Mana Yang DiDahulukan, Berbuka Puasa Atau Shalat Maghrib

0

Pertanyaan
Sebenarnya mana yang harus lebih dahulu kita lakukan, berbuka puasa atau shalat maghrib ? Dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa melaksanakan salat pada awal waktu, termasuk salat magrib, merupakan amal ibadah yang paling utama. Sementara dalam hadits-hadits lain juga dijelaskan bahwa menyegerakan berbuka merupakan sunah Rasulullah SAW.

Jawaban:

  1. Ubaidillah Lc, menjawab: Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW berada dalam sebuah perjalanan bersama para sahabatnya pada bulan Ramadan. Ketika matahari terbenam, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyiapkan hidangan berbuka. Ketika Bilal telah menyiapkan hidangan itu, Beliau pun minum lalu bersabda seraya memberi isyarat dengan tangannya; “Apabila matahari tenggelam dari arah sana dan malam pun tiba dari arah sana, maka orang yang berpuasa dibolehkan berbuka.”. [HR: Al-Bukhari dan Muslim).

Ini artinya, apabila bulatan matahari telah tenggelam, maka halal bagi orang berpuasa untuk berbuka meskipun mega masih terang benderang. Abu Daud meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi SAW berbuka sebelum melaksanakan salat Magrib. Beliau berbuka dengan memakan kurma basah.. Jika tidak ada, Beliau memakan kurma kering. Jika tidak ada, Beliau berbuka dengan air. Berbuka dengan mengkonsumsi makanan-makanan ringan yang manis memiliki faidah yang cukup besar.

Ibnu Qayyim berkata, “Pilihan Nabi mengkonsumsi kurma dan air saat berbuka sangat tepat. Karena secara naluri, manusia yang perutnya belum tersentuh apa-apa dari sejak pagi hari lebih suka dengan makanan-makanan ringan yang rasanya manis sebagai makanan pembuka yang masuk ke dalam mulutnya. Disamping bahwa makanan manis sangat berguna bagi ketahanan fungsi penglihatan.

Air yang diminum mengawali berbuka sangat baik untuk menyegarkan organ hati yang kering karena berbuka puasa. Jika hati dibasahi dengan air, maka fungsinya semakin sempurna, terlebih bila diberi asupan makanan setelah mereguk air. Oleh sebab itu bagi orang yang haus dan lapar, maka langkah yang paling utama adalah minum dalam kadar yang sedikit, lalu disusul dengan makanan ringan.”

Di dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda:“Umatku selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”  [HR. Al-Bukhari]. Ini artinya, jika seseorang telah memastikan matahari telah terbenam di ufuk barat, maka ia harus segera berbuka dengan meminum air dan makanan ringan yang rasanya manis.

Dari keterangan-keterangan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa mendahulukan berbuka daripada salat Magrib merupakan petunjuk dan ajaran Rasulullah SAW. Ini bukan berarti bahwa setelah tiba waktu Magrib, seseorang langsung mengkonsumsi makanan sekenyang-kenyangnya hingga menghabiskan banyak waktu dan menunda pelaksanaan shalat maghrib di akhir waktu. Langkah seperti itu tidak bisa dibenarkan, karena akan melalaikan pelaksanaan shalat pada awal waktu, terlebih bahwa waktu maghrib sangat sempit dan harus dilaksanakan segera. Nabi SAW bersabda: “Umatku selalu dalam kebaikan selama mereka tidak mengakhirkan shalat Maghrib hingga bintang-bintang bermunculan.”  [HR. Ahmad dan Abu Daud].

Untuk mengkombinasikan kedua keutamaan; keutamaan menyegerakan berbuka dan keutamaan menyegarakan shalat Mahgrib, maka langkah yang harus dilakukan setelah waktu Mahgirb tiba adalah berbuka dengan meminum segelas air putih lalu mengkonsumsi makanan ringan yang manis seperti kurma dan lain-lain. Setelah itu ia melaksanakan shalat Maghrib.

Hukum Bagi Wanita yang Berbuka Karena Menjaga Janin dan Anak Disusui
Pertanyaan:
1.Bolehkah wanita hamil dan ibu yang sedang menyusui berbuka puasa karena khawatir terhadap keselamatan janin dan anak yang sedang disusui?
2.Apa kewajiban yang harus mereka penuhi?

Jawaban:
1.Janin adalah karunia Allah yang harus dipelihara dengan baik agar lahir dengan selamat. Merawat janin dilakukan dengan memberi asupan gizi dan nutrisi yang banyak melalui makanan yang dikonsumsi oleh ibu yang sedang mengandungnya. Begitu pun anak balita, ia karunia Allah yang harus dijaga dengan kandungan ASI yang cukup dan berkualitas. Bila ibu yang sedang hamil mengkhawatirkan kesehatan janin yang dikandungnya saat berpuasa, maka boleh baginya untuk berbuka.

Begitupula bila ibu yang sedang menyusui merasa khawatir produktivitas ASI menjadi berkurang karena berpuasa, maka boleh baginya untuk berbuka. Hukumnya dianalogikan kepada orang sakit yang tidak kuat menjalani ibadah puasa atau khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa bila ia memaksakan berpuasa. Bagi orang yang sakit seperti ini diperbolehkan berbuka dengan konsekwensi ia wajib mengqadha puasa yang ia tinggalkan setelah tubuhnya sehat kembali. Allah SWT berfirman:  Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu (QS al-Baqarah [2]: 185)
2.Jika orang sakit diwajibkan mengqadha, maka wanita hamil dan menyusui juga diwajibkan mengqadha puasa yang ia tinggalkan selama bulan Ramadhan tersebut. Ia hanya diwajibkan mengqadha dan tidak diwajibkan membayar fidyah.

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply