Menganal Al Habib Mundzir al Musawwa, Sang Raja Hati

0

Menganal Al Habib Mundzir al Musawwa, Sang Raja Hati. Kemaqbulan dan kemasyhuran yang beliau miliki adalah keagungan Gurunya yang di letakkan “ dengan sengaja “ oleh Sang Guru keatas pundaknya karena sesungguhnya keagungan semacam itu tidak pas /tidak tepat jika di letakkan di tanah Hadromaut yang mulia.

Tanah Hadromut adalah tanah yang di ciptakan Tuhan untuk rumah-rumah kekhumulan , ketasatturan , dan tidak akan kuat menerima hal-hal yang berlawanan dengan itu semua . Sebagaimana pernah terjadi saat kemasyhuran Al Quthub Ali Bin Muhammad Al Habsyi begitu memmpesona mata , para Auliya “ berbisik “ bahwa keagungan semacam ini tidak akan pernah Hadromut mampu kuat menahannya lama-lama.

Maka kemudian terjadi sebuah peristiwa-peristiwa di kota Sewun yang membuat Al Habib Ali memutuskan untuk mengekspor Majlis – Majlis agungnya yang selalu di datangi puluhan ribu orang itu ke Tanah Jawa melalui salah satu murid beliau , Al arif billah Al Habib Alwi bin Muhammad al Habasyi . Kepada muridnya ini , beliau mengirim sebuah surat perintah untuk :

“ Buatlah Majlis Maulid Tahunandi Jawa , dimana engkau kumpulkan banyak orang dari penjuru daerah untuk membaca untaian kisah Maulid ( simthud Durar ) ku ini dan engkau jamu mereka semua … “

Jadilah kemudian Majlis Maulid Habibana Ali Al Habasyi tersebar kepenjuru negeri ini dengan pesatnya , karena kemasyhuran dan kemegahan-kemegahan semacam ini Tanah Jawa adalah tempatnya.

Senada dengan itu , keagungan Habiban Umar bin Hafidz serta kemasyhurannya Tanah Hadromut tidak pas untuk mengayominya . Maka beliau “ titipkan” keagungannya itu kepada para murid beliau di luar Hadromut , dan salah satunya melalui Al Habib Mundzir al Musawa dengan Majlis Rasulullahnya.

Atau yang kedua , mungkin alasannya memang muncul dari pancaran rahasia spiritual Habib Mundzir sendiri . Dimana selama berdakwah , beliau selalu menyampaikannya dengan hati sanubari , bukan sekedar kemahiran mengumbar narasi di atas mimbar atau kelihaian dalam mengalahkan hujjah musuh-musih dakwahnya.

Sesungguhnya dakwah ( kalimat-kalimat ) yang meluncur dari ruang-ruang hati , akan menumbuhkan buah – buah kemaqbulannya.

Al Habib Mundzir tampaknya memang sudah terpilih untuk mengambil peran itu . Dirinya “ terpilih “ bahkan dimulai saat sepertinya keadaan tidak memungkinkannya.
Saat Al Habib Umar berkeliling Indonesia di awal tahun 90-an , untuk mencari calon murid yang akan beliau bawa ke Hadromut dan akan di didik disana , saat itu Habib Mundzir yang masih belajar di Madrasah Al Khairat sangat kepincut untuk dapat turut terpilih . Sayang sekali kuota calon santri itu sudah terpenuhi . Tidak ada lagi jatah tambahan.

Namun saat Al abib Umar berkunjung ke Al Khairat , dan itu kunjungan beliau yang terahir di saat itu , Allah Ta’ala “ memilih “ untuk turut menyertakan Habib Mundzir dalam rombongan calon-calon santri yang akan mendapat bea siswa ke Hadromut sana

Al Habib Ali Zainal Abidin Al Jufriy berkata :
“ Kami mengunjungi ma’had Al Khairat yang dipimpin oleh Al Habib Muhammad Naqib bin Syech Abi Bakar , dan jumlah pelajar yang akan dibawa oleh Sayyidi Al Habib Umar ke Tarim sudah terpenuhi.

Disaat aku duduk bersama para pelajar ma’had , seketika pandanganku tertuju kepada seorang pemuda yang sangat menarik perhatianku , sebab pancaran wajah dan ketawadhuannya . Maka aku berkata di dalam hati : “ akan aku sampaikan kepada Sayyidi Umar tentang pemuda ini “

Ketika kami berdiri , pemuda itu datang menghampiri untuk menyalamiku . Aku bertanya kepadanya : “ Siapa namamu ? “ Ia menjawab dengan sangat sopan dan penuh ketawadhuan : “ Khadim ( pelayan)mu , Mundzir “, Kemudian Sayyidi Umar datang dan akupun mengabarinya tentang pemuda itu, lalu beliau bertanya : “ mana pemuda yang engkau ceritakan itu ? “

Aku menjawab : “ Itu dia , pemuda yang memakai peci warna hijau … “
Maka Al habib Umar berkata : “ Annak ini harus ada diantara mereka ( para calon santri ) dan dia tidak boleh di undur sampai angkatan kedua” . Mendengar perintah itu , al Habib Umar bin Muhammad Maulakhela berinisiatif untuk menjadi penanggung biaya perjalanan Pemuda Mundzir itu ke kota Tarim , dan ini dihitung sebagai sebuah jasa besar habib Umar mulakhella yang selalu diceritakan dan di ingat Habib Mundzir di dalam majlis-majlisnya.

Al Habib Mundzir selama beberapa tahun memikul tanggung jawab besar amanah kemuliaan dakwah Gurunya . Sampai kemudian betul-betul secara fisik dan rukhani beliau sudah tidak kuat lagi menanggungnya , jika saj tidak ada perhatian ruhaniyyah dari para aslaf dan guru-gurunya .

Saat genap usianya 40 tahun , di suatu pagi beliau berkata kepada istrinya ; “ Alhamdulillah , aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan aku mengadukan keadaanku kepada beliau , betapa beratnya beban dakwah dan telah lemah kekuatanku sehingga aku tidak mampu memikul beban ini.

Maka beliau memberiku kabar gembira , Rasulullah SAW berkata ; “ MUROKH KHOSUN , WAL AMRU INDA UMAR … Aku beri ijin kemurahan kepadamu , dan dalam hal ini terserah Umar “.

Maksud bagind nabi SAW dengan Umar adalah habib Umar bin Hafidz guru beliau . Dan benar juga akhirnya , di sore hari itu juga , beliau wafat meninggalkan dunia yang penuh kepayahan ini , menuju belaian kasih aslaf-aslafnya , wabil khusus baginda nabi Muhammad SAW al Mushthofa .

Habib salim , putra Habibana Umar bin Hafidz berkata : “ Dari perkataan Habib Mundzir yang pernah aku dengar , dia berkata : “ Wahai Salim , sungguh aku berharap ketika aku diletakkan kedalam kuburku , aku berharap Sayyidiy Umar mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah ta’ala , YA ROBB …SUNGGUH AKU TELAH MERIDHOINYA ..

Ketika habib Mundzir wafat , perkataanku itu aku sampaikan kepada ayahku , dan beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata : “ YA ROBB …ANNI ANHU RODHIN …wahai Tuhan kami , sungguh aku telah meridhoinya “

Sungguh mulia keadaan seorang murid yang meninggalkan dunia , sementara Gurunya yang Paripurna itu telah jatuh hati untuk meridhoinya .
“ Ya bahtak , Ya Mundzir “  Beruntung sekali dirimu , wahai Habib Mundhir . Maha Guru tuan pun memuji :
“ Anta mundzir , wa anta mubasyir …Enkau ini Mundzir , di dalam dirimu ada kabar gembira”.

Pesona dan cahaya dalam diri Habib Mundzir begitu memppesona anak-anak negeri ini , Sebagaiman persaksian ba’dhus Shalihin dari Kota Tarim :  “ Wajhuka Nawwir ,,, anta Musy Mundzir , anta Muhammad Maula Jawa , war Royah Batakunu fi yadika …. Wajahmu bersinar bercahaya , ( laksana ) engkau ini bukan Mundzir , tetapi engkau adalah Seorang yang akan dipuji-puji ( Muhammad ) sang pemmilik Tanah Jawa . Dan bendera dakwah aka nada ditanganmu …”.

Sesudah habib Mundzir tiada , anak-anak negeri ini hanya tinggal mendapatkan kemudahannya saja . Bendera dakwah Majlis rasulullah semakin hari berkibar dimana-mana . semakin hari semakin banyak anak-anak negeri yang ikut bersama mengibarkannya .

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply