Memahami Makna Bid’ah Menurut Bahasa Dan Istilah

0

Bid’ah menurut bahasa

Bid’ah adalah segala hal yang baru di dalam agama setelah sempurnanya. Ibnu Sikkit mengatakan bahwa bid’ah adalah segala hal yang baru. Abu ‘Adnan mengatakan bahwa orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Bid’ah menurut istilah syareat

Ada dua metode yang digunakan oleh para ulama untuk menjelaskan makna bid’ah secara syar’i yaitu:

1. Metode pertama, yaitu metode yang dipakai oleh Imam al-‘Iz bin ‘Abdis Salam. Beliau mengatakan, “perbuatan yang belum pernah dilakukan di zaman rasul terbagi kedalam beberapa bagian yaitu bid’ah wajibah, bid’ah muharromah, bidah manduubah, bid’ah makruuhah, dan bid’ah mubahah.

Untuk mengetahui pada bagian bid’ah yang mana suatu perkara akan digolongkan, ia harus dihadapkan pada pertimbangan kaidah-kaidah syar’i. Jika perbuatan itu termasuk kedalam kaidah-kaidah hukum wajib, maka dinamakan bid’ah wajibah. Jika masuk dalam kaidah-kaidah yang haram, maka termasuk kedalam bid’ah muharromah. Jika masuk dalam kaidah-kaidah mubah, maka ia termasuk kedalam perbuatan bid’ah mubahah (qowaa’idul ahkaam fii masholihil anam).

2. Metode kedua, yaitu bid’ah hanya ada satu yaitu bid’ah dzolalah (sesat). Tidak ada istilah bid’ah wajibah, bid’ah mandubah, dan bid’ah mubabhaah. Metode ini hanya mengkhusukan bid’ah pada bid’ah muharromah (yang dilarang). Ini adalah metode yang dipakai oleh Ibnu Rojab al-Hambali rohimahullah.

Beliau mengatakan, “bid’ah adalah segala hal yang tidak memiliki dasar hukum syareat. Adapun sesuatu yang memiliki dalil syara’ tidak dinamakan bid’ah -meskipun secara bahasa itu dinamakan bid’ah-.

Pada dasarnya setiap metode telah sepakat bahwa bid’ah yang sesat secara syareat adalah bid’ah yang menyebabkan pelakunya mendapatkan dosa. Bid’ah yang sesat adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar hukum di dalam syareat. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW, kullu bid’atin dzolalah. (HR Muslim), artinya: “semua bid’ah adalah sesat”.

Imam Syafi’i rodliyallahu ‘anh mengatakan, “hal yang baru terdiri dari 2 macam. Yang satu menyalahi al-Qur’an, al-Hadits, dan ijma’, dan Inilah yang dinamakan dengan bid’ah dlolaalah. Dan yang kedua adalah perkara yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Hadits dan ijma’. Inilah yang tidak dinamakan dengan bid’ah dlolaalah (manaaqibus syafi’i).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa bid’ah ada dua yaitu bid’ah yang memberikan petunjuk dan bid’ah yang menyesatkan. Apabila ada suatu perkara yang betentangan dengan perintah Allah dan Rasulullah, maka hal itu pasti dilarang oleh agama Islam. Sebaliknya apabila ada perkara baru yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu pasti dianjurkan oleh agama. Dan segala hal yang termasuk kedalam perbuatan baik dan tindakan kedermawanan termasuk bid’ah yang baik.

Seorang muslim yang melakukan bid’ah yang baik akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Nabi Muhammad SW bersabda, man sanna sunnatan hasanatan  kaana lahu ajruha waajru man ‘amila biha (barang siapa yang menciptakan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala dan pahala orang-orang yang mengamalkannya).

Sebaliknya nabi bersabda, man sanna sunnatan sayyiatan kaa na ‘alaihi wizruha wa wizru man ‘amila biha (barang siapa yang menciptakan perbuatan baru yang buruk, maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang-orang yang melakukannya). Yang dimaksud dengan perbuatan baru yang buruk di dalam hadits ini adalah perbuatan baru yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulullah.

Adapun contoh dari perbuatan baru yang baik ditunjukkan dengan perkataan Umar bin Khotob, ni’matul bid’ati haadzihi (ini adalah sebaik-baik bid’ah). Ketika sayyidina Umar melihat bahwa perbuatan itu termasuk kedalam kategori yang baik, maka beliau memujinya. Pada masa nabi, nabi hanya melakukan shalat malam sendirian dan tidak memerintahkan para sahabat untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah di masjid.

Pada masa kholifah Abu Bakar shalat tarawih juga belum dilakukan. Dan ketika masa kholifah Umar praktek ini baru dilakukan. Baliau mengumpulkan orang-orang dan memerintahkan mereka untuk menghidupkan malam-malam ramadlan dengan shalat tarawih secara berjama’ah di masjid.

Meskipun sayyidina Umar menamakan hal ini dengan bid’ah, namun pada hakekatnya ini adalah sunnah. Hal ini karena nabi Muhammad SAW telah bersabda, ‘alaikum bis sunnatii wa sunnati khulafaaur rosyidiina min ba’di (engkau harus berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin setelahku). Nabi juga bersabda, iqtaduu billadzaini min ba’di, Abi Bakrin wa Umar (ikutilah dua orang setelah wafatku, yaitu Abu Bakar dan Umar).

Berdasarkan uraian di atas maka kita telah mengetahui bahwa yang dimaksud degan bid’ah pada hadits nabi yang berbunyi, kullu muhdatsatin bid’ah (segala hal yang baru adalah bid’ah) adalah bid’ah yang bertentangan dengan prinsip dasar hukum Islam, dan yang tidak sesuai dengan sunnah dan perilaku Rasulullah SAW.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

Share.

Leave A Reply