Melatih Menahan Hawa Nafsu Di Bulan Ramadhan

0

Melatih Menahan Hawa Nafsu Di Bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan panen pahala dan kemuliaan. Ketika masuk hari pertama bulan Ramadhan rasanya kita ingin menghabiskan seluruh waktu untuk menyembah kepada Allah. Kita seperti akan bersemangan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Kita seperti akan melaksanakan shalat berribu-ribu rekaat. Kita sepeti akan bangun malam lalu melakukan zikir sampai shubuh. Kita seperi akan mengeluarkan seluruh harta kita untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Namun, ternyata semangat itu hanya bertahan beberapa hari saja. Kita pun malas melakukan apapun dan hanya mengisi waktu kita dengan tidur-tiduran.

Sesungguhnya rasa malas itu karena adanya nafsu di dalam diri kita. Nafsu selalu mengajak manusia untuk menjauhi ibadah. Nafsu tidak senang jika lisannya dipakai untuk berzikir, tetapi ia senang jika zikir dipakai untuk menggunjing. Nafsu tidak senang jika badan diajak untuk menegakkan shalat-shalat sunnah, tetapi ia senang jika badan diajak untuk melakukan permainan-permainan. Nafsu tidak senang jika mata digunakan untuk melihat mushaf Al-Qur’an, tetapi ia akan senang diajak melihat tempat-tempat yang mengagumkan. Nafsu tidak senang jika kaki diajak melangkah ke masjid, tetapi ia akan senang jika diajak menuju ke pasar dan pusat-pusat perbelanjaan. Nafsu tidak akan senang jika akal pikiran dipakai untuk merenungkan kekuasaan Tuhan, tetapi ia akan senang jika dipakai untuk berangan panjang.

Apabila seseorang tidak mengontrol nafsuya dan membiarkannya bebas berkeliaran maka ia akan merugi, dunia dan akherat. Oleh karena itu, nafsu harus dikontrol dan dikendalikan. Memang tidak mudah untuk mengontrol nafsu, sehingga seseorang harus berlatih mengontrolnya. Ketika ia berusaha keras untuk bisa mengendalikan nafsu, maka dengan izin Allah, ia akan bisa mengendalikanya. Ketika ia bisa mengendalikannya maka itulah kebeuntungan yang agung. Sebab ia akan diberi kemudahan untuk mengarahkan nafsu untuk melakukan ibadah an ketaatan. Ia akan meraih berkah-berkeh di dalam setiap detik waktu yang dilewatinya, karena ia tidak disibukkan dengan hawa nafsu. Ia akan memiliki hidup yang nyaman dan tanpa beban, sebab ia tidak lagi menjadi budak pada tuan nafsu yang memiliki banyak keinginan yang harus diturui itu.

Setelah nafsu dikalahkan maka hati yang akan menang. Apabila hati telah menang maka ia akan mengajak pemilik hati untuk menyantap makanan-makanan hati. Makanan-makanan hati adalah kedekatan kepada Allah Swt, kecintaan kepada alam akherat, kerinduan kepada Nabi Muhammad, hasrat untuk masuk ke dalam surga, berkeinginan untuk berjumpa dengan Allah Swt. Dst.

Apabila seseorang telah menjadi hamba hati maka ia akan terus berada di atas jalan kebenaran. Dan sebelum masuk ke dalam surga di akherat nanti, ia telah masuk ke Hadhrah (hadirat Allah Swt). Ia telah masuk ke dalam pengawasan Allah Swt. sehingga seolah-olah ia bisa melihat Allah Swt. Ia mendapatkan ma’rifat kepada Allah Swt. Anugerah yang tertinggi bagi seorang mukmin.

Agar kita bisa mudah mengendalikan hawa nafsu maka simaklah hikmah berikut ini,

[Tidak ada kebahagiaan ketika ia bersama nafsunya. Kebahagiaan sebenarnya, ketika ia mengalahkan nafsunya]

Surga adalah tempat kebahagiaan yang paling besar. Surga diciptakan untuk orang-orang yang ingin mencapai kebahagiaan yang tiada lagi kebahagiaan di atasnya. Surga adalah tempat kebahagiaan yang tiada henti. Surga adalah tempat kebahagiaan yang kekal abadi. Surga menyediakan hidangan yang ter-enak. Surga memberikan pakaian yang terbaik. Surga menghadiahkan pasangan yang tercantik. Surga menghadirkan tempat tinggal yang termewah dan termegah. Surga menawarkan pemandangan yang terindah. Surga menebarkan aroma yang paling wangi. Surga menghembuskan angin yang tersegar.

Apabila seseorang telah memasukinya, maka ia adalah orang yang paling beruntung. Sebab di dalamnya, ia tidak akan lagi merasakan kesedihan. Di dalamnya, ia tidak lagi diliputi dengan rasa sakit. Di dalamnya, ia tidak akan melihat kekejaman dan kezaliman. Di dalamnya, ia tidak akan dilanda dengan kekhawatiran. Di dalamnya, ia tidak lagi dihinggapi rasa takut yang mencekam. Di dalamnya, ia tidak akan ditimpa kesusahan dan kehinaan. Di dalamnya, ia tidak akan lagi dicaci-maki dan dijelek-jelekkan. Di dalamnya, ia tidak dituduh dan difitnah. Di dalamnya, ia tidak lagi merasakan lapar dan haus. Ia juga tidak akan mengeluarkan kotoran.

Sungguh surga adalah tempat mulia yang diciptakan oleh Zat yang Termulia dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mulia. Orang-orang yang mulia adalah orang-orang yang menyukai kemuliaan. Dan kemuliaan adalah apa-apa yang dianggap mulia oleh Allah dan Rasulullah Saw. Menjalankan shalat lima waktu adalah kemuliaan, dan menuruti ajakan nafsu untuk meninggalkannya adalah kehinaan. Menjalankan puasa Ramadhan adalah kemuliaan, dan mentaati peintah nafsu untuk membatalkannya adalah kehinaan. Menunaikan zakat adalah kemuliaan, dan tunduk pada bisikan nafsu untuk menahannya adalah kehinaan. Mengerjakan ibadah haji adalah kemuliaan, dan menjadi budak nafsu untuk terus menumpuk harta adalah kehinaan.

Tawadhu’ adalah kemuliaan, dan nafsu kesombongan adalah kehinaan. Tawakkal adalah kemuliaan, dan nafsu untuk bergantung pada selain Allah adalah kehinaan. Ikhlas adaah kemuliaan, dan nafsu untuk pamer adalah kehinaan. Mensyukuri nikmat adalah kemuliaan, dan kufur nikmat adalah kehinaan. Cinta kepada Allah adalah kemuliaan, dan cinta pada dunia adalah kehinaan. Menghormati ulama adalah kemuliaan, dan menghormati pelaku kejahatan adalah kehinaan. Memakan makanan yang halal adalah kemuliaan, dan memakan harta yang haram adalah kehinaan. Melakukan jual beli adalah kemuliaan, dan mengurangi timbangan dan memakan riba adalah kehinaan. Berkata-kata yang baik adalah kemuliaan, dan berkata-kata buruk adalah kehinaan. Kejujuran adalah kemuliaan, dan kebohongan adalah kehinaan. Kelembutan dan sabar adalah kemuliaan, dan marah-marah adalah kehinaan. Dst.

Kemuliaan dan kehinaan tampak jelas. Dengan akalnya yang sehat dan hatinya yang bersih, manusia mampu membedakan antara keduanya. Dan manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk memilih diantara keduanya. Setiap apa yang dipilih dan dikerjakannya memiliki akibatnya masing-masing. Oleh karena itu, apabila pada akhirnya nanti seseorang mendapatkan kebahagiaan, hal itu karena pilihan dan apa yang telah ia lakukan. Namun, apabila yang ia dapatkan adalah kehinaan, maka itu juga karena pilihan dan apa yang ia lakukan ketika hidup di dunia.

Allah berfirman,

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

Allah berfirman,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (QS. Al-Kahfi [18]: 29)

Allah berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8)

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply