Mengenai Hukum Shalat Tasbih, Pendapat Ulama-Ulama Madzhab Empat

0

Ulama madzhab Hanafi, Imam Ibnu Abidin di dalam khasyiyahnya mengatakan bahwa shalat tasbih yang berjumlah empat rekaat boleh dikerjakan kapan saja. Boleh dilakukan satu kali dalam sehari atau sekali seminggu, sekali dalam sebulan, atau sekali semasa hidup. Dan hadits ini hukumnya hasan, dan sangat keliru orang yang mengatakan bahwa hadits shalat tasbih itu palsu. Shalat tasbih memiliki pahala yang besar, dan orang yang meninggalkannya termasuk orang yang meremehkan agama. (khasyiyah roddul muhtar ‘ala durril mukhar, Ibnu Abidin).

Sedangkan dari ulama yang bermadzhab Maliki, al-Khathob di dalam kitab mawahibul jalil membagi macam-macam fadhilah (shalat yang memiliki keutamaan) yaitu dua rekaat shalat fajar dan shalat tasbih sebagaimana dikatakan oleh al-Qodli ‘Iyadh di dalam kitab qowa’idnya. (mawahibul jalil).

Adapun menurut ulama yang bermadzhab Syafi’i, al-Khothib as-Syarbini mengatakan di dalam kitab mughnil muhtaj bahwa hukum shalat tasbih adalah sunnah. Dan ini adalah pendapat yang dijadikan sebagai pegangan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sholah dan lainnya. (mughnil muhtaaj).

Dan dari kalangan madzhab Hambali, diriwayatkan bahwa imam Ahmad mengingkari hadits ini. Dalam hal ini Ibnu Hajar mengatakan, “diriwayatkan dari Ali bin Said an-Nasa’i, beliau berkata, “aku bertanya kepada Ahmad mengenai shalat tasbih”, lalu beliau menjawab, “shalat tasbih itu tidak sah”, aku berkata, “di dalam sanad hadits sholat tasbih ini ada al-Mustamir bin ar-Royan dari Abul Juzaa’ dari Abdulah bin Amr”, lalu Imam Ahmad berkata, “siapa yang menyampaikan hadits ini kepadamu”? aku menjawab, “Muslim bin Ibrahim”, lalu imam Ahmad mengatakan bahwa al-Mustamir itu orang yang dapat dipercaya”.

Ibnu Hajar mengatakan, “dari sini dapat kita katakan bahwa imam Ahmad sebenarnya membenarkan hadits ini dan mengatakan bahwa shalat tasbih itu boleh dilakukan. Sedangkan perkataan imam Ahmad yang mengatakan bahwa shalat tasbih tidak sah bertentangan dengan hadits dan pendapat para ulama yang mengatakan kesunahannya.

Setelah memaparkan banyak pendapat para ulama, maka dapat kami katakan bahwa tidak ada larangan untuk melaksanakan shalat tasbih. Ini temasuk amalan yang memiliki fadhilah (keutamaan) yang besar. Adapun orang yang mengatakan bahwa hadits shalat tasbih itu hadits dzo’if, maka boleh hukumnya berlandaskan pada hadits dzo’if untuk melaksanakan suatu amalan yang mengandung fadhilah (keutamaan) menurut kesepakatan para ulama. Sesungguhnya shalat tasbih adalah bagian dari shalat sunnah yang mengandung dzikir kepada Allah. Tidak ada satupun perkara di dalam shalat tasbih yang bertentangan dengan prinsip dasar syareat. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply