Meningkatkan Rasa Qana’ah di Bulan Ramadhan

0

Meningkatkan Rasa Qana’ah di Bulan Ramadhan. Ketika berpuasa Ramadhan, kemudian kita merasakan atas apa yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kelaparan, maka kita menjadi tersadar, bahwa selama ini Allah telah memberikan nikmat-nikmat yang sangat banyak. Bahkan ia tidak hanya dicukupi kebutuhan makannya setiap hari, tetapi ia bebas memilih menu apa saja yang ingin ia makan. Dengan uangnya yang banyak ia bisa makan di restoran dan tempat makan dimana saja. Hari ini ia menjajal menu di tempat ini, dan besok ia pergi ke tempat yang lain, dan bahkan ia relah pergi ke tempat yang sangat jauh demi hanya untuk mencicipi suatu makanan.

Bahkan ia tidak hanya bisa makan dimana pun ia suka, tetapi ia bisa mendapatkan barang-barang apa saja yang ia inginkan. Uangnya telah menumuk di dalam tabungannya, karena kerja kerasnya. Dengan uangnya itu ia bisa membeli pakaian semahal apapun. Ia juga bisa membeli mobil semewah apapun. Ia juga bisa membeli rumah sebesar apapun, dan bahkan ia bisa membeli pulau. Ia terus ingin menumpuk hartanya, karena keinginannya terus hidup. Keinginannya tiada pernah habis sampai kapan pun. Kebutuhannya tidak akan terpenuhi sampai kapan pun. Cita-citanya tidak memiliki batasan dan akhiran.

Di bulan Ramadhan ini, ia benar-benar tersadar bahwa selama ini ia telah menjadi budak nafsu. Hidup ini sebenarnya murah dan mudah. Dengan hanya makan sepiring nasi ia sudah kenyang dan telah memiliki tenaga untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. Dengan hanya sepiring nasi ia bisa membaca Al-Quran sampai berlembar-lembar. Dengan sepiring nasi ia bisa mempelajari ilmu-ilmu agama berjam-jam. Dengan sepiring nasi ia bisa membaca dzikir Laaila ha illallah ribuan kali. Dengan sepiring nasi ia bisa membantu orang lain dengan kecerdasan otak dan tenaga badannya.

Betapa ia tersadar akan waktu-waktu sebelumnya yang ia habiskan demi menumpuk harta dan menuruti keinginannya. Betapa hidup ini hanya sebentar dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Betapa waktu yang telah terlewat itu tidak bisa lagi terulang, sehingga bisa diisi dengan kebaikan-kebaikan dan amal ibadah. Betapa ia telah menyia-nyiakan hidupnya demi melakukan hal-hal yang tidak penting. Betapa ia telah menjual agama dengan hartanya. Betapa ia telah menyia-nyiakan pahala surga yang kenikmatannya tiada terhingga.

Ia pun mulai melatih diri dengan memasukkan sifat Qana’ah di dalam hatinya. Ia melakukan segala sesuatu dengan niat ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt. Apapun yang diberikan Allah dari rezeki-rezeki dunawi ia terima dengan ikhlas dan senang hati. Ia hanya fokus pada tugasnya sebagai hamba, dan ia yakin bahwa Allah tidak akan menyi-nyiakan hamba yang tulus taat kapada-Nya.

Mari kita renungkan hikmah di bawah ini,

 

[Masalah itu kecil, tapi kita membesarkannya. Kebutuhan itu sedikit, tapi kita membanyakkannya]

 

Manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, hal-hal selain ibadah menjadi urusan Allah Swt. Selain beribadah, manusia juga akan diuji oleh Allah Swt, agar Ia mengetahui bagaimana kadar keimanannya kepada-Nya. Jika imannya kuat dan ia bisa lolos dalam ujian Allah selama di dunia, maka ia pantas untuk mendapatkan surga. Namun, jika imannya lemah dan ia gagal dalam ujian, maka Allah akan menyiksanya jika Dia berkehendak, atau Dia akan mengampuninya jika berkehedak.

Permasalahan dan adanya kebutuhan hidup adalah bagian dari ujian Allah Swt. Dan, ibadah yang harus dikerjakan oleh manusia ketika ditimpa suatu permasalahan atau kebutuhan hidup yang menghimpit, adalah bersabar dan memasrahkan segalanya kepada Allah Swt. Sungguh hanya itu yang dituntut untuk dilakukan oleh seorang hamba, karena Allahlah yang akan menyelesaikan permasalahannya dan mencukupi kebutuhannya di waktu yang dikehendaki oleh Allah Swt. Apabila manusia melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dan meminta tolong hanya kepada Allah, maka Allah akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang beruntung.

Akan tetapi, kebanyakan orang tidak mengetahui perannya sebagai hamba. Ketika ditimpa suatu permasalah dan kebutuhan hidup yang menindih, ia tidak mau besabar dan berdoa kepada Allah Swt. Ia terlalu terburu-buru untuk segera menghilangkan permasalahannya sendiri. Ia bergantung pada akal dan kekuatan dirinya hingga melupakan Allah Swt. Ia ingin mengatur segalanya dengan usahanya sendiri. Ia meyakini bahwa dirinya bisa mengubah apa yang telah ditetapkan padanya. Apa yang dilakukanya bukan merupakan bagian dari ikhtiar lalu bergantung kepada Tuhan, tetapi ia seperti meniadakan peran Tuhan. Ia tidak sadar bahwa itu semua adalah bagian dari ujian dan peringatan agar ia ingat dan kembali kepada Tuhan. Meskipun pada akhirnya nanti permasalahan benar-benar selesai, namun ia tidak akan bisa melihat kebesaran Tuhan, tetapi yang dilihat adalah kebesaran dirinya sendiri.

Diangkatnya musibah, yang seharusnya menjadikannya semakin tawadhu’ dan rendah hati, malah menjadikannya sombong dan berbangga diri. Ia benar-benar tidak mengerti bahwa Tuhanlah yang sebenarnya mengangkat musibah darinya. Terhadap orang seperti ini, Allah telah menyiapkan balasannya di akherat nanti. Bahkan ketika di dunia ia telah merasakan kesempitan hidup yang terus-menerus.

Orang yang tidak memasrahkan dirinya kepada Allah akan merasa capek ketika menghadapi permasalahan. Sebab, permasalah itu memang bagian Allah yang Maha Besar yang menyelesaikannya, sedangkan bagian hamba hanya berdoa dan berikhtiar semampunya. Apabila manusia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, maka tentu ia akan sangat capek. Ia juga merasa begitu lelah ketika harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Ia tidak merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah. Ia ingin memiliki banyak harta dan kekayaan. Oleh karena itu, ia akan berusaha sekuat tenaga seakan-akan ia bisa merubah apa yang telah ditetapkan padanya. Sehingga badan dan pikirannya akan terus merasa lelah setiap harinya. Padahal bagiannya akan tetap mengikuti apa yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz, yang tidak bisa diganti dengan usaha sekeras apapun.

Allah berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (QS. Al-Hadiid [57]: 22)

 

Allah berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (QS. At-Taghaabun [64]: 11)

 

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

 

Allah berfirman,

ثُمَّ إِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari pada kamu, tiba-tiba sebahagian dari pada kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). (QS. An-Nahl [16]: 54)

 

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply