Mentertawakan itu ringan, tapi berat bagi yang ditertawakan. Jangan banyak tertawa, tapi banyaklah menangisi diri sendiri

0

Mentertawakan itu ringan, tapi berat bagi yang ditertawakan. Jangan banyak tertawa, tapi banyaklah menangisi diri sendiri.

Apabila seseorang sedang merasakan kebahagiaan maka biasanya ia akan tertawa. Islam tidak melarang sesuatu yang menjadi fitrah manusia, namun jika berlebih-lebihan tentu Islam akan melarangnya. Rasulullah Saw. telah memberikan contoh kepada para sahabat tentang bagaimana tertawa yang dibolehkan. Melalui hadits-hadits yang diriwayatkan, kita dapat membaca, bahwa yang banyak dilakukan nabi Muhammad adalah tersenyum dan hanya sesekali tertawa. Dan ketika tertawa, beliau tidak pernah mengeraskan suaranya, tetapi beliau hanya memperlihatkan gigi gerahamnya.

Di dalam Islam, hukum tertawa tidak hanya boleh, tetapi terkadang juga menjadi sunnah yang bernilai ibadah. Ketika seseorang tertawa atau tersenyum di hadapan temannya dengan maksud menghiburnya atau menyenangkan hatinya, maka ia telah melakukan ibadah. Rasulullah Saw. juga pernah bersabda, bahwa senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Hadits tersebut menunjukkan bahwa tersenyum adalah bagian dari sedekah yang bernilai pahala.

Akan tetapi ada juga tertawa yang haram hukumnya, yaitu apabila dengan tertawa itu seseorang bermaksud menghina atau merendahkan orang lain. Ketika seseorang melihat kekurangan dan aib orang lain, kemudian ia tertawa dengan maksud menyakiti hatinya, maka ia telah melakukan perbuatan dosa. Inilah tertawa yang dilakukan oleh orang-orang kafir quraisy yang mentertawakan Nabi Muhammad Saw. pada permulaan Islam. Mereka tertawa dengan maksud ingin menyakiti nabi Muhammad. Dengan sombongnya, mereka mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah orang gila, dan apa yang dikatakannya bukanlah wahyu yang datang dari Allah, tetapi hanya khayalan dan karangan Muhammad belaka.

Sebagai umatnya, hendaknya kita mencontoh sikap Nabi Muhammad Saw. ketika menghadapi berbagai macam hinaan dan celaan. Nabi Muhammad Saw. tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan bersabar. Ia pasrahkan segalanya kepada Allah Swt. Dan pada akhirnya, Islam benar-benar mencapai kejayaannya, hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia berkat kesabaran Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, jika kita mau meneladani sikap dan keteguhan Nabi Muhammad, maka pada akhirnya kita juga akan mencapai kemenengan dan keberuntungan.

Hinaan tidak boleh dibalas dengan kehinaan, tetapi dengan doa. Jika kita membalas menghina, maka Allah akan murka kepada kita. Dalam sebuah riwayat, bahwa Nabi Muhammad membalas mendoakan penduduk Thaif atas tindakan mereka melempari beliau dengan batu karena menolak dakwah nabi Muhammad. Semoga kita mampu mencontoh keteguhan dan kesabaran nabi Muhammad Saw. dalam berdakwah.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

 

Wallahu A’lam

 

 

 

 

 

 

Share.

Leave A Reply