Keutamaan Membalas Budi Baik Orang Lain

0

Keutamaan Membalas Budi Baik Orang LainAllah adalah Tuhan yang Mahabaik. Dia tidak mungkin berbuat dzalim dan menyia-nyiakan hamba-hamba-Nya yang tulus mengabdi kepada-Nya siang dan malam. Hamba-Nya telah mengorbankan waktu santainya di rumah lalu melangkahkan kakinya untuk menuju masjid untuk mengerjakan shalat lima waktu. Hamba-Nya telah lebih memilih untuk membaca dan memperlajari Al-Qur’an dari pada menghabiskan waktunya untuk berbicara yang tidak bermanfaat atau menonton televisi. Hamba-Nya telah memilih untuk berpuasa sunnah dari pada menikmati hari-harinya dengan berlebih-lebihan ketika menyantap bermacam-macam makanan. Hamba-Nya telah mengorbankan sedikit waktu istirahat malamnya, dengan melawan air yang dingin ketika berwudhu untuk melakukan shalat tahajud. Hamba-Nya telah memilih untuk menggunakan akal dan hatinya untuk mengagungkan Allah dan mencintai-Nya dari pada mengagungkan dunia dan keindahannya. Dan kepada hamba-hamba Allah yang telah mengorbankan kesenangan dirinya demi diri-Nya, maka Dia akan menggantinya dengan kebaikan yang banyak dan berlipat-lipat.

Tiada yang melebihi kebaikan Allah Swt., sebab kebaikan-Nya tidak terbatas. Sungguh Allah tidak menunda pemberian upah atas ibadah hamba-Nya sampai di akherat nanti, tetapi Allah akan membalas ibadah yang telah dilakukan di dunia dengan kebaikan-kebaikan dunia. Bukankah Allah telah menganugehkan rezeki yang cukup kepada orang-orang yang baik? Bukankah Allah telah memberikan ketenangan kepada orang yang taat beribadah? Bukankah Allah telah mengkaruniakan orang mukmin dengan kenyamanan dalam menjalani hidup? Bukankah Allah selalu menjaga orang-orang shaleh dari hal-hal yang buruk? Bukankah Allah telah menghadiahkan kekasih-kekasih-Nya dengan kenikmatan berdzikir dan bemunajat, yang rasanya tidak bisa dibayar dengan apa pun?.

Sungguh Allah adalah Tuhan yang Maha Membalas kebaikan hamba-Nya dengan kebaikan pula, dan Dia senang kepada hamba yang mau mencontoh perbuatan-Nya itu. Apabila ia pernah dilindungi oleh seseorang, maka ia harus membalas untuk melindunginya ketika ia sedang membutuhkan perlindungan. Apabila ia pernah diberi oleh seseorang, maka ia juga harus memberinya ketika ia sedang membutuhkannya. Apabila ia pernah dijenguk oleh seseorang, maka ia juga harus menjenguknya ketika ia sedang sakit. Apabila ia pernah dihormati oleh seseorang, maka ia juga harus membalas untuk menghormatinya. Apabila ia pernah ditolong oleh seseorang, maka ia juga harus mau menolongnya ketika ia sedang memerlukan pertolongan, dst.

Rasulullah Saw. telah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan-keutamaan membalas budi baik orang lain. Inilah beberapa keutamaannya:

  1. Rasulullah Saw. sangat memperhatikan masalah balas budi, sehingga ia memerintahkan umatnya untuk melakukannya.

Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ اصْطَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَجَازُوْهُ، فَإِنْ عَجَزْتُمْ عَنْ مُجَازَتِهِ فَادْعُوْا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوْا أَنْ قَدْ شَكَرْتُمْ، فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ يُحِبُّ الشَّاكِرِيْنَ

Barangsiapa yang telah berbuat baik padamu, maka balaslah kebaikan tersebut dengan balasan yang setimpal. Jika kamu tidak bisa membelas kebaikan terebut, maka doakanlah orang tersebut, hingga kamu merasa telah berterimakasih padanya. Karena sesungguhnya Allah Mahasyukur dan menyukai orang-orang yang bersyukur. (HR Thabrani)

 

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

مَنْ أَعْطَى عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَى زُوْرٍ

Barangsiapa mendapat suatu pemberian dari orang lain, kemudian ia mampu membalas kebaikan tersebut, maka lakukanlah. Jika ia tidak mampu membalasnya, maka berikanlah pujian kepada orang yang berbuat baik tersebut. Karena dengan memujinya berarti ia telah berterimaksih kepadanya. Dan barangsiapa yang menyembunyikan pujian di dalam hatinya, berarti ia telah mengingkari kebaikannya. Dan barangsiapa yang berhias dengan sesuatu yang bukan miliknya, bagaikan orang yang tidak memakai pakaian (telanjang). (HR Tirmidzi)

  1. Orang yang mengucapkan terimakasih kepada orang yang berbuat baik padanya, berarti ia telah menghormati dan menyanjungnya.

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Jika seseorang berkata kepada orang lain (yang berbuat baik padanya), ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan’, maka ia telah benar-benar menyanjungnya.

  1. Orang yang mau berterimakasih kepada manusia adalah orang yang bersyukur kepada Allah Swt.

Rasulullah saw, bersabda,

إِنَّ أَشْكَرَ النَّاسِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَشْكَرَهُمْ لِلنَّاسِ

Orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah orang yang pandai berterimakasih kepada orang lain.

 

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah, orang yang tidak mau bersyukur/berterimakasih kepada manusia. (HR Ahmad, Thabrani)

 

Diriwayatkan dari Nu’man bin basyir Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat yang kecil, berarti ia juga tidak menyukuri nikmat yang besar. Dan barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada manusia berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Dan menceritakan nikmat Allah merupakan perwujudan dari rasa syukur. Dan menyembunyikannya merupakan bentuk pengingkaran. Bersatu adalah rahmat, sedangkan bercerai-berai adalah adzab. (HR Abdullah bin Ahmad, dalam kitab Az-Zawa’id)

 

Wallahu A’lam

 

 

Share.

Leave A Reply