Lebih Mensyukuri Nikmat Air Di Bulan Ramdhan

0

Lebih Mensyukuri Nikmat Air Di Bulan Ramdhan. Setelah sebelumnya kita dibebaskan untuk makan dan minum air sepuas-puasnya, pada bulan Ramadhan ini kita dilarang untuk makan dan minum, mulai dari terbit matahari sampai terbenamnya. Meskipun sinar matahari bersinar begitu terik dan rasa lapar dan dahaga menyerang setiap saat, ia harus tetap bertahan. Pada saat inilah manusia akan menyedari akan kelemahannya dan kebutuhannya akan Allah yang Maha Memberi rezeki setiap saat. Begitu berharganya sepiring nasi dan segelas air, sehingga jika itu tidak ada, benar-benar akan membuat badan lemas dan pikiran menjadi capek.

Orang yang beriman akan sadar akan hal itu, sehingga Ramadhan ini benar-benar akan menjadikannya hamba yang lebih mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Kebanyakan manusia hanya mensyukuri nikmat uang, harta benda, dan tabungan, sehingga mereka melupakan nikmatnya makan dan minun. Padahal tanpa makan dan minum, tentu manusia akan kehilangan energi sehingga tak berdaya untuk melakukan aktivitas apapun.

Disamping itu, ia juga sadar atas apa yang dialami oleh saudara-saudaranya yang dihimpit oleh kekurangan dan kemiskinan, hingga mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Oleh karena itu, ia ingin menjadi hamba yang lebih bersyukur atas kelebihan harta yang ia memiliki, lalu ia memberikan sebagiannya untuk menyantuni kaum Dzu’afa.

Mari kita renungkan hikmah di bawah ini,

 

[Tidak ada mata air di langit. Tapi air hujan bisa menenggelamkan kampung-kampung. Siapa yang menurunkannya?]

 

Allah adalah Zat yang menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya. Ia juga yang Maha Mengaturnya, agar semuanya berjalan dengan baik. Dengan kekuasaan dan kemampuan-Nya, Ia mampu mengurusi segalanya sendiri dengan tidak merasa lelah dan mengantuk. Sebab, Dia adalah Tuhan yang Maha Agung. Dialah Tuhan yang Maha perkasa. Dialah Tuhan yang Maha Besar. Dialah Tuhan yang Maha Kuat, yang kekuatan-Nya tidak terbatas, Subhanallah!.

Allah adalah Tuhan yang Maha Menghidupkan. Pernahkah kita membayangkan ada berapa jumlah makhluk yang dihidupkan oleh Allah setiap harinya?. Ada berapa bayi yang dilahirkan di bumi ini setiap harinya?. Ada berapa kambing yang juga lahir di hari yang sama?. Lalu ada berapa ayam?, ada berapa sapi?, ada berapa burung?, ada berapa ikan?, ada berapa hewan-hewan lain dan juga tumbuh-tumbuhan yang juga baru pertama kali menghirup nafas di hari yang sama?. Subahanallah!

Dan di hari yang sama, Allah juga mematikan makhluk-makhluk-Nya. Pernahkah kita menghitung berapa jumlah manusia, hewan, dan tumbuhan yang dimatikan Allah di setiap harinya?. Pasti manusia tidak dapat menghitungnya karena sangat banyaknya. Subhanallah!. Dialah Zat yang Maha Mematikan. Di saat yang sama, Ia juga memberi rezeki kepada seluruh makhluk, baik yang ada di udara, di darat, di dalam air, di dasar laut, yang terlihat oleh mata manusia maupun yang tak terlihat. Allahu Akbar!, Dialah Zat yang Maha Memberi rezeki dan kenikmatan.

Allah adalah Zat yang Maha Tahu. Ia mengetahui bahwa air yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia itu akan habis jika Ia hanya menciptakan panas saja. Oleh karena itu, Ia memasangkan musim kemarau denga musim penghujan, agar air tetap tersedia di bumi. Dengan air hujan, tanam-tanaman akan tumbuh subur, sehingga mereka akan menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan bagi pernafasan makhluk hidup. Dengan air hujan, rerumputan yang kering akan kembali menghijau, sehingga hewan-hewan herbivora akan bisa mendapatkan mekanannya kembali. Dengan air hujan, petani yang tadinya sedih karena tidak bisa memanen tanamannya karena kekurangan air, menjadi senang. Karena air hujan menyuburkan tanah pertanian yang mulia kering dan menyegarkan tumbuhan yang telah layu.

Allah adalah Tuhan yang Maha Kasih dan Sayang. Daerah-daerah yang dilanda kekeringan dan kekurangan air akan berubah karena air hujan. Penduduknya yang tadi merasa susah karena air yang minim, menjadi bersuka-cita ketika hujan turun. Dengan air hujan, sungai-sungai yang kering menjadi mengalir kembali, sehingga ia bisa melakukan fungsinya untuk memberikan pengairan pada sawah-sawah di sekitarnya. Danau dan mata air yang mulai berkurang ketersediaan airnya akan menjadi penuh kembali, sehingga manusia bisa merasakan manfaatnya.

Namun, hanya sedikit manusia yang merasakan bahwa hujan merupakan salah satu anugerah besar yang diturunkan Allah Swt. Sungguh orang-orang yang beriman itu dapat merasakan keagungan Allah di dalam hujan. Mereka begitu takjub dengan kekuasaan Allah yang bisa menurunkan air dari langit. Bagaimana air hujan yang berjuta-juta liter itu bisa ditampung oleh langit?, Subahanallah. Dan orang yang bisa merasakan keagungan Allah, akan tiada henti untuk bersyukur kepada-Nya atas anugerah hujan ini, lalu mereka akan bersujud.

Allah berfirman,

وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 164)

Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak. Dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur. Dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS, Al-An’am [6]: 99)

Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. (QS. An-Nahl [16]: 10)

Allah befirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الأرْضُ مُخْضَرَّةً

Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? (QS. Al-Hajj [22]: 63)

Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الأرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit. Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu, tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. (QS. Az-Zumar [39]: 21)

Allah berfirman

وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ

Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. (QS. Al-Baqarah [2]: 22)

 

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply