalkan kemaksiatan, jika tidak terlintas sedkitpun tentang kejamnya siksa neraka?. Bagaimana ia mau mengerjakan shalat, jika akalnya tidak pernah diajak berfikir tetang pentingnya shalat?. Bagaimana ia akan mau melakukan puasa, jika ia tidak pernah berfikir tentang keutamaan-keutamaan puasa?. Bagaimana ia akan melakukan kebaikan, jika akalnya tidak pernah diajak untuk berfikir tentang kemuliaan-kemuliaan yang terkandung dalam kebaikan?.

Setelah ia tidak mau melakukan ibadah, tidak tertarik dengan kebaikan, tidak ingin mendekat kepada Allah, tidak memperhatikan hukum-hukum Allah, tidak merasakan keberadaan Allah, dan tidak paham akan akherat, maka ia telah tersesat. Apabila ia tidak menemukan orang yang menolongnya sampai akhir hayatnya, maka ia benar-benar menjadi orang yang binasa. Ia akan mendapatkan balasan-balasan dari setiap kemaksiatan yang dilakukannya sebab kebodoham akalnya. Kekufuran pada nikmat akal akan berujung pada kebodohan. Dan kebodohan akan berujung pada panasnya api neraka. Semoga kita semua termasuk orang yang bisa menyukuri nikmat akal, Amiin.

 

Allah berfirman,

قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu termasuk orang yang berakal. (Ali Imran [3]: 118)

 

Allah berfirman,

وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu berfikir? (QS. Al-An’am [6]: 32)

 

Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka Apakah kamu tidak memikirkannya?. (QS. Al-Mukminun [23]: 80)

 

Allah berfirman,

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al-Hasyr [59]: 21)

 

Wallahu A’lam.

 

Share.

Comments are closed.