Kisah Keramat Mbah KH. Abdul Hamid Pasuruan

0

Banyak kita mendengar wali-wali Allah yang diberi oleh Allah kemampuan-kemampuan luar biasa. Meskipun begitu mereka tidak sombong dan berbangga diri. Justru sebaliknya, semua itu akan semakin menambah ketawadhuan mereka di hadapan Allah SWT. Sehingga keistimewaan-keistimewaan itu ia pergunakan untuk membantu orang lain.

  1. Abdul Hamid, salah seorang ulama pemimpin Pesantren Salafiyyah Pasuruan, Jawa Timur, dianugerahi karomah dapat mengetahui apa yang ada dibenak orang.

Asmawi, saiah seorang santrinya, gundah gulana. Ia harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang sudah jatuh tempo. Besarnya Rp 300.000, cukup besar untuk ukuran waktu itu, tahun ‘70-an. Ia tidak tahu dan mana uang sebanyak Itu bisa didapat dalam waktu singkat. Saking buntu otaknya, Ia hanya bisa menangis, malu kalau sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada Kiai Hamid.

Dengan lembut Kiai menghibur. “Mengapa sampai menangis segala, kan masih ada Kiai,” katanya, yang lantas menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng.

“Kumpulkan daun-daun yang gugur itu dan bawa kemari,” pinta Kiai Hamid.

Setelah menerima daun-daun kelengkeng itu, Kial Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Ketika ditarik keluar, di tangannya tergenggam uang kertas. Kemudian a menyuruh Asmawi melakukan hal sama tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya. Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp 225.000. Masih kurang Rp 75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp 75 ribu kepada Kiai Hamid. Jadi klop Rp 300.000

Kiai Abdul Hamid wafat pada 25 Desember 1985, dalam usia 71 tahun. Jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung Pasuruan, berdampingan dengan makam Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf dan Habib Abdulkadir bin Husen Assegaf.

Lahul Fatihah……

Share.

Leave A Reply