Kemuliayaan Al-‘Arif Billah Al-Qutbul Wujud Sayyidinal Habib Ali Bin Muhammad Al-Habsyi

0

Dalam sebuah kesempatan Habibana Anis Al-Habsyi, Solo bercerita bahwa dahulu ada seorang Syaikh di Masjidil Haram Makkah yang dikenal sebagai Ahli Shalawat. Setiap nafas dan gerakan beliau selalu dalam bayang-bayang kemuliyaan Shalawat kepada Nabi SAW.

Kemudian datang seseorang dari Hadromut mendekati beliau. Berkata Hadromiy itu kepadanya: ” Ya Syaikh, Ijinkan saya membacakan sebuah shalawat dihadapan Tuan”,
“Marhaba … Silahkan ” Jawab Syaikh.

Hadromy itu kemudian mulai membaca sebuah Naskah Shalawat yang agung -yang termaktub di dalam Hizb Hari Jum’at di kitab Lathoiful Arsyiyyah -Shalawat buah karya Al-Habib Ali-,

Bunyinya: “Allohumma Sholli Wasallim ‘Ala Sayyidina Muhammadin Billisanil Jami’ah …. Fil Hadh Rotil Wasi’ah. Sholatan Tamuddu Biha Jismiy Min Jismih Waqolbiy Min Qolbih Waruhiy Min Ruhih Wasirriy Min Sirrih Wa ‘Ilmiy Min Ilmih Wa Amaliy Min Amalih Wa Khuluqiy Min Khuluqih Wa Wijhatiy Min Wijhatih Waniyyatiy Min Niyyatih Waqoshdiy Min Qoshdih Wata ‘U_Du Barokatuha ‘Alayya … Wa’ala Awladiy ….Wa’ala Ahliy …Wa’ala Ashabiy…Wa’ala Ahli ‘Ashriy
Ya Nur …Ya Nur …Ij’alniy Nuron Bihaqqi Nur ….

Ya Allah , semoga shalawat dan salam tercurah kepada Bagindaku Muhammad , ( shalawat yang diungkapkan ) dengan lisan yang mengandung seluruh kata-kata ( shalawat yang terucap ) didalam ( suasana ) kehadiran ( hati ) yang seluas-luasnya

Shalawat yang dengannya Jasadku terlimpahi ( kemuliaan ) dari Jasadnya ( Rasulullah ), Hatiku dari Hati Rasulullah, Ruhku dari Ruh Rasulullah, Sir ku dari Sir Rasulullah, Amalku dari amal Rasulullah, Pekertiku dari pekerti Rasulullah, Tawajjuh ( hatiku ) dari Tawajjuh Rasulullah, Niatku dari Niat Rasulullah, Tujuanku dari tujuan Rasulullah

Shalawat yang keberkahannya menaungi diriku , anak-anakku , keluargaku , para shahabatku dan para ahli jamanku …Wahai Allah Sang Cahaya … Wahai Allah Sang Cahaya …
Jadikan diriku bercahaya , berkah haq ( dan kemuliyaan Rasulullah Sang ) Cahaya …”
mendengar shalawat itu di aca , Syaikh tersebut seketika mengalami perubahan keadaan sprituaal yang membuatnya tidak dapat menguasai diri. Khaal yang datang menghinggapinya membuat tubuhnya melayang – layang ke angkasa. Para Hadirin pun terkesiap melihat apa yang ada di depan mata mereka.

Ketika shalawat selesai dibaca , Syaikh itu kembali turun ke bawah dengan sendirinya . Begitu dia dapat menguasai keadaannya , dia bertanya : ” Siapakah gerangan yang merangkai shalawat ini ? “, Hadromiy itu menjawab : ” Beliau adalah Guruku dari Kota Sewun , Sayyidiy Ali bin Muhammad al Habasyi …”.

Syaikh itu berbinar rona wajahnya dan seraya berkata : ” Layaklah , jika demikian…!
Saksikanlah, mulai saat ini akau akan menjadikan shalawat al Habib Ali ini sebagai wirid utamaku mengalahkan shalawat-shalawat yang lain yang biasa aku baca sebelumnya …”.

Habibana Anis meanjutkan: ” Saking dahsyatnya isi ” pengakuan-pengakuan ” Habib Ali dalam shalawatnya ini , sampai banyak para Arifin yang tidak berani mengucapkannya, takut apa yang diucapkan dalam shalawat ini tidak sama dengan keadaan spritual yang sebenarnya yang ada dalam diri mereka”.

Namun Habibana Anis tetap mengijazahkan shalawat ini kepada kami, “Niat membacanya sebagai niat ittiba’ dan tabarruk saja dengan Habib Ali”.

Keagungan Al-Habib Ali Al-Habasyi tidak diragukan lagi dimengerti oleh siapa saja yang hidup sejamannya atau yang hidup sesudahnya. Bahkan seseorang yang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, tanpa ragu memasukkan beliau dalam deretan Auliya yang dikenalnya.

Syaikh An Nabhaniy di dalam Jami’ Karomatil Auliya menulis tentang Habib Ali, singkatnya demikian :”Aku tidak pernah bertemu dengan beliau, tetapi aku sangat meyakini kewaliyan agung beliau “.

Antara Syaikh An Nabhaniy dengan Al Habib Ali yang hidup satu jaman memang hanya pernah berhubungan murosalat , korespondensi saja . Bertemu langsung tidak pernah . Tetapi tidak menghalangi beliau memasukkannya dalam Tabaqhat Auliya yang di tuliskannya.

Suatu saat, dalam sebuah majlis diungkapkan sebauh mimpi seorang Ahlillah. Tersebut di dalam mimpi tersebut : “Jakfar bin Hamid mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan Beliau Rasulullah SAW berkata Ali Alhabsyi, amal perbuatannya dan amal perbuatan para muridnya semua di terima oleh Allah Ta’ala “.

Mendengar itu, maka seorang Auliya’ besar , al Allamah di jamannya Shahibul Anfas Al Habib Ahmad bin Hasan al Athas berkata: ” jika demikian, maka mulai saat ini kami ini adalah murid-muridmu , Wahai Ali “, Al Habib Ali menjawab : ” Kalian semua adalah murid-muridku “.

Dan kita semua tentu berharap menjadi bagihan dari murid-murid beliau . Bagihan dari segolongan Ummat yang di terima amal-amalnya .

Disaat menerangkan tentang permasalahan ini , dihadapan para Muridnya Habibana Salim bin Abdullah As Syathiriy berkata :” Al Habib Ali al Habasyi mendapatkan kedekatannya dengan Baginda Rasulullah itu langsung tanpa perantara ( bighoiri washilatin ) . Dan Ayahku , al Walid Abdullah bin Umar mendapatkan kedekatan itu melalui perantara al Habib Ali . Sedangkan diriku mendapatkan kedekatan itu melalui Ayahku ..”.

Para Murid bertanya : ” Bagaimana dengan kami , Ya Habib Salim . Melalui siapa gerangan kami dapat memperoleh kedekatan dengan Baginda Nabi SAW ?”. Habibana Salim as Syathiriy menjawab : ” Kalian dapat memperoleh kedekatan itu dengan melalui perantara diriku …”.

Semoga kedekatan dengan baginda nabi Muhammad SAW juga kita dapatkan berkat mencintai orang-orang yang dekat dengan baginda nabi Muhammad SAW, Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply