Mencari Ilmu Yang Bermanfaat di Bulan Ramadhan

0

Mencari Ilmu Yang Bermanfaat di Bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, kita akan menyaksikan kegiatan kegamaan begitu semarak. Di masjid-masjid di selengarakan tadarus Al-Qur’an, baik di siang maupun malam hari. Banyak panitia-panitia menyelengarakan acara kajian dan majlis ta’lim. Banyak program-progam ceramah agama digalakkan. Semuanya ingin meraih rahmat dan karuni yang ditumpahkan oleh Allah di bulan suci ini. Oleh karena itu, rugilah mereka yang tidak ikut mengambil hujan anugerah ini.

Ilmu telah dimudahkan oleh Allah. Dengan tidak mengeluarkan biaya yang mahal kita telah menjumpai ilmu. Rumah-rumah para ustadz terbuka lebar. Toko-toko buku dimana-mana. Seminar ada setiap saat. Acara-acara televisi berisi nasehat dan ceramah-ceramah. Oleh karena itu, rasa malas akan ilmu harus kita buang jauh-jauh. Rasa malam itu adalah nafsu, karena hati kita telah dimasuki oleh banyak dari lukisan-lukisan dunia, sehingga tidak ada lagi ruang untuk menampung ilmu. Jika ruang di dalam hati telah tidak ada lagi untuk menampung ilmu, maka di akherat nanti ia tidak memiliki ruang di dalam surga. Karena ruangnya adalah di nereka jahannam. Na’udlubillahi min dzalik.

Ilmu adalah sarana untuk berdeketan dengan Allah Swt. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin menjadi hamba yang dekat dengan Allah maka ia harus mencari ilmu, meskipun pait rasanya. Apabila seseorang mau bersabar atas paitnya mencari ilmu maka Allah akan memberikan manisnya surga. Namun, jika ia tidak mau bersabar, maka ia harus merasakan pahitnya kehidupan di akherat. Tentu kita tidak ingin mengalaminya.

Ilmu yang benar yang harus dicari oleh setiap manusia adalah ilmu yang akan membuatnya teringat akan dosa-dosanya, sehingga membuatnya takut kepada Allah, lalu ia akan bertaubat. Ilmu yang benar adalah yang membuat kita selalu merasa bersalah atas apa yang kita lakukan, sehingga kita akan selalu memiliki semangat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan. Ilmu yang benar adalah ilmu yang akan membuka kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita akan sibuk untuk meraih kesempurnaan. Ilmu yang benar adalah ilmu yang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah Saw. Ilmu yang benar adalah ilmu yang menyadarkan manusia akan beratnya tanggung jawab yang akan ia hadapi ketika menghadap ke hadirat Allah kelak. Ilmu yang benar adalah ilmu yang membuat manusia memiliki rasa kasih sayang dan peduli kepada orang lain yang memerlukan bantuan, dst.

Adapun ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang memerlihatkan ibadah dan ketaatan kita, sehingga kita akan merasa sebagai ahli surga. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang memperlihatkan kebaikan-kebaikan kita sehingga kita layak disebut sebagai orang yang baik. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang membuat kita berbangga diri atas prestasi-prestasi kita. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang semakin menjauhkan kita dari Allah Swt. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang semakin membuat hati kita mencintai dunia. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang mendorong kita untuk menunjukkan kelebihan-kelebihan kita, sehingga kita akan merasa lebih baik dari pada orang lain. Ilmu yang tidak benar adalah ilmu yang mengajak kita untuk menyalahkan dan membenci orang lain yang memilki paham dan pemikiran yang berbeda dengan paham yang kita anut.

Agar lebih mengerti akan pentingnya ilmu, sebaiknya kita membaca hikmah berikut ini,

 

[Orang tuamu telah menjual sawah untuk menjadikanmu berilmu. Maka jangan menjual ilmumu dengan sawah. Tapi juallah ilmumu dengan surga]

 

Orang tua akan berkorban apa saja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Mereka akan memberikan apa saja agar anak-anaknya bisa tersenyum dan tertawa. Meskipun terkadang harus dengan jerih payah, untuk mencari apa yang diiinginkan oleh anaknya, mereka tetap mencarinya sekuat tenaga. Orang tua selalu berharap, bahwa setiap detik yang dilalui anak-anaknya harus dengan perasaan senang. Tidak boleh ada sesuatu pun yang menghalangi anak-anaknya untuk merasakan kegembiraan. Itulah kasih sayang orang tua kepada anaknya.

Apabila orang tua itu termasuk hamba Allah yang beriman, maka tentu kasih sayang untuk anak-anaknya akan lebih besar. Ia tidak hanya berharap agar anak-anaknya mendapatkan kebahagiaan di dunia, tetapi ia juga berharap agar anak-anaknya juga merasakan kebahagiaan di akherat kelak. Oleh Karena itu, orang tua sangat memperhatikan agar mereka memiliki bekal untuk hidupnya di akherat kelak. Dan bekal itu adalah ilmu yang bermanfaat.

Kepada anak-anaknya, orang tua yang beriman akan mengajarkan pentingnya ilmu. Bahwa ilmu adalah alat untuk menyembah kepada Allah. Ilmu adalah sarana untuk mendapatkan rahmat-Nya. Ilmu adalah tangga-tangga untuk mendapatkan kemuliaan dan Ridha-Nya. Untuk sebuah ilmu, orang tua rela mengorbankan apa saja. Agar anak-anaknya memiliki ilmu yang bermanfaat, orang tua akan membayar berapa saja. Bahkan, jika ia mengalami kekurangan harta, ia akan menjual apa saja demi pendidikan anak-anaknya.

Mereka tahu, bahwa uang dan harta bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya. Mereka tahu, bahwa harta adalah titipan Allah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Mereka tahu, bahwa harta tidak akan bisa dinikmati terus-menerus. Oleh karena itu, mereka harus menukarnya dengan ilmu, yang akan memberikan manfaat yang abadi. Mereka harus menjualnya dengan ilmu, yang akan menolongnya ketika di alam barzah nanti. Mereka harus menggantinya dengan ilmu, yang akan menyelamatkannya dari azab neraka dan memasukkannya ke dalam surga. Mereka harus menggadaikannya dengan ilmu, yang akan menjauhkanya dari murka Allah dan mendekatkannya dengan ampunan-Nya.

Setelah mereka nanti dimasukkan ke dalam surga-Nya, maka orang-orang yang selama hidup di dunia mementingkan ilmu akan benar-benar merasakan kepuasan yang tiada akhir. Berapa pun tenaga, pikiran, harta, dan segala yang dikorbankan untuk mencari ilmu, tidak sebanding dengan imbalan yang diterimanya, sebab kenikmatan yang diberikan Allah begitu besar. Kenikmatan yang tidak bisa terukur dengan apapun. Kenikmatan yang belum pernah ditemukan di penjuru dunia mana pun. Sehingga mereka benar-benar merasakan keberuntungn yang agung, karena telah memilih ilmu.

 

Allah berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)

 

Nabi bersabda,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ، قَالَ: حِلَقُ الذِّكْر

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika kalian melewati taman surga maka berhentilah”. Para sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, “Halaqah dzikir (majelis Ilmu).” (HR Tirmidzi)

Nabi bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan dan rahmat. Para malaikat pun mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekat-Nya. (HR Muslim)

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply