Mencegah Buruk Sangka Sambil Terus Beramar Makruf

0

Mencegah Buruk Sangka Sambil Terus Beramar Makruf. Rukun iman ke-enam yang harus kita imani sebagai orang muslim adalah beriman kepada takdir Allah, yang baik dan yang buruk. Sesungguhnya segala sesuatu itu baik, karena semuanya berasal dari Allah, meskipun manusia menganggapnya buruk.

Karena dangkalnya pikiran dan pemahaman manusia sehingga ia menyimpulkan ada takdir baik dan ada takdir buruk. Padahal sseungguhnya semua takdir adalah baik karena ia berasal dari Allah, dan kita beriman kepada-Nya.

Orang yang menurut pandangan mata kita buruk, belum tentu buruk juga di menurut pandangan Allah. Oleh karena itu, sebaiknya manusia tidak terburu-buru untuk berprasangka buruk kepada orang lain, bahkan sifat prasangka buruk harus kita jauhkan sejauh-jauhnya dari kita. Karena meskipun itu benar, itu tetaplah prasangka buruk yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Banyak orang di sekeliling kita -yang menurut adat- prilakunya sangat buruk, sehingga menuntut diri kita untuk terus bersabar untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka, dan ini adalah bagian dari cobaan Allah SWT. Jika kita bisa bersabar untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka, maka Allah akan bersama kita, karena Allah telah berfirman, “Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar”.

Adanya keburukan di sekeliling kita tidak lantas membuat kita berpangku tangan untuk melakukan amar makruf nahi munkar (menasehati yang baik dan mencegah dari yang tidak baik), karena alasan meninggalkan sifat berburuk sangka.

Meninggalkan prasangka buruk adalah amalan hati, sedangkan amar makruf nahi munkar adalah amalan badan yang diperintahkan Allah, dimana keduanya dapat kita lakukan secara bersamaan. Namun sangat disangkan, bahwa orang yang gemar berburuk sangka itu biasanya tidak gemar beramar makruf, dan sebaliknya orang yang gemar beramar makruf itu yang biasanya gemar berburuk sangka.

Kita mengakui bahwa meninggalkan buruk sangka sangat berat kita lakukan apalagi di zaman akhir yang sangat jarang kita temukan kebaikan. Namun begitu, itu adalah perintah Allah dan perintah Rasulullah yang harus kita laksanakan, sebagaimana sabdanya, “jauhilah olehmu prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan”. Dan semoga kita termasuk orang yang bisa melakukannya, Amin.

Cara yang paling mudah untuk tidak berprasangka kepada orang lain adalah melihat segala sesuatu dari Allah, bahwa apa yang terjadi pada diri dan orang lain telah tertulis di dalam Lauhul mahfudz yang tidak mungkin kita tentang. Ketika kita menolak suatu peristiwa yang terjadi maka pada hakikatnya kita sedang menolak Allah SWT. Menolak Allah berarti tidak ridha dengan perbuatan Allah, yang berarti ia akan tercegah dari ridha Allah SWT. Na’udlu billahi min dzaalik.

Hadapilah segala sesuatu dengan santai karena semuanya telah ditentukan, sambil menjalankan kewajiban kita sebagai muslim untuk menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jika kita telah berusaha melakukannya tetapi yang kita inginkan tidak tercapai, maka kita kembalikan lagi kepada Allah sambil menjaga adab yang baik kepada-Nya. Wallahu A’lam .

Share.

Leave A Reply