Apa Yang Hilang Bagi Para Murid Setelah Menahan Nafsu?

0

Apa Yang Hilang Bagi Para Murid Setelah Menahan Nafsu? Ketika para murid melakukan perjalanan menuju Allah dengan sungguh-sungguh, mereka akan sampai kepada suatu kondisi dimana mereka tidak lagi merasa berat ketika melakukan ibadah. Pada awalnya mereka merasa berat untuk melakukan shalat malam misalnya, karena nafsu terus mengajak untuk merasakan fatamorgana kantuk dan enaknya tidur. Nafsu menciptakan fatamorgana air yang begitu dingin ketika mereka akan berwudlu. Tetapi orang-orang yang kuat tidak akan kalah, karena mereka selalu memaksakan dirinya untuk bangun, berwudlu, lalu menegakkan shalat malam.

Setiap hari mereka berjuang keras melawan hawa nafsu, sehingga pada akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Mereka selalu merasa butuh beribadah. Ibadah laksana makanan lezat yang harus terus disantap. Rasa berat untuk beribadah yang sebelumnya mereka rasakan telah hilang, dan dalam kondisi ini mereka berkata, “aku sekarang tidak mukalaf (terbebani) lagi”. Perkataan ini bisa terlontas dari mulut para murid karena mereka telah mampu menjalankan ibadah kepada Allah bukan karena beban -yang seolah-olah dipikulkan kepada mereka-, tetapi mereka beribadah dengan perasaan rindu yang meluap-luap dan cinta yang membara kepada Allah SWT.

Banyak orang yang menganggap bahwa orang-orang sufi dan para kekasih Allah itu tidak menyukai wudlu dan tidak pernah melakukan shalat. Sekarang bedakanlah dua orang ini, orang yang pertama beribadah kepada Allah dengan segenap rasa cinta dan rindu kepada-Nya hingga hilanglah rasa berat beribadah, sedangkan orang yang kedua tidak melakukan ibadah apapun, lalu berkata, “aku tidak mukalaf”. Adakah bukti nyata tentang apa yang dituduhkan oleh sebagian orang bahwa orang-orang sufi gemar menggugurkan kewajiban beribadah kepada Allah?!.

Para syekh dan mursyid berkata, “beban telah hilang”, dan tidak berkata, “shalat telah hilang”. Syekh berkata, “aku menjalankan shalat, tetapi aku tidak merasa berat, bosan, dan capek”. Nabi SAW bersabda, “sesungguhnya Allah itu tidak membosankan hingga membuatmu menjadi bosan”. (HR. Bukhari, Muslim)

Murid yang benar akan sampai pada suatu keadaan yang nyaman, tidak merasa bosan pada saat bersama Allah SWT. Setiap kali melakukan shalat, hatinya akan naik bertemu Allah, ia akan semakin rindu dan berharap kepada Allah. Ruang kalbu yang sebelumnya terisi dengan rasa berat dan lelah, sebagaimana yang dirasakan orang-orang awam telah berubah karena dipenuhi makna-makna yang mulia.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

Share.

Leave A Reply