Mencari Makna Dzikir Dari Hadis Qudsi

0

Apabila engkau mengatakan bahwa dzikir itu harus dengan lisan maka kita akan terlebih dahulu mencari tahu apa makna lafazh dzikr di dalam hadis qudsi ini,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وأنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذكُرُنِيْ، فإنْ ذَكَرَنِيْ فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِى مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٌ مِنْهُ

Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku di dalam dirinya maka Aku akan megingatnya di dalam diri-Ku, dan apabila ia mengingat / menyebut-nyebut nama-Ku di dalam sekelompok orang maka Aku akan menyebut-nyebut nama-Nya di sekelompok yang lebih baik dari kelompok itu (baca: sekelompok malaikat.

Di dalam hadis di atas dijelaskan bahwa pembicaraan hatinya kepada dirinya juga dinamakan dengan dzikr sehingga pantas apabila imam Syafi’i berpendapat, ‘selama yang menyembelih hewan itu seorang mukmin, baik ia mengucapkan bismillah atau tidak, baik karena lupa atau disengaja maka makanlah sembelihannya karena iman orang itu menjadi dzikirnya kepada Allah’.

Oleh karena itu saya ingin mengatakan bahwa kita harus menentukan makna dzikr telebih dahulu sehingga kita dapat mengetahui akar perbedaan pendapat diantara para ulama seputar permasalahan ini.

Dan sebaiknya kita tidak perlu mempermasalahkan perbedaan ini sampai berlarut-larut, karena telah jelas bagi kita bahwa sesungguhnya dzikr (mengingat Allah) adalah ucapan hati yang terkadang mendorong lisan untuk berkata-kata, disertai dengan hadirnya apa yang dikatakannya di dalam hatinya.

Allah berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah [2]: 152).

Maksudnya, ingatlah Allah di dalam segala sesuatu yaitu di dalam nikmat-Nya, di dalam pemberian-Nya, di dalam menutupi aib-Nya, di dalam rahmat-Nya, di dalam menerima taubat-Nya. Ingatlah kalian akan nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian melupakan-Nya, maka kalian akan selalu hidup dalam keadaan mengingat Allah karena Dialah tuhan yang telah memberikan nimat-nikmat kepada kalian.

Allah SWT menginginkan agar hamba-hamba-Nya mau mengingat-Nya. Karena ketika hamba-hamba itu mau mengingat Allah maka Allah akan mengingat mereka. Dan apabila mereka bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-nikmat-Nya. Rasulullah SAW bersabda,

أنَّ لِلهِ مَلَائكةً يَطُوْفُوْنَ فِى الطَّرُقِ يَلْتَمِسُوْنَ أَهْلَ الذّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوْا قَوْمًا يَذْكُرُوْنَ اللهَ تنَادُوْا: هَلُمّوْا إِلَى حَاجَتِكُمْ. فَيَحُفّوْنَهُمْ بأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى سَمَاءِ الدّنْيَا. قَالَ: فَيَسْئَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أعْلَمُ مِنْهُمْ: مَا يَقُوْلُ عِبَادِىْ؟……..الحَدِيْث

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka menemukan sekelompok orang yang mengadakan kegiatan dzikir kepada Allah, maka mereka akan menyeru, ‘mari-mari apa yang menjadi kebutuhanmu!’, lalu mereka mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya hingga sampai ke langit dunia.

Kemudian nabi bersabda, “dan Allah bertanya kepada para malaikat -dan tentu Ia lebih tahu dari pada mereka-, ‘apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?’. Malaikat menjawab, ‘mereka memuji-muji-Mu, membesarkan-Mu, menyucikan-Mu, dan mengagung-agungkan-Mu’, Allah berkata, ‘apakah mereka melihat-Ku’, mereka menjawab, ‘tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu’.

Allah berkata, ‘bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’, mereka menjawab, ‘jika mereka melihat-Mu maka mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih banyak lagi dalam bertasbih dan bertakbir kepada-Mu ya Allah’, Allah berkata, ‘apa yang mereka minta?’,’mereka meminta surga-Mu ya Allah’, ‘apakah mereka melihat surga?’, ‘tidak, demi Allah mereka tidak melihatnya’.

Allah berkata, ‘bagaimana seandainya mereka melihat surga?’, malaikat menjawab, ‘jika mereka melihat surga tentu mereka akan lebih giat memintanya kepada-Mu ya Allah’. Allah berkata, ‘dari apa mereka meminta perlindungan?’, malaikat menjawab, ‘dari neraka ya Allah’, ‘apakah mereka melihat neraka?’, ‘tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Nya’, ‘lalu bagaimana jika mereka melihatnya’, ‘tentu mereka akan lebih giat meminta perlindungan kepada-Mu ya Allah’.

Allah berkata, ‘saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka’. Lalu ada satu malaikat yang berkata, ‘ya Allah, ada seseorang yang datang dan duduk bersama mereka tetapi ia tidak ikut berdzikir, ia memiliki kepentingan tersendiri?’, Allah berkata, ‘mereka adalah majlis yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama dengan mereka’. (HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi).

 

Kandungan hadis qudsi di atas

Allah SWT memperlihatkan kepada kita contoh di dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengajarkan bagaimana kita harus berbaik sangka kepada Allah. Allah SWT berhak memberikan anak perempuan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, memberikan anak laki-laki dan perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan tidak memberikan seorang anakpun kepada yang dikehendaki-Nya.

Dan engkau melihat bahwa kebanyakan pasangan yang tidak dikarunia keturunan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. Hal itu karena di dalam hidupnya mereka selalu menentang takdir dan menolak ketentuan Allah Swt. Oleh karena itu Allah menjadikan hidup mereka susah dan tidak menyenagkan.

Dan engkau mendapati sebaliknya, siapa yang dikarunia oleh Allah anak laki-laki maka ia akan senang, begitu pula dengan pasangan yang dikaruniai anak perempuan.

Ketika sebuah keluarga diberi anak laki-lak saja maka si ibu akan mendambakan adanya anak perempuan. Begitu pula ketika diberi anak perempuan saja mereka mendambakan adanya anak laki-laki. Dan terhadap keluarga yang dikarunia anak laki-laki dan perempuan kita akan mengatakan bahwa mereka telah dilimpahi rezeki yang sangat besar.

Padahal semua itu tidak terlepas dari takdir Allah yang telah tertulis sejak zaman azali. Tentang seseorang yang tidak diberi anak lak-laki maupun perempuan,

Allah berfirman,

وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا

Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. (QS. Asy-Syuuraa [42]: 50).

Mengapa kebanyakan orang sangat senang dengan takdir Allah ketika diberi karunia anak tetapi tidak senang kepada takdir Allah yang menjadikan mereka mandul -sehingga mereka tidak memiliki anak laki-laki maupun perempuan-.

Apakah engkau hanya menyukai takdir Allah yang sesuai dengan hawa nafsumu, dan engkau akan menolak takdir Allah yang tidak sesuai dengan hawa nafsumu?!. Sesungguhnya setiap kejadian berada di dalam takdir dan ketentuan Allah Swt., dan manusia diwajibkan untuk menerima-Nya dengan hati yang lapang.

Allah Swt. menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Ia berhak menjadikan siapa saja mandul. Dan apabila manusia menerima takdir Allah ini dengan hati yang senang dan dada yang lapang maka Allah akan memasukkan ketenangan dan kegembiraan di dalam hatinya sama seperti mereka yang dikarunia anak laki-laki dan perempuan.

Apabila sebuah pasangan yang tidak dikaruniai anak merasa ridha dengan ketentuan Allah maka Alah akan memberikan rezeki yang lain kepada mereka. Mungkin mereka akan dikarunia dengan anak-anak orang lain yang akan membantunya dan memuliakannya -dimana sebelumnya anak-anak ini dirawat oleh ibu-ibu kandung mereka sendiri-.

Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi, Al-Ahaadiits Al-Qudsiyah

 

 

 

Share.

Leave A Reply