KH Subki Parakan, Jendral Bambu Runcing

0

KH Subki Parakan, Jendral Bambu Runcing. Potret desa Parakan tidak berbeda jauh dengan desa-desa pada umumnya di Indonesia. Masyarakatnya yang sebagian besar petani dan pedagang serta pekerja home industri, selebihnya pegawai dan buruh. Serta belum menunjukkan dinamisasi masyarakat, sarana transportasi masih langka. Jalanraya yang menghubugkan dengan kota hanya bisa dilalui dengan Kereta Api. Sebagian masyarakat sendiri banyak yang menuju kota lebih senang dengan berjalan kaki. Namun wajah Parakan yang digambarkan di atas sungguh kontras dengan masyarakatnya padamasa Revolusi. Lebih terkesan masyarakat Parakan sebagai kota yang cukup maju bahkan mengungguli daerah yang lainnya.

Mulai dari cara berfikir, pola kehidupan serta pola interaksinya, dan kondisi ekonomi masyarakatnya serta bentuk bangunan rumah penduduknya, bahkan pemahaman ajaran agamanya menunjukkan masyarakat yang mengalami pembaharuan dalam cara kehidupannya dengan cara tidak tercerabut dari agamanya. Bahkan, polesan kehidupan itu, menjalar ke daerah lain sekelilingnya dengan malampaui batas sekat wilayah dan budaya. Singkatnya berubah wajah menjadi yang sedemikian maju. Kondisi tersebut tidak bisa lepas dari peran para Ulama, antara lain KH.Subkhi. lebih dikenal dengan nama Mbah Subkhi. Mbah Subkhi lahir sekitar tahun 1860 dan pernah berguru kepada beberapa Ulama dan wafat tahun 1959.

Ulama yang Nasionalis

Di antara deretan ‘Ulama di tanah air, nama Mbah Subkhi tentulah bukan nama yang asing. ‘Ulama yang asli dari Parakan ini cukup kontras dengan kehidupan di hari tuannya adalah sosok yang penuh dengan keterusterangan sikap dan ucapan. Orang tuanya adalah merupakan salah seorang pasukan Diponegoro yang kemudian berjuang dan menetap di daerah Parakan. Ia adalah salah seorang ‘Ulama yang menonjol dan sekaligus unik. Di samping lugas dalam berbicara, berani melawan yang dianggapnya tidak benar, juga mempunyai rasa yang sangat tresno terhadap umat serta tawadluk. Dengan keteguhan jiwa orang yang menemukan dirinya sendiri, Mbah Subkhi menjadi sangat dihormati semua orang, dicintai santri-santrinya, disegani kawan-kawannya dan ditakuti musuh musuhnya.
Sekalipun demikian kehidupan Mbah Subkhi adalah sangat sederhana.Kesedarhanaan hidupnya menjadi contoh bagi setiap orang yang kekurangan akibat terpaan dalam cobaan hidup. Dan bagi orang yang berada, Mbah Subkhi menjadi sosok lembaran yang harus ditiru dalam kezuhudan. Hal itu dapat dilihat dari ungakapan KH.Saifudin Zuhri dalam bukunya berangkat dari Pesantren “KH Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin dan KH Masykur pernah juga mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, KH Subeki menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam itu. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dan mangatakan bahwa apa yang dilakukannnya sudah benar”

Agaknya semua manifestasi lahiriah tersebut merupakan penyingkapan dari proses penyerbukan panjang benih-benih ruhaniah religius Mbah Subkhi. Bahkan oleh sebagian kalangan beliau dinobatkan sebagi orang yang telah menempati Maqom tertentu dalam kehidupan tasawwuf. Bagi masyarakat terutama para pejuang, Mbah Subkhi adalah magnet sekaligus semen perekat yang membuat kohesivitas social, dan benar-benar menjadi strum dalam kehidupan sosial. Dalam realitasnya, memang secara gemilang telah malahirkan sebuah religius Al-Qur`an sebagai motornya. Dalam etape pengabdiannya beliau terlihat ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih dalam pengabdiannya.

