Menolak Mereka Yang Tidak Membolehkan Bertaqlid Dan Bermadzhab

0

Menolak Mereka Yang Tidak Membolehkan Bertaqlid Dan Bermadzhab

1. Penolakan pertama

Mereka mengatakan; bahwa sesungguhnya dalil yang diwajibkan oleh agama untuk diikuti adalah al-Qur’an dan al-Hadits, bukan pendapat para imam.

Jawab: Dalil syar’i bukan hanya terbatas pada al-Qur’an dan al-Hadits, tetapi ia juga mencakup ijma’, qiyas, perkataan para sahabat, ‘urf, istihsan, dan lain-lain. Membatasi makna ‘dalil’ hanya terbatas pada al-Qur’an dan al-Hadits adalah bentuk kedangkalan akal, karena ‘dalil’ memiliki makna yang umum yang tidak hanya sebatas pada al-Qur’an dan al-Hadits.

Dua sumber hukum utama -al-Kitab dan as-Sunnah- adalah dalil-dalil yang menjadi sumber ditetapkannya suatu hukum syar’i oleh para mujtahid, begitu pula dengan dalil-dalil yang lain. Oleh karena itu pendapat para imam mujtahid tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Perkatan para mujtahid adalah hasil dari pemahaman mereka akan kandungan al-Qur’an dan al-Hadits.

Menggunakan pendapat para mujhtahid bukan berarti meninggalkan al-Qur’an dan al-Hadits, akan tetapi sama saja dengan berpegang pada keduanya. Ayat-ayat dan hadits-hadits tidak akan sampai kepada kita tanpa melalui perkataan para ulama.

Mereka adalah orang-orang yang mengetahui keshohihan hadits dan kedzo’ifannya, mursal dan marfu’nya, mutawatir dan masyhurnya. Disamping itu mereka juga mengetahui akan nasikh dan mansukh, rahasia bahasa arab, dan berbagai macam cabang ilmu-ilmu Islam.

Dengan kejernihan hati dan ketajaman akal, mereka mampu menangkap isi al-Qur’an dan al-Hadits dengan berlandaskan pada kaidah-kaidah ilmu yang dibutuhkan. Mereka dapat menyingkap rahasia-rahasia al-Qur’an dan al-Hadits dan mengambil faedah dan hukum-hukumnya.

Lalu mereka menjelaskan kepada manusia akan ilmu-ilmu yang belum tampak sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang berjasa besar dalam memudahkan urusan umat Islam dan membantu menyelesaikan segala permasalahannya. Sesungguhnya dengan sebab para ulama dan mujtahidlah kebaikan dapat tersebat luas. (maqolaat wa fatawa syekh Yusuf ad-Dajwa).

2. Penolakan yang kedua

Mereka mengatakan; bahwa para muqollid tidak meninggalkan pendapat madzhabnya jika pendapatnya bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Oleh karena itu tindakan ini sama saja menentang Allah dan Rasulullah.

Jawab: untuk menjawab pertanyaan ini Syeh al-Kaironawi mengatakan, “sesungguhnya kalimat ‘perkataan imam mujtahid bertentangan dengan perkataan Allah dan Rasulullah’ dapat dipahami menjadi dua. Yaitu pertama, memang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Berarti dalam hal ini imam yang diikuti oleh orang awam itu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad, sehingga ia salah dalam menyimpulkan suatu hukum.

Oleh karena itu kami anjurkan kepada orang itu untuk meninggalkan imam ini. Dan yang kedua meskipun secara dzohir pendapat imam mujtahid itu bertentangan dengan dzohir ayat al-Quran maupun al-Hadits, tetapi secara substansi pendapat mereka selaras dengan al-Qur’an dengan landasan berbagai dalil yang melatarbelakangi kesimpulan hukum dari mujtahid ini.

Dan pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada mereka adalah bagaimana kita bisa mengatakan bahwa mujtahid itu bertentangan dengan al-Quran sedangkan kita bukan orang yang diberi kemampuan berijtihad?!.

Sesungguhnya mengikuti pendapat orang yang menyalahkan mujtahid tanpa adanya dalil yang kuat adalah taqlid yang dilarang. Bagaimana mereka melarang taqlid, tetapi mereka sendiri melakukan taqlid?! (fawa’id fii ilmil fiqih).

3. Penolakan yang ketiga

Mereka mengatakan; bahwa bertaqlid kepada para imam mujtahid bertentangan dengan nasehat dan anjuran mujtahid itu sendiri, karena mereka melarang umat Islam untuk bertaqlid kepada mereka.

Jawab: tuduhan bahwa para imam mujtahid telah melarang untuk bertaqlid kepada mereka adalah tuduhan yang batil dan tidak benar, karena tidak ada satu riwayatpun yang menceritakan hal ini.

Dan mengikuti pendapat orang -yang melarang untuk bertaqlid kepada para imam mujthid- adalah taqlid itu sendiri, padahal menurut mereka taqlid itu dilarang. Sesungguhnya perintah untuk bertaqlid kepada mereka dan meninggalkan taqlid kepada para imam mujtahid menghendaki adanya pertentangan dan kerancuan. Oleh karena itu hukumnya batil.

Jika benar ada larangan dari para imam untuk bertaqlid kepada mereka, maka larangan itu ditujukan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad (fawa’id fii uluumil fiqh, al-Kaironawi).

Dari penjelasan singkat di atas maka jelaslah bagi kita tentang makna taqlid dan batilnya alasan-alasan yang dipakai oleh sebagian orang yang melarang bertaqlid kepada para ulama. Kami memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan hidayah dan keselamatan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply