Melihat Hakikat Dari Sesuatu, Tidak Tertipu Dengan Yang Dzahir

0

Para ulama ahli hakikat sering menerangkan tentang mursyid. Mursyid adalah orang yang mengetahui ilmu hakikat. Ia termasuk salah satu dari tiga rukun Thariqah (Mursyid, Murid, Metode).

Ketika berbicara tentang alam para mursyid menjelaskan bahwa alam ini memiliki unsur dzahir (tampak) dan batin (tidak tampak). Ada sesuatu yang diketahui oleh banyak orang, tetapi ada pula yang hanya diketahui oleh orang-orang khowas (khusus). Sesuatu yang hanya diketahui oleh orang-orang khusus itulah ‘hakikat’.

Para ulama menggolongkan manusia menjadi tiga bagian. Awam (biasa), khowas (khusus), dan khowasul khowas (orang istimewa). Dan mereka mengkategorikan segala sesuatu menjadi dua macam yaitu dzahir dan batin. Mereka mengatakan bahwa sesuatu yang batin itu tidak bertentangan dengan sesuatu yang dzahir.

Sebagian orang mengatakan bahwa sesuatu yang batin itu tidak ada, sedangkan para ulama sufi mengatakan sebaliknya. Dan sangat disayangkan sikap sebagian orang di zaman akhir ini, mereka yang tidak percaya dengan ilmu batin sangat tidak sopan ketika menilai imam-imam ahli tasawuf dengan sifat-sifat yang keji.

Mereka berani mengatakan bahwa para sufi itu orang-orang bodoh, fasik, zindik, kafir, dan sebagainya. Sungguh perbuatan yang tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang tidak berakhlak.

Semua tuduhan-tuduhan itu tidak mungkin benar, karena yang benar adalah bahwa sesuatu yang batin tidak bertentangan dengan yang dzahir. Justru, yang batin itu menguatkan dan meyakinkan sesuatu yang dzahir.

Para kekasih Allah mampu melihat segala sesuatu dari sisi batin (hakekat). Misalnya dalam hal perputaran bumi, pada hakikatnya bumi berputar mengelilingi matahari, tetapi yang tampak oleh mata kita adalah matahari yang bergerak mengitari bumi.

Contoh yang lain adalah air, mata telanjang kita mengatakan bahwa itu adalah air, tetapi pada hakekatnya air itu terdiri atas dua unsur gas yaitu hidrogen dan oksigen, dua unsur yang satu menyala dan yang lain membantu untuk menyala. Itulah kenyataannya, dan kita baru mengetahui sesuatu yang menakjubkan bukan.

Lalu timbul pertanyaan di benak kita bahwa yang tampak oleh mata itu sebenarnya air atau api?. Itu adalah air yang pada hakekatnya api.

Banyak orang menyangka bahwa sesuatu yang dzahir itu bertentangan dengan batin. Sementara para wali Allah berfikir sebaliknya, mereka mengatakan bahwa hukum syar’i yang mulia datang dengan membawa peraturan dan undang-undang yang mengatur hal yang dzahir dan batin.

Maka benar apabila dikatakan bahwa hal yang dzahir itu penting dan orang yang meninggalkannya menjadi kafir, Namun hal ini tidak menghalangi bahwa disana ada ‘hakikat’ dibalik ‘dzahir syariat’.

Ilmu hakikat kita pelajari sedikit demi sedikit, kita pahami satu persatu hingga akhirnya tampak dan tersingkap bahwa hal yang batin itu tidak bertentangan dengan yang dzahir. Jika ada orang yang berkata, ‘aku tidak berwudlu’, tentu kita akan bertanya kepadanya, ‘mengapa engkau tidak berwudlu?’, orang itu kemudian menunjukkan jarinya ke air dan berkata, ‘karena ini api, aku khawatir kalau aku berwudlu, air ini akan membakar kulitku’.

Maka kita akan menyebut orang ini sebagai orang gila. Sebab yang ditunjuk itu air, bukan api, meskipun pada hakikatnya air itu tersusun dari unsur api.

Ketika ada orang yang berkata, ‘aku ingin menjual orang itu’ -dengan menunjuk pada orang merdeka-, tentu kita akan bertanya padanya ‘mengapa?’, lalu ia menjawab ‘karena ada seorang pembeli yang sedang membutuhkan debu untuk bertayamum, dan manusia tercipta dari debu’.

Maka kita akan mengatakan padanya, ‘kamu gila’. Manusia bukanlah debu meskipun tercipta dari debu. Ini bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, karena Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa kita dilarang untuk menjual manusia merdeka. Si pembeli juga tidak mungkin bisa memanfaatkan manusia untuk bertayamum meski manusia berasal dari debu / tanah.

Kebanyakan orang menyangka bahwa suluk adalah mendalami hakekat lalu meninggalkan syariat. Prasangka mereka tidaklah benar, karena para wali Allah mengatakan, ‘barangsiapa yang mendalami syari’at tanpa hakikat, berarti ia telah berbuat fasik. Dan barangsiapa yang mendalami hakikat tanpa syari’at maka ia adalah orang zindik / kafir’.

 

Orang yang mengatakan bahwa ini api -padahal itu air- adalah contoh perbuatan zindik. Ia berkata demikian karena memiliki tujuan lain yaitu agar dirinya terlepas dari aturan syar’i yang memerintahkannnya untuk berwudlu sebelum melakukan shalat.

Ketidakpahaman kebanyakan orang mengenai tasawuf menyebabkan mereka cepat menuduh para sufi dan kekasih-kekasih Allah itu dengan anggapan-anggapan yang tidak enak didengar, misalnya menyebut orang sufi itu zindik, gila, pelaku bid’ah, dan sebagainya. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.

Tujuan mereka sebenarnya adalah ingin menunjukkan syari’at yang dikuatkan dengan hakekat. Mereka ingin mengatakan bahwa ilmu hakekat inilah yang menjadikan kita semakin beradab dan memiliki sopan santun kepada Allah SWT. Para wali dan kekasih Allah memahami bahwa hakekat adalah satu bagian dari perjalanan yang ditempuh oleh seorang murid menuju Allah SWT.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ilaa Allah

 

 

Share.

Leave A Reply