Karena itu pantas jika banyak kalangan yang berebut mendatangi rumahnya, mulai rakyat biasa hingga para pejabat bahkan Jendral Sudirman, Bung Tomo, KH.Wahid Hasyim, Menteri dan tokoh tokoh yang lain sowan kepada beliau utuk mencium jemari tangannya dengan meminta sekedar nasehat atas pemecahan atas berbagai belitan masalah yang melilit serta do’a. Tatapan matanya yang teduh, raut muka yang teduh serta tutur katanya yang menyejukkan seakan membasuh pekarangan batin umat yang kerontang. Akhlak kekyaiannya untuk menyantuni segenap lapisan masyarakat yang tidak mampu tidak pernah lekang dalam ruas-ruas perjuangan beliau.

Bambu Runcing

  1. Syaifuddin Zuhri mengisahkan: “Berbondong-bondong barisan-barisan Lasykar dan TKR menuju ke Parakan,sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung penganten sundoro Sumbing. Diantaranya yang paling terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur. “Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia” di bawah pimpinan Bung Tomo, “Barisan Banteng” dibawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman, “Laskar Pesindo” dibawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini baik TKR maupun badan-badan kelasykaran berbondong-bondong menuju ke Parakan……”.

Kisah ini diceritakan KH.Saefudin Zuhri mantan Menteri agama, yang mengalami peristiwa secara langsung, tatkala dimasa revolusi beliau mengantar KH.A.Wahid Hasyim,KH.Zainul Arifin dan beberapa petinggi negara untuk datang ke Parakan menemuai Kyai Subhi. Berapa ulama daerah Temanngung yang mengantar beliau adalah Kyai Mandzur, Kyai Nawawi, Kyai Istahori dan beberapa ualama lainnya.

Bambu runcing adalah sebatang bambu berkisar panjangnya kurang lebih dua meter yang dibuat runcing pada salah satu ujung atau kedua ujungnya. Peralatan yang sederhana ini, ternyata pada masa perang kemerdekaan telah menjadi senjata massal yang pakai rakyat dalam melawan penjajah. Siapa mengawali pemakaian Bambu Runcing sebagai senjata massal rakyat, apakah berasal dari Parakan, atau dari daerah lain. Tetapi yang jelas pada masa perang kemerdekaan senjata tradisional banyak sekali di gunakan untuk perang melawan senjata-senjata modern.

Bambu Runcing pada masa Jepang juga sudah di gunakan. Menurut sumber sejarah pada masa Jepang mengadakan pelatihan-pelatihan untuk para anak-anak, remaja dan pemuda dalam Senendan, senjata yang di pakai untuk latihan antara lain senjata bambu runcing. Mengenai amu runcing yang di Parakan menurut seuah sumber konon merupakan ide dari Kyai Siraj Payaman dan beberapa Ulama lainnya yang menyuruh santri dan para pejuang untuk mengusir penjajah dan terleih dahulu meminta berkah dari kyai Suhi Parakan

Bagaimana proses penyepuhan Bambu Runcing oleh para kiai di Parakan? Jika membaca sumber-sumber dan para pelaku sejarah cukup banyak versi dan variasi. Variasi ini terkait banyak hal seperti siapa yang mengawali penyepuhan Bambu Runcing? Doa apa yang di bacakan? Siapa yang membacakan doa, dan bagaimana proses penyepuhan di lakukan. Rumit dan banyaknya variasi tersebut memang sangat dimungkinkan terjadi. Hal tersebut disebabkan karena memang terlalu banyaknya orang yang berbondong-bondong datang ke Parakan.

Peralatan senjata tradisional yang digunakan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekan Indonesia sebenarnya sangat beragam. Pada tahun itu di kenal senjata-senjata tradisional Bambu Runjing, Tombak, Keris, Ketapel, dan Sujen. Namun dari berbagai senjata tersebut yang kemudian menjadi simbol heroisme pada masa lalu hingga sekarang terutama perjuangan sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia adalah Bambu Runcing

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply