Lebih Baik Berteman Dengan Orang Bodoh Yang Tidak Menuruti Hawa Nafsu, Dari Pada Berteman Dengan Orang Pandai Yang Menuruti Hawa Nafsu (Hikmah ke-tigapuluh lima)

1

Lebih Baik Berteman Dengan Orang Bodoh Yang Tidak Menuruti Hawa Nafsu, Dari Pada Berteman Dengan Orang Pandai Yang Menuruti Hawa Nafsu  (Hikmah ke-tigapuluh lima)

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا. وَلأِنْ تَصْحَبَ جَاهِلاً لاَ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ. فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ، وَأَىُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لاَ يَرْضَى عَنْ نَفسِهِ

Dasar semua jenis maksiat, lupa, dan syahwat adalah ridlo kepada nafsu. Dan dasar setiap ketaatan, ingat, dan menjaga diri adalah tidak ridlo dengan ajakan nafsu.

Jika engkau bersahabat dengan seseorang yang bodoh tetapi tidak menuruti keinginan nafsunya, itu lebih baik bagimu dari pada berteman dengan orang yang pandai tetapi ia menuruti hawa nafsunya.

Apakah masih dikatakan orang yang pandai, jika ia menuruti hawa nafsunya, dan apakah masih dinamakan bodoh, orang yang tidak menuruti keinginan hawa nafsunya?!

Sesungguhnya ridlo pada nafsu dapat menutupi mata hati. Sehingga baginya yang buruk akan terlihat baik. Sebaliknya, jika ia tidak menuruti nafsunya, akan terbuka mata hatinya, sehingga ia akan melihat yang buruk itu buruk dan yang baik itu baik.

Barangsiapa yang ridlo pada ajakan hawa nafsunya, maka ia akan dikuasai oleh lupa kepada Allah. Sehingga ia tidak akan memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang dapat mengotori hatinya.

Syahwat akan senantiasa mengalahkannya karena ia tidak memiliki alat pengawas dalam hatinya. Dan pada akhirnya ia akan terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Sesungguhnya lupa dan syahwat adalah sebab maksiat. Sedangkan ingat dan menjaga diri adalah sebab taat.

Ridlo pada ajakan hawa nafsu adalah dasar dari segala macam jenis kemaksiatan. Di dalam hadits dikatakan, “musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang terletak diantara kedua lambungmu”.

Yusuf berkata di dalam firman Allah,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS. Yusuf: 53).

Karena ridlo pada ajakan hawa nafsu seringkali menjadi kebiasaan orang-orang yang mendalami ilmu-ilmu dzohir -yaitu orang-orang yang tidak dapat menunjukkan penyakit-penyakit hatinya- maka pengarang mencegah kita untuk bertema dengan mereka.

Sesunggunya berteman dengan orang-orang bodoh (baca: yang tidak mendalami ilmu-ilmu dzohir) tetapi tidak menuruti hawa nafsunya, lebih memberikan manfaat bagimu dari pada berteman dengan orang yang menguasai ilmu dzohir tetapi ia menuruti ajakan hawa nafsu.

Sesungguhnya ukuran kemanfaatan dalam pertemanan adalah bertambahnya keyakinan kita akan keagungan, kebesaran, dan kebaikan Allah SWT. Dan hal ini tidak mungkin terjadi kecuali berteman dengan orang-orang yang bisa mengetahui dan melihat peyakit-penyakit hati dan yang mengobatinya, bukan dengan orang yang menguasai ilmu akal dan ilmu syareat.

Apakah masih dinamakan ‘alim, seseorang yang tidak mendapatkan manfaat dengan ilmunya karena masih menuruti hawa nafsunya?!. Dan apakah masih disebut orang bodoh jika kebodohannya tidak membahayakannya, karena ia tidak ridlo dengan ajakan hawa nafsunya?!.

Hendaknya seorang murid tidak berteman kecuali dengan orang-orang ‘arif, karena mereka mampu melihat penyakit-penyakit hatimu dan tidak menuruti ajakan hawa nafsu.

Abdul majid As-Syarnubi, syarkhu kitabil hikam

Share.

1 Comment

Leave A Reply