Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah Secara Istilah

0

Makna Ahlussunnah Wal Jama’ah Secara Istilah. Untuk menjelaskan makna Ahlusunnah wal Jama’ah secara syar’i / istilah, kami akan menggunakan metode sebagaiman yang telah kita gunakan ketika menjelaskan maknanya secara bahasa. Setelah itu kami akan menjelaskan maknanya secara global.

Ahlun menurut istilah tidak memiliki makna. Ini berbeda dengan kata ahlun dari segi bahasa yang memiliki makna setelah di’idzofahkan (digabung) dengan kata lain, seperti kata dalam bahasa arab ahlul kitab atau ahlul bait.

Adapun kata as-sunnah menurut istilah memiliki makna yang berbeda-beda. Kata as-sunnah menurut ulama ahli hadits adalah setiap perkataan, perbuatan, ketetapan, jalan hidup, sifat fisik, akhlaq nabi, gerak dan diamnya, dalam keadaan sadar maupun tidur -baik sebelum atau setelah diutusnya menjadi nabi-.

Dan kata as-sunnah dalam hal ini mencakup hal-hal yang wajib dan yang mandub (sunah). Bahkan ia juga mencakup semua urusan agama. Karena dengan keseluruhan pribadi, perkataan dan perbuatan nabi Muhammad SAW, agama ini dibawa olehnya.

Sedangkan kata as-sunnah menurut para ulama ahli ushul fiqih dimaknai sebagai sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an. As-sunnah dalam hal ini bermakna segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW baik itu perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.

Berbeda dengan ulama yang lain, para ulama ahli fiqih memaknai as-sunnah dengan al-mandub. Maksudnya sunnah adalah amalan dan peribadatan yang diperitahkan di dalam agama Islam yang tidak termasuk jenis ibadah fardlu (wajib). Para ulama membedakan antara ibadah yang mandub dan sunnah.

Mandub mencakup segala hal yang diperintahkan oleh syareat -baik yang ditetapkan oleh sunnah nabi maupun penelitian dari sumber-sumber hukum syari’ah-. Sedangkan sunnah adalah segala sesuatu yang hanya ditetapkan dengan hadits dan petunjuk yang langsung dari nabi Muhammad SAW.

Adapun makna as-sunnah menurut ulama ahli aqidah/tauhid adalah semua petunjuk nabi Muhammad SAW di dalam masalah aqidah, keyakinan, ilmu dan amal. Disamping itu ia juga bermakna segala sesuatu yang dilakukan oleh khulafa’ur rosyidin (4 kholifah yang mendapatkan petunjuk yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali).

Ibnu Rojab al-Hambali mengatakan bahwa as-sunnah adalah cara-cara yang kita lakukan yang berpegang pada apa-apa yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW dan khulafa’ur rosyidin -baik dalam masalah aqidah (keyakinan), perbuatan, dan perkataan. (jami’ul ulum wal hikam, Ibnu Rojab al-Hambali).

Adapun kata al-jama’ah maknanya telah diterangkan di dalam al-Qur’an,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah semuanya dan janganlah bercerai-berai. (QS. Ali Imron: 103).

-firman Allah,

أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dirikanlah agama, dan janganlah kalian bercerai-berai di dalam agama. (QS. As-Syuro: 13).

-firman Allah,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kalian bercerai-berai dan berselisih setelah datangnya keterangan (Islam). Dan bagi mereka itu ada adzab yang yang besar. (QS. Ali Imron: 105).

Seorang ulama ahli tafsir -Ibnu ‘Ajibah rodliyallahu ‘anh- mengatakan, “perpecahan yang dibenci adalah perpecahan di dalam masalah ushul (dasar) agama, yaitu seperti permasalahan tauhid dan aqidah. Golongan mu’tazilah dan ahlussunnah berselisih pendapat dalam masalah itu. Ada 72 golongan yang telah muncul dari kelompok mu’tazilah yang semuanya sesat. Dan ahlussunnah adalah golongan yang selamat.

Adapun perbedaan di dalam permasalahan furu’ (cabang) agama adalah rahmat. Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW, khilafu ummati rohmatun (perbedaan pendapat diantara umatku adalah rahmat). Diantara contoh perbedaan yang diperbolehkan di dalam Islam adalah perbedaan pendapat para ulama ahli qiro’at al-Qur’an di dalam riwayat-riwayat yang berbeda, atau perbedaan guru-guru sufi dalam hal metode mendidik para murid yang ingin berjalan menuju Allah.

Sesungguhnya perbedaan pendapat adalah rahmat, dan menjadi bukti akan luasnya ajaran agama Islam yang diperuntukkan bagi umat Muhammad SAW yang dikasihi Allah. Barang siapa yang mengambil salah satu madzhab dari beberapa madzhab yang ada di dalam agama Islam akan selamat, selama ia tidak mengambil perkara yang ringan-ringan. (al-bahrul madid, Ibnu ‘Ajibah).

Nabi Muhammad SAW telah menasehati kita untuk bersatu dan berjama’ah. Beliau melarang tindakan bercerai-berai dan berpecah-belah. Nabi bersabda, “barang siapa melihat sesuatu yang dibenci dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Apabila ada salah seorang dari kalian yang melakukan tindakan memecah-belah jama’ah lalu ia mati, maka matinya dianggap seperti matinya orang di zaman jahiliyah”. (HR. Bukhari).

Dari Abi Hurairah, nabi bersabda, “barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin, lalu ia memecah-belah persatuan dan mati, maka matinya seperti matinya orang di zaman jahiliyah”. (HR. Ibnu Hibban)

Nabi juga bersabda, “bani Israil telah berpecah-belah menjadi 71 atau 72 golongan. Dan kalian juga akan terpecah-belah seperti jumlah mereka, bahkan lebih banyak. Semuanya sesat, kecuali satu golongan”. Lalu para sahabat bertanya, “siapakah golongan itu wahai nabi!”, nabi menjawab, “al-jama’ah (yang berjama’ah), dan golongan lainnnya akan berada di neraka”. (mushannaf Abdur-Razak)

Nabi bersabda, “para ahli kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 agama. Dan agama ini (Islam) akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan berada di neraka dan satu golongan berada di surga. Golongan yang satu itu adalah al-jama’ah”. (HR. Abu Dawud)

Nabi bersabda, “bani Isra’il telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Sedangkan umatku akan terpecah menjadi 72 golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan yaitu al-jama’ah”. (HR. Ibnu Majah).

Nash-nash syariah -baik al-Qur’an maupun al-Hadits- di atas menunjukkan akan pentingnya jama’ah dan kewajiban untuk selalu berjama’ah (bersatu dan berkelompok).

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply