Lebih Menajamkan Mata Hati Di Bulan Ramadhan

0

Lebih Menajamkan Mata Hati Di Bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci, yang merupakan sebuah momen yang tepat bagi siapa saja untuk mensucikan hati. Bulan-bulan yang lalu kita telah mengotori hati dengan berbagai keburukan-keburukan. Karena saking banyaknya kotoran yang melekat di hati, mata hati tidak sanggup melihat mana yang benar dan mana yang salah. Mata hati yang tertutup tentu tidak akan bisa menemukan kebenaran, yang sebenarnya kebenaran itu mudah untuk ditemukan. Jika kebenaran tidak bisa ditemukan maka ia akan menganggap benar atas apa saja, yang sebenarnya itu adalah sesuatu yang salah.

Ibadah adalah salah satu cara untuk mensucikan hati. Dan diantara cara yang paling ampuh itu adalah dengan lapar. Dan saat ini kita sedang berpuasa. Inilah satu langkah untuk membersihkan hati. Jika kita melakukan puasa dengan sebenar-benarnya, dengan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi juga menahan diri dari maksiat, maka hati kita akan menjadi bersih. Hati kita akan bisa melihat kembali, sehingga ia akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana jalan yang sesat dan mana yang lurus. Mana orang yang baik dan mana orang yang berpura-pura baik. Mana ulama yang benar-benar pewaris Rasulullah, dan mana ulama yang hanya bersembunyi di balik jubah dan jenggotnya. Sebab, di zaman ini banyak orang yang meskipun memiliki jenggot yang panjang dan jubah yang besar, tetapi perbuatannya tidak mencerminkan akhlak ulama.

Dengan mata hati yang jernih kita akan memilih ulama yang benar-benar menempuh jalan Nabi Muhammad, para sahabat, dan para tabi’in. Sehingga dengan perantara ulama itu kita bisa menemukan kebenaran ajaran islam. Dan setelah kita memahami ajaran yang benar, maka ibadah kita juga akan benar. Dan jika ibadah kita benar, maka kita akan bisa berjumpa dengan Allah Swt. dalam kecintaan dan kerinduan.

Mari kita renungkan hikmah di bawah ini,

 

[Jangan terburu-buru kau panggil ustadz, pada siapa yang berjenggot. Jangan terburu-buru kau sebut ulama, pada siapa yang berjubah. Meski berbaik sangka itu baik]

 

Nabi Muhammad telah wafat, para sahabat telah lama meninggalkan kita, dan para tabi’in telah berpindah ke alam barzah. Akan tetapi, manusia tidak dibiarkan kebingungan karena tidak ada petunjuk. Allah Maha Kasih Sayang kepada hamba-hamba-Nya, sehingga sebagian imu yang dimiliki oleh Rasulullah Saw, para sahabat, dan Tabi’in diturunkan kepada orang-orang yang mencintai mereka yang hidup setelahnya. Merekalah para ulama, yang telah terpilih karena kebersihan hati dan keistiqamahannya berada di atas jalan Allah Swt.

Ulama adalah orang-orang yang bisa mencerminkan pribadi Rasulullah Saw. Rasulullah memiliki ilmu dan kebiksanaan yang tinggi. Rasullullah bertutur kata yang lembut dan tidak pernah meninggikan suaranya, apalagi marah-marah. Rasulullah bersikap sopan kepada manusia lainnya, bahkan kepada agama lain. Rasulullah bersabar ketika mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari musuh-musuhnya pada masa-masa awal Islam. Rasulullah hidup sederhana meski menjadi kepala negara dan Islam telah mencapai puncak kejayaannya. Rasulullah sayang kepada kaum fakir dan miskin. Rasulullah selalu bangun malam dan beribadah kepada Allah sampai bengkak kakinya. Rasulullah selalu menghormati orang lain dan menjunjung tinggi keadilan, baik kepada teman maupun lawan. Sungguh di dalam diri Rasul ada akhlak yang agung. Dan apabila seseorang termasuk orang yang terpilih menjai pewaris Rasulullah, maka ia akan memiliki keagungan akhlak itu, meski akhlak pewaris Rasul pasti akan berada di bawah akhlak Rasulullah Saw.

Sesungguhnya kemuliaan ada pada diri Rasulullah Saw. Oleh karena itu, manusia dari umatnya yang paling besar kemuliaannya adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw. Dan orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw. adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dan para ulama adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki akhlak yang paling bagus, sebab dia adalah panutan dan suri tauladan bagi masyarakat.      Namun, dewasa ini kita sering mendengar kata ‘ustadz’ dan ‘ulama’ yang disematkan oleh suatu kelompok pada orang tertentu. Kata ustadz dan ulama seolah-olah bukan barang mahal lagi. Asalkan seeorang memiliki jenggot atau memakai jubbah, dan ditambah dengan kepandaian berbicara yang sedikit mengutip satu atau dua ayat dan hadits, maka ia pantas di panggil ulama. Sungguh ulama adalah barang mahal yang ditemukan dan dilihat karena ketinggian akhlaknya, dan bukan pada pandainya berpidato atau panjangnya sorban.

Ulama bukanlah yang berkoar-koar di mimbar dengan ‘Allah Akbar’, tetapi mengajak para pendengar untuk membenci seseorang. Ulama bukanlah yang memprovokasi masyarakat dengan kebencian dan kekerasan. Ulama bukanlah dia yang mengajak untuk menentang pemerintahan yang sah untuk digulingkan. Ulama bukanlah yang mengadu domba antar kelompok satu dengan kelompok yang lain. Ulama bukanlah yang mengkafir-kafirkan saudaranya seiman hanya karena memiliki pemahaman atau amalan yang berbeda. Ulama bukanlah yang menuntut atau memaksa kepada pihak tertentu untuk melakukan ini dan itu. Sungguh jika ia bertindak seperti itu, dia bukanlah ulama, meskipun ia memiliki jenggot yang panjang.

Ulama senantiasa menebarkan kedamaian dan kenyamanan. Ulama memasukkan cinta dan kasih sayang di dalam hati para pendengar. Ulama mengingatkan orang-orang untuk tidak lupa pada tanggung jawabnya di akherat kelak. Ulama mengajarkan cara untuk mencintai Allah dan Rasulullah. Ulama menceritakan kisah-kisah kehidupan para sahabat dan orang-orang shaleh yang akan melembutkan hati-hati para murid. Ulama menyampaikan ilmu-ilmu tentang bagaimana cara untuk mendapatkan kekhusu’an dan keikhlasan. Ulama mengajarkan persatuan, persaudaraan, menghormat orang lain, dan cintai tanah air. Ulama menasehati agar menghormati pemimpin ketika menjadi bawahan, dan menyayangi bawahan ketika menjadi pemimpin. Ulama mengajarkan untuk menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan, sehingga manusia tidak akan berani mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Terhadap ulama yang baik, seharusnya manusia berpegag teguh, sehingga hidupnya akan selamat. Dan terhadap ulama yang tidak baik, seharusnya ia berlepas diri, agar ia tidak terjerumus ke dalam kesesatan. Barangsiapa yang sesat di dunia maka ia juga akan tersesat di akherat. Tersesat di dunia masih memiliki peluang untuk ditolong, namun jika tersesat di akherat maka ia tidak akan tertolong, Naudlubillah min zalik.

 

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. (QS. Al-Maaidah [5]: 105)

 

Allah berfirman,

فَمَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا

Barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. (QS. Yunus [10]: 105)

 

Allah berfirman,

وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 18)

 

Wallahu A’lam.

Share.

Leave A Reply