Lebih Mencintai Para Wali Allah di Bulan Ramadhan

0

Lebih Mencintai Para Wali Allah di Bulan Ramadhan. Tidak semua manusia sama. Ada manusia yang diangkat derajatnya oleh Allah sehingga ia melebihi manusia yang lain. Para nabi adalah manusia-manusia pilihan Allah Swt. Mereka adalah manusia yang paling mulia, dan nabi yang termulia adalah nabi Muhammad Saw. Dan umat nabi Muhammad adalah umat yang termulia. Dan diantara umat nabi Muhammad yang paling mulia adalah para sahabat. Dan manusia mulia setelah sahabat adalah para tabi’in, tabi’ tabi’in, dan begitu seterusnya. Para ulama adalah manusia pewaris nabi Muhammad yang mendapatkan kemuliaan dari Allah Swt. Para ulama terus ada untuk meneruskan dakwah nabi Muhammad hingga hari kiamat nanti. Ketika seorang ulama meninggal dunia, maka Allah akan menggantinya dengan ulama yang lain. Dan diantara ulama itu ada orang-orang yang memiliki derajat istimewa. Mereka adalah para wali-wali Allah, dimana mereka memiliki tugasnya masing-masing. Mereka adalah para penjaga bumi. Mereka adalah pencegah bumi agar tidak bergoyang.

Karena sebab mereka Allah menurunkan hujan. Karena mereka, Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Karena mereka, Allah memberikan rezeki kepada umat manusia. Karena mereka, Allah masih meniupkan angin. Karena mereka, Allah masih menyalakan matahari. Karena mereka, Allah menegakkan langit. Jumlah mereka sama dengan jumlah nabi, yaitu ada 124.000. Setiap ada satu yang menghadap Tuhan, maka Dia akan menggantinya dengan orang lain.

Mereka adalah pembimbing umat manusia. Mereka laksana cahaya yang menerangi kegelapan. Mereka adalah petunjuk umat manusia menuju jalan kebenaran. Mereka adalah penyambung antara hamba dengan Tuhan. Mereka senantiasa menebarkan ketentraman dan kedamaian. Mereka menjunjung tinggi keadilan. Mereka sangat menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan.

Hati mereka bersih, sehingga Nur (cahaya-cahaya ilahi) yang turun dari langit dapat mereka tangkap dengan baik. Nur yang masuk ke dalam hati kemudian akan membuahkan ilmu dan hikmah. Itulah ilmu yang langsung datang dari Allah Swt. Ketika ilmu ini dikeluarkan melalui lisan mereka, maka orang-orang yang mendengarnya akan tersadar betapa selama ini ia telah lupa kepada Tuhan. Ia juga menjadi tergerak untuk bertaubat. Ia juga bersemangat untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Ia juga menjadi rindu kepada Allah dan Rasulullah. Ia menjadi tahu akan rendahnya nilai dunia dan tingginya nilai surga. Ia menjadi meninggalkan majelis-majelis yang tidak baik lalu melangkah menuju majelis-majelis yang baik. Ia menjadi tidak suka membicarakan aib dan kejelekan-kejelekan orang lain, dan berubah menjadi senang untuk membaca zikir dan shalawat. Ia juga gemar membaca buku-buku tentang agama Islam. Ia juga tidak suka untuk banyak bertemu dengan manusia, karena terlalu sering bertemu manusia akan menimbulkan banya dosa. Ia lebih banyak diam dan menyendiri untuk bertemu dengan Tuhannya.

Agar lebih mencintai Wali-Wali Allah, mari kita membaca hikmah berikut ini,

 

[Kata-kata mutiara orang-orang hebat hanya mengantarkan ke tangga-tangga. Sedang kalam-kalam hikmah wali-wali Allah mengantarkan seseorang ke titik puncak. Paling puncak]

 

Tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Tiada kebahagiaan tanpa kesedihan. Tiada istirahat tanpa kelelahan. Tiada keberhasilan tanpa kegagalan. Setiapa manusia yang ingin mencapai kenyamanan hidup, pasti dimulai dengan ketakutan dan kekhawatiran. Orang yang ingin mencapai keberuntungan, harus melakukan pengorbanan-pengorbanan. Itulah aturan Allah yang ditetapkan di alam dunia ini.

Karena untuk mencapai kesuksesan hidup tidak mudah, maka ia harus melihat kepada orang-orang tua yang telah terlebih dahulu berjuang dan telah membuktikan kesuksesannya. Ia harus mempelajari apa-apa yang membuat mereka kuat bertahan ketika diuji dengan berbagai masalah. Ia juga harus mengamati apa kiat-kiat untuk tetap fokus pada tujuan yang dicapai dalam setiap kondisi. Oleh karena itu, ia harus datang kepada mereka lalu mendengar apa-apa yang menjadi nasehatnya.

Dengan mendengar motivasi dari orang-orang yang telah sukses menjalani hidup, kita akan mendapatkan semangat baru, sehingga kita menjadi rajin dan giat bekerja. Motivasi ibarat petir yang akan membangunkan kita dari kemalasan dan tidur yang panjang. Dan setelah bangun, maka kita menjadi sadar bahwa sesuatu akan datang menimpa kita jika kita tidak segera berfikir dan bergerak. Dan jika kita mau segera bergerak menuju arah yang baik, maka sesuatu yang menakjubkan seolah-oleh telah menunggu kita.

Allah menyukai muslim yang kuat dari pada muslim yang lemah. Allah menyukai muslim yang rajin dari pada muslim yang malas. Allah menyukai muslim yang bekerja daripada muslim yang berpangku tangan. Allah menyukai muslim yang berfikiran luas daripada muslim yang tidak mau berfikir. Allah menyukai muslim yang bergerak daripada muslim yang berdiam diri. Allah menyulai muslim yang bercita-cita besar daripada yang hanya pasrah pada nasib. Sungguh Islam ini akan jaya dan besar jika para pemeluknya mau berjuang dan memiliki jiwa besar.

Namun Allah juga mengingatkan, bahwa kesuksesan yang sebenarnya adalah keselamatan di akherat. Kejayaan sebenarnya adalah keistiqamahan dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Kekayaan yang sesungguhnya adalah ilmu. Kebahagiaa yang sejati adalah pertemuan dengan Allah Swt. Keberuntungan hakiki adalah dijauhkan dari dosa dan maksiat. Kemuliaan yang hakiki adalah duduk bersama dengan para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang shaleh.

Para motivator memberikan nasehat tetang bagaimana mendapatkan kesuksesan hidup di dunia, tetapi Para ulama memberikan nasehat untuk mendapatkan kesuksesan di akherat. Motivator menulis buku tentang kiat-kiat untuk mendapatkan kekayaan dan harta, sedangkan ulama menulis buku tentang kiat-kiat mensyukuri kekayaan. Motivator menyampaikan pidato tentang bagaimana mendapatkan keuntungan bisnis yang sebesar-besarnya, sedangkan ulama menyampaikan pidato untuk berhati-hati dalam mencari rezeki. Keuntungan harus didapatkan dengan cara yang halal. Lebih baik halal meskipun mendapatkan keuntungan yang sedikit, daripada banyak tetapi diperoleh dengan cara-cara yang meragukan. Dan jika keuntungan itu sangat besar, maka jangan lupa untuk mengeluarkan zakat dan infaknya.

Motivator menyampaikan gambaran-gambaran tentang keindahan dan kenikmatan duniawi, sedangkan ulama menyampaikan gambaran-gambaran tentang kenikmatan surgawi. Motivator menyampaikan cara-cara untuk menghadapi masa depan, sedangkan ulama menyampaikan cara-cara untuk mempersiapkan kematian. Motivator mengatakan, bahwa waktu adalah uang, sedangkan ulama mengatakan bahwa waktu adalah ibadah. Motivator menyampaikan nasehat untuk terus bekerja keras, sedangkan ulama meyampaikan nasehat untuk tetap istiqamah beribadah sampai mati. Keduanya sangat dibutuhkan, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah nasehat para ulama. Sebab dengan nasehat ulama, kita bisa mengetahui Allah dan apa tujuan hakiki dari hidup kita di dunia, sehingga kita bisa merasakan bagaimana pentingnya akherat, kehidupan abadi yang tiada akhir.

 

Allah berfirman,

إنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (QS. Faathir [35]: 28)

Allah berfirman,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. (QS. Al-Maidah [5]: 55)

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Dan kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin. (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

Wallahu A’lam.

Share.

Leave A Reply